Kalau kau ada waktu, sesekali mampirlah ke desaku. Batuan namanya, sebuah desa tua di daerah Gianyar, Bali.

Batuan dikenal sebagai desa seni. Di sini, hampir semua orang bisa menari, atau melukis, atau memahat.

Di sini aku lahir, dan belajar berjalan. Ibuku sering kudengar nembang sambil menggerakkan jari dan matanya (khas gerakan tari Bali) bahkan saat menggoreng sambal di dapur, atau saat menganyam janur untuk keperluan upacara.

Bapakku pintar mendongeng dan main seruling. Waktu kecil, aku sering terlelap dalam buaian dongeng dan alunan indah tiupan seruling bapak (dan konon, dengan tiupan seruling inilah dia mampu menaklukkan hati ibu).

Namun, meski akrab dengan dunia seni, aku sama sekali tidak pintar menari. Kamu tau sebabnya? Sangat sepele; gara-gara Tari Kodok.

Begini kisahnya: Seperti kubilang, tidak bisa menari atau melukis adalah hal yang 'aneh' di desa kami. Semua orang 'wajib' menguasai salah satu bidang seni itu. Maka, waktu usiaku 6 tahun, belajarlah aku menari. Oleh bapak, aku diajak ke rumah seorang pelatih tari. Pak Jimat namanya. Dia pelatih tari terbaik di desa kami. Aku senang sekali. Dalam benakku aku akan belajar menari Tari Baris yang gagah itu.

Tapi betapa kagetnya hatiku, ketika latihan, bukan Tari Baris yang diajarkan Pak Jimat, tapi malah Tari Kodok. Aku mesti belajar melompat- lompat, percis kodok yang lagi menangkap capung. Waktu itu, aku kecewa nian. Aku tak rela dijadikan kodok.

 Pulang, aku mengadu dan protes sama ibu. Dia malah tertawa, dan berkata,"nak, jika kamu bisa menarikan Tari Kodok, yakinlah semua tarian akan mudah kamu kuasai. Teruslah belajar."

Tapi aku tidak mau. Aku terlanjur kecewa. Sejak saat itulah, aku tak mau belajar menari. Aku memilih berlatih melukis.

*****

Kapan hari, aku sempatkan diri main ke sanggar Pak Jimat. Seperti biasa, banyak anak-anak latihan menari. Ternyata...anak-anak itu tetap berlatih Tari Kodok. Sudah berpuluh-puluh tahun rasanya, aku pernah menari sekali di sana.

Melihat anak-anak itu tekun berlatih, aku tersenyum. Aku teringat kekecewaanku dulu. Kekecewaan yang kini aku sesali.


(Didedikasikan untuk Pak Jimat, pelatih tari yang begitu 'memuja' kodok)