Rabu datang lagi. Itu artinya Kelana harus menemani ibunya mengajar di Kisaran. 

Sebenarnya bukan suatu keharusan yang benar-benar mutlak. Hanya saja ia merasa kasihan melihat ibunya harus berpergian keluar kota sendirian, walaupun sebenarnya Kelana sadar betul sang Ibu tidak perlu dikasihani karena Ibu adalah perempuan tangguh. Apalagi transportasi yang digunakan adalah kereta api. Ibu Kelana senang sekali bepergian dengan kereta api, begitu pun Kelana.

Ada dua hal yang Kelana senangi dari kendaraan yang mengular ini. Pertama, menurutnya kereta api itu selalu memancing imajinasi. Pemandangan yang dilewati sepanjang perjalanan seolah menggelitiknya untuk bertanya, sekedar bertanya. Tanpa harus ia mendapatkan atau bahkan sebatas mencari jawaban.

Seperti ketika kereta yang melewati sebuah lapangan sepak bola yang terlihat sering dimainkan. Tapi lapangan itu seolah jauh dari jangkauan manusia, karena tak kelihatan rumah-rumah penduduk di sekitarnya. Hanya hamparan lalang dan beberapa pohon pisang yang mengitari lapangan itu. 

Melihat itu saja, imajinasi Kelana sudah bergerilya dengan lontaran-lontaran pertanyaan. Di mana rumah mereka yang menggunakan lapangan ini? Seberapa jauh mereka berjalan kemari? Pasti anak-anak yang bermain disini sehat dan berani. Anak-anakkah?

Lalu alasan kedua adalah soal lidah dan lambung. Uniknya di kereta api, banyak pedagang-pedagang asongan yang berjaja. Mi pecal, kue kacang, dodol, keripik, burung goreng, makanan ringan ngetop ber-MSG, ataupun mi instan dalam cangkir siap jadi bila kita ingin. Makanan-makanan sederhana nan murah meriah itu selalu sedap dinikmati Kelana dan Ibu. Mainan dan buku mewarnai untuk anak-anak pun ada yang menjual.

Selain itu, cara mereka menawarkan barang dagangannya menjadi hiburan tersendiri bagi Kelana. Menurutnya marketing paling unik itu ada pada pedagang di kereta api ini. Bayangkan saja bisa-bisanya pedagang mi cepat saji dalam wadah bisa dipasarkan pengasongnya dengan berteriak,”Awas! Air panas, air panas, air panas!!!” Begitu akrabnya Kelana dengan kereta api, ia sampai hafal tak hanya dengan cara pedagang asongan itu berjualan, wajahnya pun beberapa Kelana ingat.

Perjalanan Medan-Kisaran kurang lebih 4 jam. Sudah lewat 2 jam, pedagang-pedagang yang ditunggu Kelana tak muncul juga. Jangankan masuk ke dalam gerbong, Kelana bahkan tidak melihat satu pun pedagang di stasiun-stasiun persinggahan. 

Ditengah lamunannya menunggu pedagang, Kelana dikejutkan suatu suara keras,”DUGGG!!!!”. Seperti benda tumpul namun padat dan keras yang terlempar ke badan gerbong yang ditumpang Kelana, syukur tidak mengenai jendela.

***

“Bahaya!” katanya sambil terengah-engah. “Kau tak tau? Tindakan kau ini bisa membahayakan penumpang.”

“Peduli apa?! Biar mereka tau kalau tanpa kita pun kereta tetap tidak nyaman! Mengerti kau?” menggeram. Sembari tangannya meraih sesuatu bersiap melontarkan lagi ke arah kereta kedua yang sedang melintas. “Tak bisa kau sedikit menyenangkanku? Harusnya kau ikut melempar juga. Atau sekurang-kurangnya kau bantu aku cari amunisi untuk melempar kereta-kereta sialan itu. Batu, kayu, apapun itu.”

Kedua pemuda ini berdebat dalam diam. Hanya raut wajah berwarna gelap dari keduanya yang menunjukkan pertentangan antara mereka. Pemuda yang satu terus melemparkan batu ke arah kereta sampai kereta berlalu, sambil tak henti mulutnya mengeluarkan sumpah-serapah walau dalam desis. Nyali dan kemarahannya melampaui ukuran tubuhnya yang tidak lebih dari lima kaki. Seolah-olah mempertegas bahwa sirkulasi darah dan enzim antara organ di kepala ke dubur dua kali lipat lebih cepat dari orang biasa.  

Yang lain, si kurus sedikit lebih tinggi, tidak berusaha mengikuti jejak ataupun mengindahkan permintaan sang rekan, namun ia juga tak beranjak dari tempatnya berpijak. Mengawasi. Semburat cemas di wajahnya seolah bertanya : apa yang sedang kami lakukan ini? Bagaimana kalau kami ketahuan? Pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban terburuk muncul di kepalanya. Tetapi tetap tak sadar, ada yang mengamati mereka dari balik pohon-pohon sawit.

DUKKKK!!!! Lemparannya hanya mengenai badan kereta. Membuat si lima kaki semakin geram. Tangannya kembali mencari-cari materi-materi keras di sekitarnya.

PRAAANGG!!! Lemparan kesekian, tepat memecahkan kaca jendela kereta. “Mampusss!!!!” si lima kaki memaki. Menyeringai puas. Seolah-olah pekerjaannya mengasong kerupuk di kereta bisa dilakukan lagi. Seolah-olah ia bisa membiayai adiknya sekolah lagi. Seolah-olah.

