Researcher
4 bulan lalu · 105 view · 8 min baca menit baca · Budaya 79291_54104.jpg
Gus Dur (IDN Times)

Tarian Islam di Atas Karpet Putih

Refleksi Pemikiran dan Aksi Gus Dur untuk Kebinekaan Indonesia*

Akhir-akhir ini menyeruak keprihatinan yang mendalam di tengah masyarakat tentang menguatnya intoleransi, kekerasan, ujaran kebencian, serta pelintiran bermotif agama. 

Terutama hal ini ditopang oleh teknologi informasi yang sulit—untuk tidak dikatakan tidak bisa—dikendalikan. Situasi tersebut berlawanan dengan watak dan kesan dari karakter bangsa Indonesia yang toleran, santun, hormat kepada lian (others), dan gotong royong.

Dalam perspektif post-truth, teknologi informasi, khususnya media sosial, tidak hanya tidak bisa dikendalikan, melainkan telah meruntuhkan seluruh otoritas tradisional dan modern, baik budaya, agama, hingga bahkan ilmu pengetahuan dan negara atau apa yang oleh Nichols (2017) disebut sebagai the death of expertise dan the demise of the nation-state (Dasgupta, 2018).

Dalam lanskap politik dan kebangsaan Indonesia juga sedang berubah secara mendasar. Dengan meminjam varian Ricklefs sebagai Abangan dan Putihan, atau tiga varian Clifford Geertz sebagai Priyayi, Abangan, dan Santri. Ketika varian, baik oleh Ricklefs maupun Geertz, dibangun, situasi Indonesia berada di atas karpet keagamaan Abangan.

Namun, Indonesia kini berubah dengan apa yang oleh Bob Hefner (2018) disebut sebagai whiter religious field (karpet agama yang kian memutih). Jadi perubahan bukan hanya dalam demografi dan perilaku, melainkan karpetnya sendiri berubah menjadi putihan

Perubahan karpet ini seolah memberikan ruang bagi maraknya konservatisme, intoleransi, dan lainnya. Bagaimana menjelaskan perubahan tersebut dan bagaimana antisipasinya?

Menurut Hefner, makin putihnya karpet agama di Indonesia itu tidak identik dengan menguatnya konservatisme dan radikalisme. Karena bersamaan dengan itu, juga terjadi penebalan lapisan kelompok-kelompok pro-keragaman dan pluralisme di dalam kelompok-kelompok ‘pemutih’ karpet tersebut. 

Hefner menunjuk dua kelompok yang kian mencolok di dalam dinamika Muslim Indonesia mutakhir, yaitu gejala adreng-nya kelas menengah Indonesia, terutama perkotaan, terhadap sufistik dan meningkatnya kesetaraan perempuan dalam berbagai lapangan kehidupan.

Islam sufistik tidak saja sejak semula berkarakter terbuka dan akomodatif terhadap yang lain, melainkan juga memperjuangkan keterbukaan untuk membuka space bagi dirinya. Dalam waktu yang cukup lama, mereka mendapatkan serangan dan upaya menutup ruang ekspresi dari para modernis yang menuduhnya sebagai klenik dan membuat masyarakat malas dan antimodern.

Di tempat lain, Hefner juga menunjukkan fakta bahwa sekolah-sekolah agama Islam kini cenderung didominasi atau setidaknya 50 persen perempuan—hal yang tidak terjadi sebelumnya. 

Seiring dengan itu, banyak muncul aktivis feminis di dalam Islam. Mereka memperjuangkan kesetaraan perempuan di dalam masyarakat dan doktrin Islam. Bahkan tidak jarang mereka berhadapan dengan kelompok dominan dan konservatif dalam komunitas Islam itu sendiri.


Kini, kita dengan mudah bisa menemukan pemimpin politik Muslim atau birokrat dan profesional perempuan dengan penampilan “aksesori Islam”, tetapi memiliki pandangan jauh ke depan dan terampil dalam menggerakkan pelayanan publik yang baik dan non-diskriminatif.

Jika kita luaskan amatan, kita bisa temukan banyak fakta yang sama. PDI-P, misalnya, partai yang sampai sekarang masih dicap sebagai gudangnya abangan, sudah beberapa lama menkreasi sayap Islam di dalam kepengurusan dengan nama Baitul Muslimin. Partai Golkar di beberapa daerah bahkan menginisiasi Perda Syariah dan menonjolkan simbol-simbol Islam.

Di samping itu, kini kita dengan mudah menemukan para pejuang hak-hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan demokrasi berlatar belakang dari kalangan santri atau putihan dan sehari-hari mereka menggunakan simbol Islam di ruang publik seperti jilbab dan baju koko.

Kita patut bersyukur bahwa kita memiliki tokoh-tokoh pemikir dan aktivis marcusuar seperti Gus Dur, Cak Nur, dan Buya Syafii. Mereka tidak saja gigih untuk mencari jalan tembus dari kementokan yang terjadi akibat perubahan-perubahan sosial politik, melainkan secara intelektual juga memberikan khazanah yang sangat luas untuk kita.

