Mahasiswa
2 tahun lalu · 445 view · 2 menit baca · Cerpen 33.jpg
Fajar Menyebar. 33

Tapi Aku tidak Mencintaimu

Tak terasa gelap pun jatuh
Di ujung malam, menuju pagi yang dingin
Hanya ada sedikit bintang malam ini
Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya

Penggalan lirik Payung Teduh ini memang membuatnya harus selalu berpikir positif. Bahwa tidak kelihatannya bintang malam ini mungkin dikarenakan di sisi lain ada yang lebih memukau dari kilaunya. Ada yang lebih patut disyukuri dari ketiadaannya. Bahwa yang tidak kelihatan, bukan berarti tidak ada.

Seperti biasa, di kala sore hari dia selalu menunggu senja yang hadir setiap harinya, ingin ia tulis setiap ceritanya, bisa dia rekam setiap jejaknya. Tapi, terlalu naif apabila berharap senja selalu ada. Terlalu manja apabila setiap permintaan anak mesti harus dikabulkan sang ibu. Jadi, harus ia tulis mengenai hal lain, misalnya tentang kamu.

Kamu bak senja yang apabila tidak ada membuat ia senang karena sudah ada penggantinya. Yang tak mesti ia tunggu sampai 24 jam untuk melihat keagunganNya.

Masa paginya yang biru dimulai dengan penuh semangat, bahwa kamu tidak akan berkhianat. Dia menjalaninya layaknya ayam yang baru menetas untuk mencari induknya. Tak lupa dorongan dari lingkungan sekitar -kaka kelas- yang memberi semangat bahwa di setiap yang pindah akan selalu ada yang indah. Ternyata ia salah. Ia menemukan yang lebih indah.

Masa siangnya yang abu biasa saja, karena ia sudah mulai menemukan apa yang orang lain sebut dengan indah, berkah atau entah apa namanya. Namun ada sedikit yang janggal lantas membuatnya bahwa ada yang salah dari yang indah, ada yang keliru dari yang disetuju. 

Bila orang-orang memperlakukan keindahan dengan cara berduaan, berpegangan, update-an, tanpa ada hubungan. Ia tidak demikian. Tetapi, itu hak setiap orang untuk menjelasknan, untuk dipertaggungjawabkan. Ia sangat tahu bahwa ia sangat dekat dengan apa yang orang sebut indah, namun dia sendiri mempunyai sesuatu yang menurut dia lebih indah. Entah 

Di akhir sore yang abu ia menunggu dan berharap berubah menjadi senja yang ia inginkan. Tetapi, abu itu menjadi hitam gelap yang panjang. Karena senja tersudutkan malam, dan yang pindah tidak selau bisa dikatakan indah. Lebih indah pasti ada. Entah

Akhirnya, di perjalanan sore akhir ia menemukan, bahwa setiap degub pasti ada maksud, setiap petang pasti terselip keindahan. Atas setiap indah yang ia terima, atas setiap degub bahagia yang ia damba. Terima kasih atas telah menjadi alasan mengapa degub itu tercipta. Terima kasih masa remaja.

Terima kasih pagi sampai sore hari yang telah mengajarinya arti keindahan, keihklasan. Tapi, apabila orang memaknai yang indah dari pagi sampai sore hari hingga malam seperti hal yang sudah orang lain umbarkan. Karena terlalu dangkal apabila cinta didefinisikan orang lain sebagai pacaran, chattingan, berhubungan. terlalu sempit apabila demikain memaknainya. 

Ia mencintaimu dengan cara ia sendiri. Bila kau menginginkan ia mencintaimu dengan cara seperti orang lain. Maaf, ia lebih baik tak mencintaimu.