Membaca tulisan singkat ini, tak perlulah serius-serius amat. Mandi dulu. Ngopi dulu. Sarapan dulu. Anggap saja ini semacam igauan mahasiswa frustasi dengan nilai IPK yang segitu-gitu aja.

Di pagi senin yang mulai terik, sang adicahaya kian merangkak naik. Di sebuah tikar usang –akibat kasur yang dimilikinya diberaki anak kucing, dengan mata merah, mahasiswa itu bangun dari tidurnya yang singkat. Betapa tidak, sudah satu bulan terakhir ia terindikasi mengidap insomnia akut. Tak jarang, jika tidak pukul 3 atau 4, maka sehabis salat subuh barulah ia benar-benar dapat terlelap.

Kampus, hari ini, baginya bukan lagi hal yang menyenangkan. Suasana kampus tak lagi ramah seperti sebelum-sebelumnya. Lebih-lebih jika harus dibandingkan dengan saat kali pertama ia berangkat menuju kampus setelah lulus beasiswa dengan hati yang tak hanya berbunga-bunga, namun “berpohon-pohon” (atau apa pun kata yang dapat mewakili selain itu, yang justru malah membuatnya terkesan aneh).

Baru semester kemarin ribut-ribut soal pelarangan udud di area kampus, dan hari ini, merupakan minggu pertama tarif parkir kendaraan bermotor dinaikkan, yang semula lima ratus perak, kini mejadi seribu rupiah. Suasana semakin keruh.

Belum lagi soal jarak lahan parkir baru (atas dasar tujuan mulia, yakni demi terciptanya lahan parkir tertata dan tertib, sehingga tidak mengganggu pengguna jalan, lelaki itu sepakat untuk kebijakan tersebut walau masih agak setengah hati mengatakan setuju) yang tak bersahabat dengan beberapa fakultas, membuat beberapa mahasiswa, termasuk ia sendiri, tak ubahnya seperti zombie yang lunglai menuju kampus.

Sebatas pantauannya di media sosial dan hasil iseng-iseng bertanya, reaksi berbagai kalangan mahasiswa cukup beragam. Sebagian fine-fine saja, toh hanya bertambah gope, tak apalah, tak sampai membuat jatuh miskin. Sebagian lain, merasa masa bodoh.

Celetukan-celetukan mereka tak kalah beragam, “Lah gue ngampus jalan kaki kok, tarif parkir naik, ya bukan urusan gue.” Di lain tempat, seorang mahasiswi, dengan napas terengah, berujar: “Kalo gue ngangkot ke kampus, plis jangan tanya-tanya gue soal parkiran. Ga tau!”

Dan sebagian lain yang terakhir –ini paling terbanyak, termasuk beberapa aliansi mahasiswa, baik internal maupun eksternal kampus, yang sejak lama menjadi “kubu seberang” para petinggi-petinggi kampus, menganggap bahwa pihak rektorat telah melakukan komersialisasi terselubung, dengan bermacam-macam dalih, terhadap lembaga pendidikan tinggi.

Soal kenaikan tarif ini, tentu saja tak dapat dengan mudah diterima oleh sebagian kalangan, jika kita bercermin pada universitas besar lain yang secara cuma-cuma menyediakan lahan parkir bagi mahasiswanya.

“Lah orang kita sudah bayar semesteran, mosokyo dibebani lagi dengan bayar parkir,” ungkap salah seorang mahasiswa di sela-sela jam istirahatnya dengan bernaung di bawah pohon rindang, ketika melakukan aksi penolakan system e-parking di depan Rektorat.

Tak dapat dielakkan, kebijakan ini menimbulkan berbagai penolakan keras dari banyak kalangan, salah satunya, tentu saja: Mahasiswa.

Bukan hanya soal nominalnya (meskipun, itu juga termasuk alasan kuat), namun, soal transparansi dana keuangan yang tak pernah dipublikasikan secara terbuka kepada khalayak yang menjadi problem utama. Padahal, jika saja mereka mau sedikit terbuka, dengan memberikan penjelasan yang logis dan berani mempertanggungjwabakan secara penuh, tentu tidak akan terjadi reaksi pertentangan dari berbagai kalangan.

Kampusnya, jika sekilas berlalu, terlihat baik-baik saja. Tetapi “luka dalam” yang sedang bersemayam dalam tubuhnya mesti lekas diberi obat penawar.

Mahasiswa itu menarik selimutnya kembali, belum hilang betul rasa kantuk yang menggelayuti kelopak matanya. Meskipun baru semester kemarin ia diperingatkan oleh Kaprodi fakultasnya agar supaya lebih serius belajar dan mengisi absen demi mendongkrak nilainya yang belakangan ini, sungguh berada di ujung tanduk. Namun, barangkali karena ia yang sudah kepalang kehilangan semangat, ia tak juga menggubris “jeweran” tersebut.

Entah. Nampaknya kampus tak lagi cukup menarik hatinya, kecuali untuk sekadar ngopi-ngopi atas undangan kawan-kawan diskusinya, atau ia lebih memilih duduk menyendiri di saung depan perpustakaan utama lantai tiga, demi koneksi wi-fi gratisan.

Merlion, 3 April 2016