Cak Nur meninggalkan legacy model kajian-kajian yang sangat kaya tentang keislaman dan komitmen-komitmennya untuk tak diragukan lagi akan keindonesiaan. Kajian-kajian tersebut terutama berbasiskan pada literatur keislaman babon yang sulit untuk dicari bandingannya.

Gus Dur dan Buya Syafii mungkin lebih besar bobot aktivismenya, namun semua itu dilengkapi dengan argumen-argumen yang canggih dan literatur yang mendalam. Meski demikian, seluruh argumen-argumen tersebut bisa dibaca dalam karya-karya mereka.

Tidak mudah juga rasanya untuk mencari penerus yang sepadan dengan keduanya dari komunitas mereka sekalipun. Perbedaan antara Cak Nur dan Buya Syafii dengan Gus Dur barangkali adalah: di samping literatur klasik keislaman, juga kepeduliannya yang tinggi terhadap literatur lokal, legacy dari dinamika Islam dan lokalitas di Nusantara masa lalu. 

Gus Dur dalam berbagai presentasi dan tulisan-tulisannya sering mengacu pada cerita dan kitab lokal seperti Serat dan Babad dan sejarah keraton-keraton serta cerita wayang yang menjadi legacy luar biasa bagi kehidupan budaya kita.

Jika kita sedikit meluaskan amatan ke belakang lebih jauh, maka kita akan menemukan berbagai tokoh dan literatur yang lebih kaya. Pangeran Diponegoro, misalnya, yang oleh Ricklefs (2006) disebut sebagai tokoh terakhir dari pemikir dan pengamal mystic synthesis, diceritakan membaca kitab-kitab Islam klasik babon yang beredar di Jawa ketika itu, seperti Ihya Ulumuddin dan Al Hikam—untuk menyebut sangat sedikit di antaranya—di samping, tentu saja, Serat dan Babad yang sudah terbit sebelumnya. Mystic synthesis ini harus kita pahami dalam perspektif tasawuf yang memang kala itu sedang adreng.

Mystic/mistik dalam khazanah tasawuf adalah bathin atau qolb atau hati: suatu pengetahuan yang tidak cukup hanya diraih dengan rasio dan fisik, melainkan harus melibatkan hati dan batin. Khasanah pemahaman tasawuf itu bertemu dengan tradisi kepercayaan Jawa yang juga lebih menekankan pada kedalaman dan amalan. Sehingga tradisi keagamaan tasawuf bertemu dengan tradisi keagaman Jawa.


Setidaknya, sejak abad ke-14 hingga abad ke-19, sebagaimana disebut oleh Ricklefts, dinamika intelektual di Jawa, juga Nusantara pada umumnya, didominasi oleh pertemuan atau titik temu tradisi tasawuf dan kepercayaan lokal yang sangat mendalam.

Karena penindasan penjajahan sejak awal abad ke-19 dengan sentralisasi penjajahan sejak Daendels dan Tanam Paksa (cultuurstelsel) pasca Perang Diponegoro atau Perang Jawa, kemudian dilanjutkan dengan politik etis.

Namun politik etis itu hanya berorientasi pada elite, kalangan bangsawan, dan karyawan penjajahan. Dan di lain pihak, arus pemikiran keislaman modernisme dari Timur Tengah yang dominan, sehingga seluruh orientasi gerakan dan pemikiran, temasuk pemikiran Islam, mengacu pada modernitas dan bahkan melakukan pemberantasan terhadap pemikiran klasik Islam dan lokalitas tersebut.

Dengan semboyan “kembali kepada Alquran dan Hadis” yang sesungguhnya bagian dari propaganda penjajahan dan modernisme, para pemikir dan aktivis Islam memberantas teman-temannya, bahkan dengan kekerasan dan kebencian, serta mencabut akar keislaman lokal. Dan hal itu masih berlangsung hingga kini.

Sekali lagi, kita beruntung dengan kehadiran tiga tokoh mercusuar yang saya sebut di atas tadi. Mereka, dan juga beberapa yang lain, telah memberikan semacam kompas dan metode-metode menembus jalan kemacetan serta tujuan dan agenda utama seperti kebinekaan, toleransi, dan kesatuan bangsa.

Bagaimana legacy mereka harus kita lanjurkan? Kita perlu memunculkan lagi debat di antara kita yang hendak meneruskan legacy mereka. Dan tidak cukup hanya saling memuji dan toleransi.

Debat adalah salah satu wahana mencerdaskan kita sendiri dan masyarakat. Cak Nur dan Gus Dur tidak selalu sejalan dalam berbagai pemikiran dan aksi di antara keduanya. Tetapi, di balik perbedaan itu, ada agenda mencerdaskan dan saling memperdalam pengetahuan satu sama lain.