Kerupuk buatan ibunya memang bisa dititipkannya di kios-kios kenalan. Tapi tentu hasil yang didapat tidak sebanyak ketika berjualan di kereta, karena harus berbagi untung dengan pemilik kios. Apalagi ia harus mencari uang obat bapaknya.

Ia puas, seolah-olah semua yang diharapkannya bisa kembali. Tanpa tau, batu yang ia lemparkan melukai bocah umur empat tahun. Bocah yang sampai-sampai menempelkan wajahnya ke kaca jendela saking asyiknya menikmati petualangannya di sepanjang rel.

Si lima kaki pergi meninggalkan persembunyiannya, berjalan gagah sumringah. Tanpa peduli, si bocah empat tahun mungkin tidak akan pernah mau berpetualang dengan kereta api lagi. Sementara temannya, si kurus, berkeringat pucat pasi. Mereka masih tidak sadar juga akan sergapan yang membekuk.

***

Bocah empat tahun itu meraung menjadi-jadi menahan sakit. Tiga menit yang lalu Kelana masih mendengar ocehannya, mempertanyakan apa pun yang yang dilewati kereta. Semenit yang lalu Kelana masih mendengar tiruan bunyi kereta yang berasal dari mulut mungil si bocah. Jug gijag gijug gijag gijug.

Tiruan bunyi kereta itu sekarang berubah menjadi bunyi kesakitan sesaat setelah bunyi kaca pecah itu muncul. Bunyi ocehan tadi begitu nyaring. Tapi raung ngilu itu lebih jelas lagi. Bunyi itu tepat dibelakang kursi Kelana, membangunkan Ibu yang nyaris mendengkur.

Benda keras itu menghantam, memecahkan kaca jendela kereta tepat saat bocah itu menempelkan wajahnya ke kaca jendela kereta. Darah segar mengucur dari pelipis mungilnya. Sementara raungannya membahana ke seluruh gerbong.

Beberapa penumpang datang menengok, berkomentar simpatik dan menggerutui pelempar yang ntah siapa. Yang lain menoleh sekilas lantas kembali acuh. Sedang Ibu langsung menginstruksikan seorang pemuda mencari petugas kereta, Kelana berlari ke ujung gerbong dan menggapai kotak P3K yang kosong. Sial, batinnya, kapan kotak putih ini berhenti menjadi pajangan.

Tak lama beberapa petugas kereta datang, salah satunya membawa obat-obat ringan pertolongan pertama. Di saat yang bersamaan Kelana mendesah lega dan merutuk dalam hati, bisa-bisanya peralatan wajib pertolongan pertama mereka simpan. Walau jauh sebenarnya ia sadar, kalaupun peralatan P3K itu elok disediakan pihak pengelola kereta, tetap akan sulit menjaganya awet. Bukan karena banyak insiden dalam kereta, hanya saja memang sulit sekali menjaga fasilitas publik. Terlalu banyak tangan usil.

Sesaat tenggelam dalam pikirannya, segera ia acuhkan dan dia ambil alih obat-obat itu dan lekas menangani sang bocah. Tangisnya mulai melemah, bukan karena nyeri yang mereda, lebih karena ia lelah. Lelah menahan sakit. Ibunda bocah masih mendekap erat buah hatinya.

***

Menunggu memang menjadi hal yang membosankan.

Kelana dan Ibu sudah duduk di kursi-kursi peron. Menunggu kereta kembali ke Medan. Ibu tak pernah menginap di Kisaran. Kegiatannya mengajar di kota kecil ini hanya berdurasi dua jam dalam seminggu. Artinya tidak ada yang menuntut untuk Ibu benar-benar tinggal di kota yang berjarak kurang lebih 150 km dari Medan.

Kelana coba hapus kebosanannya dengan lantunan musik dari pelantang telinga. Lagu-lagu Led Zeppelin, Mogi Darusman, Bob Dylan jadi makanannya. Selera musik anak ini, tua sekali memang. Setua gerbong kereta yang ia tunggu. Paling anyar ia dengar The Cranberries, tetap saja tua.

Sementara Ibu, membunuh penantiannya dengan bercakap kepada sesama calon penumpang di sebelahnya. Di tengah asyiknya obrolan antara Ibu dan teman yang baru ia kenal, mereka terdiam. Beberapa aparat keamanan diiringi pengelola kereta, terlihat melewati kursi-kursi calon penumpang kereta

Ah, Ibu memang senang sekali berbicara. Pantas saja ia jadi tukang ajar. Pintar mengajari dan berbicara itu toh modal utama. Beberapa detik yang lalu Ibu masih asyik mengoceh, namun sekarang Ibu terdiam.  

Dua pemuda terlihat dijaga oleh aparat keamanan stasiun. Yang satu berjalan tanpa perlawanan, perawakannya tinggi kurus. Yang satu, lebih pendek dari Kelana, masih meronta hingga harus ditempeleng petugas. Pemberontakannya berhenti, berubah menjadi tanya yang lirih.

”Masih boleh kan kami jualan, Pak? Masih boleh kan?”

Ibu tak tahan lama-lama berdiam. Ia segera paham dengan yang terjadi dan lantas membagi isi kepalanya ke teman barunya. “Sudah tertib mereka yang dagang ini, cuman masuk pas kereta singgah. Padahal kami senang naik kereta ini karena banyak jajan."

"Kenapa lah pula dilarang mereka ya? Kenapa lah?”

Kelana hanya melihat pemandangan itu tanpa ekspresi. Hanya napasnya yang menghela. Lalu ia buang segera pandangannya jauh menyeberang rel kereta. Di telinganya masih terdengar Dolores O’Riordan bersenandung penuh pertanyaan.

Do you know you made me cry?
Do you know you made me die?
It’s the animal instinct to me.