85988_57186.jpg
Cerpen · 6 menit baca

Tapi Sayang

Rasa itu tak mungkin kupeluk dalam diam. Dia terkadang mengajakku untuk menggapai sesuai keinginannya. Aku menyimpanya dalam diam yang ada di kamarku meskipun hanya kadang kala saja saya berhasil melakukannya. Namun sekali-kali saya menaruhnya di sudut kamar. Saya melumatkan hasrat begitu saja.

Tapi sayangnya saya menemukan dia dalam ketakdugaan. Semuanya selesasi dengan tapi sayang. Itulah ungkapan cintaku yang hanya sekadar, tetapi menyatakan sebuah kedalaman jiwa. Ini kemudian kutuliskan pada keningnya melalui sebuah kecupan.

Kecupan itu penuh intrik dan angkaramurka. Dia pun menyodorkan keningnya tanpa perasaan. Serasa dia menunjukan bahwa dia menerima dalam keterpaksaan. “Ya..... begitulah kalau dua sejoli sedang jatuh cinta. Tak ada yang berkecamuk dalam pikiran selain sebuah rasa.” Tidak terduga.

Enu, juwitaku, mata leso ge. Hidupku tidak berarti apa-apa ketika tidak mengintip sedikit saja senyummu. Duniaku serasa kering seketika, ketika aku tidak melihat lagi cermin yang engkau gunakan sewaktu engkau merawat rambutmu. Mahkota terberikan itu.” “Ahh nara momang janganlah engkau menipu aku dengan sajak gombalmu itu.” Sambutnya begitu syhandu. Dadaku serasa mau terbang, melawan takdir, melawan kebiasaan.

****

Sore itu, angin sepoi dari bibir pantai membawa kami pada jatuh cinta yang dalam. Aku sekali-sekali membelai rambutnya. Namun nelayan yang sedang menyiampkan diri untuk melaut melirik kami secara diam-diam. Dia pun tampak malu karena ada orang lain selain kami di tempat itu.

“Elias,,,,,” Suaranya memanggil aku. “Kebodohan bukanlah pilihan. Tetapi menjadi bodoh adalah kemewahan besar. Bangulah, kita akan segera pulang.” “Mengapa demikian? Sahutku memotong suaranya. Setelah itu, sampai sekarang aku tidak mengetahui jawabanya dan aku juga tak kunjung bertanya padanya.

Di bibir pantai sedang ada dua, tiga nelayan yang sedang merapikan semua barang di perahu mereka masing-masing. Ada juga seorang nelayan begitu santai mengisap sebatang djitoe di perahunya. Perahu mereka secara sangat hati-hati disentuh oleh riak-riak ombak.

“Ehhh enu, apa engkau melihat sesuatu di hadapan kita? Ada sesuatu yang sedang menjaga kita.” “Ahaaa,,,, kamu kok begitu sekali. Kamu mulai gombal lagi. Jangan gombal terus begitu.”

“Ohh saya tidak sedang membacakan sajak menjijikan itu kepadamu. Saya tidak mau berpura-pura romantis. Ini sungguh. Lihat matahari di senja ini begitu lelah. Lelah karena menjaga kita sore ini supaya tidak keburuan dimangsa oleh gelap”

Namun dia terus membantah setiap pernyataanku. “Nana, aku tahu, engkau sedang menuliskan sebuah puisi tentang pertemuan kita ini. Tetapi ini sangat konyol. Tidak ada gunanya kalau engkau mematri cinta kita dalam sebait atau dua bait atau banyak sekali bait puisi.”

“Oooh masa begitu amat. Tapi mengapa engkau berkata demikian? Aku menimpalinya dengan pertanyaan ini.

“Coba engkau lihat nelayan di perahu itu.” “Perahu yang mana?”

“Perahu yang berlayar biru itu.” “Oooh. Oke, ada apa dengan perahu itu? Bukankah mereka hendak melaut?

“Ia memang seharusnya. Tapi justru itu persoalanya.” “Apa? Persoalan?” Aku memotong kata-kata itu.

Enu engkau jangan mengada-ada. Tidakkah engkau lihat semangat nelayan tua itu? Coba lihat dia merapikan semua barang yang hendak dibawanya untuk melaut di samudra luas, bahkan ke samudra abadi hehehehehe.... Engkau jangan mencurigai semangatnya.”

“Bukan begitu maksudku. Ada yang engkau tidak baca dari nelayan itu. Hal itu tersembunyi dari pandanganmu. Sama begitu pula dengan aku, engkau tidak melihat satu hal dari padaku.”

“Ohhh tidak mungkin. Enu jangan membuat kesimpulan semacam itu. aku sudah sejak lama mengenalmu. Masa sampai aku masih belum mengenalmu secara  menyeluruh. Ehh tapi barusan saya menemukan senyuman yang hilang dari wajahmu.”

“Ahhh nana. Engkau terlalu jujur. Kita tidak bisa menenal secara menyeluruh tentang sesuatu. Sama halnya juga aku tidak mengenalmu secara menyeluruh.”

“Aku hanya mengenalmu sebagai orang yang mencintaiku. Hanya itu saja. Tapi sebenarnya aku tidak jatuh cinta denganmu. Aku hanya jatuh hati denganmu.”

