Ketenangan di saat-saat kritis adalah sebuah seni. Indah, memukau dan mungkin akan membuat seseorang jatuh cinta. Mari kuceritakan sebuah kisah tentangnya.

Itu terjadi di sebuah lembah berhutan tropis. Dedaunan hijau mengkilap, masih basah oleh sisa-sisa air hujan pada penghujung musim. Pokok-pokok pohon raksasa, sulur-sulur rotan, lumut di bebatuan dan semak-semak pakis terlihat menawan berseri-seri.

Itu adalah masa ketika hutan menguarkan bebauan segar. Bebauan yang  membelai penciumanmu lalu mengendap di dasar hati dan sewaktu-waktu akan menyiksamu karena merindukannya.

Seorang gadis berjalan sendiri. Nafasnya teratur, tak terkesan buru-buru. Langkahnya kecil-kecil, teratur, mengarah ke dasar lembah. Lembah yang indah, dibelah oleh anak sungai berair jernih. Dikelilingi dinding kaldera gunung yang menggetarkan tapi memukau.

Si gadis mendadak berhenti melangkah. Sadar telah salah mengambil arah. Jantungnya berdetak kencang saat matanya selesai memindai sekeliling. Dia tahu telah tersesat jauh dari jalur yang telah dihafalnya.

Hutan disekelilingnya tidak tampak berseri-seri lagi. Kini pendengarannya menangkap suara-suara serangga mendenging. Juga suara-suara asing kepekatan hutan yang terasa menekan syaraf di balik pelipisnya. Wajahnya seketika menegang, tengkuknya meremang.

Duduk di sebongkah batu berselimut lumut tebal, si gadis pelan-pelan meneguk teh melati dari tumbler almuniumnya. Masih hangat, menjalari kerongkongan dan perlahan menjauhkan ketegangannya. Perlahan pula dia mengutuki diri karena telah bertingkah sombong. Tidak membawa peta dan kompas dan tidak mencari kawan seperjalanan.

“Oke, baiklah”, putusnya setelah cukup merenung. “Susuri kembali arah semula, jejak-jejakku pasti belum hilang.”

Tapi kenyataan memang selalu mengecewakan. Hasil selalu berjarak jauh dari rencana. Entah bagaimana, menyusuri kembali jejak-jejak yang dibuatnya sendiri, malah membawanya ke sebuah penderitaan baru. Betapa hidup kadang terasa sangat menyebalkan.

Menyusuri jejak-jejaknya sendiri, akhirnya si gadis menangkap dengan matanya sebuah tanda yang memberitahu bahwa dia akan tiba sebentar lagi di jalur yang semestinya. Kegembiraan meluapinya.

Tidak sadar kakinya melangkah cepat lalu berlari. Kemudian, sreeet, sreeet. Lengan kanannya terasa perih dan panas. Darah mengucur. Deras, mengikuti irama degup kencang jantungnya akibat kegembiraan yang tadi meluapi perasaannya.

Kegembiraan yang membuatnya ceroboh dan abai  pada sekelilingnya. Matanya gagal menangkap pemandangan rerimbunan sulur-sulur rotan, hingga kakinya menjejak di tengah-tengah rerimbunan berduri tajam dan runcing itu. Si gadis terperangkap.

“Oh, sialan. Kenapa juga ada hutan rotan di sini?” runtuknya. Dicobanya melangkah maju, tapi sulur rotan muda membelit kakinya. Hendak menunduk melepaskan belitan itu, namun ternyata ada duri tajam membenam di pangkal lengan kemejanya.

Lalu sreeet, pangkal lengan kemeja itu koyak. Segores luka baru tertoreh pada kulit di bawah bagian kemeja yang koyak itu. Darah menetes lagi. Tidak banyak tapi cukup untuk mengantarnya menuju ambang kepanikan.

Dia terdiam mematung. Pikirannya terasa buntu. Tidak mampu lagi dipikirkannya suatu cara untuk melepaskan dirinya dari belitan. Kepanikan perlahan terus mejalari perasaannya.

Dicobanya untuk mempertahankan ketenangannya. Gagal. Pertahanannya jebol, air mata membanjir. Tapi tangis itupun terasa tidak cukup untuk meluapkan emosi-emosi yang kini menguasainya.

Dia mulai mengomel, mengumpat, memaki kemudian berteriak parau, meminta pertolongan. Berharap seseorang, seseperi atau bahkan sesedemit mungkin mendengarkan dan bersedia datang membantunya. Tapi hanya kesiur angin yang menjawab teriakannya.