Perdebatan di masa lalu jauh lebih keras dari sekarang. Ketegangan antara pendekatan sufi vs syariah di Jawa memunculkan cerita tentang hukuman mati bagi Syekh Siti Jenar dan Syekh Mutamakin dan lainnya, mirip dengan cerita Syekh Al Hallaj dalam khazanah Islam universal. Itu menandakan bahwa di samping ada titik temu dan blended, juga ada perdebatan yang keras. 

Kini, cerita-cerita itu ditempatkan sebagai sesuatu yang mistik dalam arti negatif. Tidak ada sama sekali astar-nya di era ini. Perubahan karpet dari abangan ke putihan, misalnya, perlu diurai lebih jauh. 

Setidaknya, dalam khazanah Islam Nusantara—menarik untuk diperdebatkan—di mana saya ikut terlibat di dalamnya, adalah mengeksplorasi kembali capaian-capaian yang sudah ada di masa lalu yang sangat jauh hingga kontemporer. Apa yang dilakukan ketiga tokoh tadi tak terhingga kontribusinya, tetapi baru memberikan semangat, arah, agenda, dan fondasi, dengan masih menyisakan bahan-bahan mentah yang mahakaya dan dahsyat.

Dalam Islam Nusantara, sedang dikembangkan suatu metodologi yang merupakan legacy dari Ahlussunnah wal Jamaah atau ASWAJA. Beberapa ciri di antaranya: suatu metodologi yang menempatkan kebenaran bukan pada kekuasaan dan ketokohan, melainkan kepada keabsahan metodologi dan keakuratan data untuk kemudian dikontekstualisasikan dengan tuntutan kontemporer.

Eksperimen saya dalam menelusuri penyelesaian dan perdamaian Aceh dan Papua di era Presiden Gus Dur, misalnya, memperlihatkan bahwa kontekstualisasi metodologi ASWAJA membawanya pada langkah yang sangat jauh ke depan, yaitu “kewarganegaraan bineka” atau dalam khazanah ilmu sosial umumnya disebut sebagai cultural dan multicultural citizenship.

Capaian itu tanpa harus mengubah paradigma Islam sebagaimana yang dilakukan Barat atas agama Kristen: sekularisme atau sekularisasi. Langkah ini, di satu pihak, memberikan konter terhadap pemikiran dan gerakan Islam yang abai atau bahkan anti-metodologi; di lain pihak, memberikan landasan bagi perubahan karpet keagamaan yang makin putih itu.


Tantangan post-truth mungkin yang paling serius saat ini. Sesungguhnya tantangan itu lahir sebagaimana lahirnya ASWAJA ketika kebenaran Islam tergantung kepada kekuasaan, dan kekuasaan menindas paham dan aliran lain serta berperang antar-kerajaan untuk kebenaran yang diklaimnya: semacam anarkisme total. Jawabannya adalah terbangunnya metodologi yang kontekstual atas keislaman.

Alquran dan Hadis yang ada sekarang adalah hasil dari pergulatan keilmuan dengan didasarkan pada metologi yang absah dan data akurat dari raw materials zaman anarkistis tersebut. Bagaimana mungkin keduanya digunakan dengan dilepaskan dari konteks historis dan metodologisnya?

Karena itu, kita perlu terus mengasah tarian kita ketika karpet tempat menari itu tengah berubah menjadi kian memutih.

*Paper disampaikan pada Kajian Titik-Temu ke-46: “Mengembangkan Pikiran Pembaru Islam di Tengah Menguatnya Eksklusivisme Keagamaan” oleh Nurcholish Majid Society, Aula Gedung Grha STR Lt. 4, Jakarta, 21 Februari 2019.

Bahan Bacaan:

  • Carey, Peter, Asal Usul Perang Jawa: Pemberontakan Sepoy dan Lukisan Raden Saleh, terj., Yogyakarta: LKiS, 2001.
  • --------, Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855), terj. Th Bambang Murtianto & P.M. Laksono, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2014. Cet. Ke-5. 2017.
  • Dasgupta, Rana, “The Demise of the Nation State,” The Guardian, 5 April 2018.
  • Hefner, Robert W. (ed.), Routledge Handbook of Contemporary Indonesia, N.Y.: Routledge, 2018.
  • Nichols, Tom, The Death of Expertise: The Campaign against Established Knowledge and Why it Matters, N.Y.: Oxford University Press, 2017.
  • Ricklefs, M. C., Mystic Synthesis in Java: A History of Islamization from the Fourteenth to the Early Nineteenth Centuries,  Signature Books. Norwalk, CT: EastBridge Books, 2006.
  • Suaedy, Ahmad, Gus Dur, Islam Nusantara dan Kewarganegraan Bineka: Penyelesaian Konflik Aceh & Papua 1999-2001, Jakarta: Gramedia, 2018.

Artikel Terkait