“Tapi, baiklah.” Lanjutnya.  “Ada sesuatu yang lebih penting dari itu. lebih penting dari pada engkau mengecup keningku pada senja ini. Lebih penting dari pada engkau memeluku dan melepaskan lelah dalam hidupku.”

“Ok. Saya harap enu menceritakan secara teliti tentang nelayan itu. Tetapi meski pun engkau mengatakan hal itu, itu tidak apa-apa. Aku berusaha membangun ruang dalam hatimu.” Namun, saya memperhatikan wajahnya begitu masam. Entah apa alasanya, aku tidak mengetahui sedikitpun.

Dia menarik napas dalam. Tampak begitu dalam dan itu terbukti dari desiran hembusan pernapasan yang dibuatnya. Saya juga tidak berkata satu kata pun juga satu huruf saja.

Kami menjadi diam. Dia tidak kunjung memuliai ceritanya. Saya juga hanya bersikap menjadi penunggu. Dia belum memulainya.

Tetapi sebenarnya ada hal yang mengusik dalam hatiku. Aku merasa kagum dengan cara pandangnya terhadap pertemuan kami sore ini. Dia memiliki cara pandang yang berbeda, tidak hanya untuk hubungan kami tetapi juga untuk dunia.

Desiran angin sepoi senja saja yang sempat terdengar oleh telinga. Mata kami pun juga dimanjakan oleh gulungan ombak yang begitu lembut dan sangat pelan dan penuh kehati-hatian menggoyangkan badan perahu para nelayan tersebut.

Nana, sebenarnya....” Dia memulai bercerita.

“Nelayan ini bukan hanya melaut mencari ikan. Perjalanan mereka membela samudra, membela malam dan membela angin sangatlah keras. Mereka mempertaruhkan nyawa.”

“Ah tidak mungkin. Sekarang bukan musim hujan. Tidak ada gelombang laut yang membahayakan hari-hari ini.” Protesku kepadanya.

“Nana nelayan itu sedang menuju arena perang!” katanya dengan nada suara penuh emosi. Wajahnya menjadi merah. “Apa? Apa? Itu tidak mungkin. Sahutku dengan penuh keheranan. Aku menggamit tanganya.

“Coba engkau perhatikan, pelatuk ditangan mereka sudah di asah sangat tajam. Mereka sudah lama berada dalam situasi mencekam ini.” Dia kemudian berdiri, mengempas dan membelai wajahnya ayu yang memerah itu.

Aku sangat celingukan, kebingungan. Aku tidak tahu dia mendapatkan informasi itu dari siapa.

Nana.”

“Ada yang mencaplok ikan di wilayah laut kita. Mereka mencuri semuanya dengan menggunakan bahan peledak.”

Aku tidak berkata banyak. Aku hanya memandang wajahnya yang sangat serius itu. “Tapi kita ini bisa apa? Kita hanya orang muda dari gunung yang sangat awam dengan laut.” Kataku padanya.

“Ia. Benar katamu itu. Tapi siapa yang bisa menyelesaikan persoalan ini. Angin laut sudah mulai membising. Lihat saja ombak akan membawa dara segar dari arah laut. Tidak ada yang bertanggungjawab. Pemerintah di kota kita ini juga tidak.”

Ketika mendengar ucapanya, aku tertegun. Berkeringat. Namun aku berusaha untuk menahan diri. Ada hal yang sangat rumit di balik semua ini.

“Tapi kita tidak tahu, apa yang sedang terjadi sesunggunya. Wilaya laut kita ini kewenangan pemerintah Provinsi.” Aku berusaha memberikan berbagai informasi kepadanya.

“Tapi nana sangat ribet. Benar. Itu jawaban yang diberikan oleh bupati kita.”

 “Ia sperti itu adanya. Bagi saya, kita mesti tunggu respon dari bapak gubenur.” Aku terus memberikan dia keyakinan. Langit hatiku sangat kesal. Sekejap saja hal itu terjadi.

Dia pun melanjutkan. “Bupati kita sedang berkongkalingkong dengan investor asing. Media massa kemarin mengekspos pertemuanya dengan bos-bos hotel mewah di kota ini. mereka sudah siap secara perlahan-lahan menggeser semua nelayan ini. Dan, nana di belakang semua ini yang menikmati banyak keuntungan adalah bupati dan para birokrat di kota kita ini.”

Aku tidak mampu lagi. Aku tidak tahu kata apa yang hendak disampaikan. Aku tidak tahu jawaban yang macam mana lagi yang bisa diberikan. Hati menjadi bersedih. Tapi sayangnya dia tidak membaca itu.

Satu saja pilihan. Aku diam, membiarkan dia berbicara. Sekejap saja segala cerita kami sore itu berubah. Dia memandangku begitu tajam. Matanya tidak berkedip sediktpun. Dan, aku tidak takut. “Nana, tapi sayangnya bupati kita itu bapakmu to?” Dia kemudian diam.

 

Keterangan

Enu              : Bahasa Manggarai, Panggilan untuk seorang saudari (kekasih)

mata leso ge : Arti harafianya adalah Matahari ku. Ungkapan untuk seorang kekasih.

nara momang: Sebutan untuk seorang saudara (kekasih) yang paling dicintai.