Satu hal yang menguntungkan bahwa cuaca saat itu sedang bagus dan gelap belum waktunya datang. Sinar matahari senja yg menerobos celah atap hutan membentuk larik-larik cahaya lembut. Tak berwarna jelas tapi indah, hangat dan membius.

Menangkapnya dengan penglihatan yang sesekali awas sesekali lengah, memberikan semacam efek sedatif.

Tangis si gadis berangsur terhenti. Mulutnya menganga terbuka namun suaranya terpenjara dibawah kerongkongan.

Lalu pelan-pelan kesunyian meyusup, memainkan melodi jahat dan mantra yang memanggil rasa takut. Hiiiiiyy, dia  bergidik takut dan kepanikan kembali menjalarinya.

Seperti kesurupan, dia meronta. Hal mana membuat keadaannya bertambah buruk. Sulur-sulur rotan semakin erat memeluknya. Duri-duri tajam menambah luka di kulitnya.

Lalu.

" Heyyy!!"

Satu suara keras menghentikan tingkah kesurupannya. Menoleh ke arah datangnya suara, tampak sesosok pria mengenakan bandana biru terang berdiri di seonggok pohon tumbang, sekitar 40 langkah darinya.

"Kau tidak akan ke mana2 kalau terus meronta begitu. Luka-lukamu akan makin parah sampai akhirnya kau mati kehabisan darah di situ". Sosok itu melangkah mendekat, kemudian berhenti pada jarak sekira 20 langkah.

“Pak, tolong. Bantu saya. Luka-lukanya perih sekali. Saya tidak bisa melepaskan diri”. Si gadis masih terisak dan masih takut-takut. Dicobanya menelisik sosok di depannya. Manusia kah? Atau jangan-jangan setan?

"Hehe, dengar ya , saya tidak akan ke situ untuk menolongmu. Saya tidak mau terbelit rotan juga”. Pria itu tersenyum, tapi tampak menyebalkan.

“Sepertinya dia setan”, pikir si gadis. Ketakutan menjalarinya kembali.

“Tapi saya bisa membantumu dari sini. Sebenarnya, kau bisa menolong dirimu sendiri. Tuhan sudah memberimu akal dan pikiran. Kau hanya perlu mengoperasikannya. Tapi tentu tidak bisa kalau kau terlalu panik dan takut. Jadi pertama-tama, tenangkan dulu dirimu. Oke?"

“Ah, dia mungkin manusia”, si gadis berubah pikiran, mengangguk pelan dan menarik nafas panjang. Merasa siap menerima bantuan sosok yang entah manusia entah setan itu.

"Kau bisa lepas dari situ kalau kau mau menari. Kau pernah melihat penari balet kan?" . Pria itu tersenyum sambil mengedipkan matanya. Terlihat sedikit nakal.

Kriik kriik kriik. Hening. Angin bertiup pelan, menyapu kebuntuan pikiran. 

"Ya, tentu, kau benar! Hah, betapa gobloknya diriku!". Si gadis berseru, menahan nafas sesaat, sulit  mempercayai kegoblokannya.

Segera dikumpulkannya keyakinan diri dan ketenangannya. Matanya mulai bersinar dan senyumnya merekah seperti kuncup bunga di pagi hari. Ketika puncak ketenangan terasa telah didapatnya, mulailah dia menari.

Pelan dan sangat hati-hati dia mendorong tubuhnya ke belakang, bergerak sedikit ke kiri, lalu meliuk pelan ke arah depan. Beberapa duri terlepas. Diulanginya lagi, duri-duri terlepas lagi. Lengannya terbebas dari kaitan duri dan belitan sulur.

Kini dia bisa menarikan puncak tariannya. Dua tangannya terangkat, tubuhnya berputar dan meliuk hati-hati. Gemulai membujuk rayu sulur-sulur rotan agar rela melepaskan belitannya. Tangkas menggoda duri-duri tajam agar bersedia mengendorkan cengkeramannya. Dan si gadis akhirnya terbebas.

Pria yang menonton tarian itu dari jarak 20 langkah, berdiri terpaku di tempatnya. Ia seperti diterpa sihir.

Imajinasi mempermainkan dan mengolok-oloknya. Sampai ia merasa tengah melihat peri hutan bermata cemerlang, menari dalam berkas cahaya matahari sore yg lembut, hangat dan memabukkan. Ia merasa jatuh cinta.

“Gawat!” bisiknya kepada pohon tua disampingnya. Pohon tua itu terkekeh.