1 bulan lalu · 113 view · 3 min baca · Politik 39747_26902.jpg
Foto: maxres

Tarian Perdana PSI

PSI akan menari di bulan Agustus. Agustus adalah bulan pelantikan anggota DPR-D terpilih yang sudah dicoblos nama masing-masing mereka di bilik suara saat pemilu serentak 2019.

Beberapa anggota PSI akan dilantik untuk mengisi kursi-kursi DPR-D yang ada di beberapa tempat. Penulis akan memfokuskan hal ini untuk dapil penulis, yakni Sulawesi Utara, dan ibu kota DKI Jakarta.

Untuk daerah Sulawesi Utara, ada satu anggota PSI yang terpilih mengisi kursi DPR-D tanah Minahasa. Memang hanya satu, tapi harapan penulis untuk PSI sangatlah besar. 

Memang untuk besaran kursi, PSI hanya mendapatkan satu tempat saja di DPR-D Sulawesi Utara. Ada sebuah quote yang sangat baik: One man with one truth, is majority.

Saya percaya, di bumi Minahasa, kalau ada orang yang memegang teguh kepada kebenaran dan kebaikan kepentingan rakyat, di sanalah ada harapan besar yang tertanam. Harapan itu seperti benih yang tertanam. Kalau ia tertanam di tanah yang subur, tentu akan berbuah lebat. Sekecil apa pun bibit itu.

Penulis percaya, tanah Minahasa adalah tanah yang “subur” untuk menanam benih-benih Pancasila yang mengedepankan seluruh sila yang tertulis di dalam hati mereka. Semangat toleransi, semangat memperjuangkan hak-hak rakyat banyak, semangat antikorupsi, dan semangat mengedepankan kejujuran dan kepatuhan terhadap bangsa ini bisa bertumbuh dengan sangat subur di sana.

Penulis percaya bahwa satu orang caleg PSI terpilih ini bisa menjadi benih yang tertanam di tanah Minahasa yang begitu subur.


Penulis agaknya percaya dalam pembentukan kepribadian dan pengetahuan penulis tentang sesuatu hal yang mungkin dianggap mistis oleh kebanyakan kita. Akan tetapi, penulis memahami betul bahwa apa yang terkadang dianggap orang mistik adalah sebuah hal yang bisa dijelaskan secara baik.

Misalnya konsep mengenai tanah. Memangnya tanah di Minahasa berbeda dengan tanah yang lain? Sama-sama mengandung besi, kompos, ada makhluk hidup yang menggemburkan tanah, dan sebagainya.

Mungkin perbedaan hanya kadar komposnya. Kalau mau bicara kesuburan, tidak hanya tanah ini yang subur, ada juga tanah lain yang bahkan lebih subur.

Pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin bisa dijawab seperti ini. Penulis melihat bagaimana tanah Minahasa ini berbeda. Tanah ini memiliki sebuah kandungan yang tidak terlihat oleh mata. Kandungan kasat mata ini adalah kandungan yang bersifat spiritual, juga sosial.

Tanah yang penulis maksud pun bukan tanah dalam artian biologis ataupun menempatkan tempat secara spatial. Akan tetapi, tanah yang penulis maksud adalah kesuburan secara tak kasat mata.

Beberapa elemen kesuburan tanah ini adalah kesuburan bersosial. Minahasa adalah rumah bagi semua orang. Di sanalah setiap perbedaan diterima dengan lapang. Asalkan ada aturan-aturan dan kaidah yang mereka jalankan.

Misalnya, tetap setia dengan NKRI dan Pancasila, menjunjung tinggi adat dan adab, dan sebagainya. Maka di sana PSI akan menjadi sebuah benih yang bisa bertumbuh.

Lantas, bagaimana dengan Jakarta? 

Sebagai ibu kota, agak mengejutkan ketika penulis menerima data bahwa jumlah caleg yang lolos di DPR-D DKI Jakarta adalah 8 orang. Ini adalah jumlah yang lumayan banyak. Kalau satu saja cukup di Tanah Minahasa, tentu 1 tidak akan cukup di Jakarta, dengan segala kompleksitas yang diberikan dan muncul.

Kerusakan di DKI berbeda kadarnya dengan di Sulawesi Utara. Kerusakan di DKI ini benar-benar terstruktur, sistematis, dan masif. Kompleksitas dari penanggulangan masalah pun berbeda sangat jauh. Meski secara luas area DKI Jakarta jauh lebih kecil ketimbang tanah Minahasa.


Akan tetapi, berbicara tentang kepadatan penduduk, tentu Jakarta lebih padat. Selain kepadatan, masih banyak sekali hal yang perlu dibenahi.

Selain kepadatan penduduk, Jakarta sebagai pusat ekonomi dan pusat pemerintahan Indonesia tentu harus diperhatikan lebih lagi. Banyak PR dan tugas-tugas besar yang belum selesai dan perlu dibenahi. Berbagai komisi pun memiliki kesulitan masing-masing.

Di sana ada komisi bagian pendidikan dan juga ada komisi D bagian infrastruktur. Beberapa komisi yang disebut juga sebagai lahan basah pun menjadi incaran para petugas partai dan para legislator yang akan dilantik.

Tugas PSI ini sebenarnya sangat berat. Tugas PSI ini bukan hanya mengawal pemimpin yang lucu, tapi juga mengawal mereka masing-masing. Tugas mereka sangat berat.

Tugas Viani Limardi sebagai legislator terpilih di DKI Jakarta sangat berat. Tugas dari 7 rekan Viani ini sangat besar. Tapi bagaimana pun juga, ada di tangan merekalah hari depan DKI Jakarta.

Akankah mereka mewakili orang-orang yang ada di Jakarta, atau justru malah mewakili kepentingan segelintir orang yang sudah berjasa bagi mereka? Kalau bicara jasa, tentu ini urusan warga Jakarta, bukan kepentingan para pengusaha saja.

Semoga saja mereka amanah. Kita lihat saja, apakah tarian perdana mereka bisa mereka jalankan dengan baik atau tidak.

Saya cukup optimis, keberadaan Viani Limardi dan ketujuh caleg lainnya bisa menggemparkan dunia persilatan di dalam kursi DPR-D. Jika mereka berhasil di regional, kami akan percayakan mereka secara nasional. Ayo PSI, gaspol dan jangan kendur!

Artikel Terkait