Peneliti
1 tahun lalu · 150 view · 3 menit baca · Tips & Trick 57159_31280.jpg
Foto ini menggambarkan kemacetan di jalan tol JORR (Jakarta Out Ring Road), tepatnya di simpang susun Cikunir Bekasi. / Foto dok. pribadi.

Tanya Saja pada Jokowi, Mandor Utama Proyek Infrastruktur ini

Pemandangan ini hampir selalu saya saksikan dan alami saban hari. Mobil-mobil nyaris tidak bergerak. Walaupun bergerak, paling beberapa senti saja, alias merayap seperti semut. Pamer, padat merayap. Kepadatan lalu lintas di jalan yang disebut jalan bebas hambatan dan berbayar pula, atau jalan tol ini, nyatanya melulu tiada hari tanpa hambatan dan memang sudah menjadi langganan sehari-hari. Artinya, di jalan tol ini melulu laju kendaraan terhambat alias macet total.

Kepadatan yang berakibat kemacetan lalu lintas yang mengular berkilo-kilo meter panjangnya dan selalu terjadi di jalan bebas hambatan dan berbayar (baca: jalan tol) sepanjang jalan tol Jakarta lingkar luar (JORR) menuju arah Cikampek ini dan tol dalam kota Jakarta - Cikampek, adalah pemandangan dan rutinitas yang sangat menyebalkan.

Kondisi seperti ini sudah pasti membuat pengguna jalur jalan tol ini geram dan lelah luar biasa. Karena memakan waktu tempuh yang mestinya cepat dan lancar, terpaksa harus lambat, berlama-lama dan berjam-jam. Walaupun sebenarnya sudah tidak aneh.Tapi tetap saja, membuat kesal dan menyebalkan. Lantas, apa penyebab ini semua?

Penyebab utamanya adalah imbas dari proyek pembangunan infrastruktur berupa rel layang kereta api cepat (LRT) Jakarta Bogor Depok Bekasi (Jabodebek) dan jalan tol layang Jakarta - Cikampek. Sehingga ruas jalan menjadi menyempit. Ditambah penyebab yang lain, dan ini sudah tidak aneh, adalah volume atau padatnya kendaraan yang melewati jalur ini.

Terus, sampai kapan ini berakhir? Entahlah, tanya saja pada Jokowi, mandor utama dari semua proyek pembangunan infrastruktur yang bikin susah dan membuat sumpah serapah semua orang yang melewati jalur ini tumpah. Karena stuck luar biasa. Ampun, deh!

Mencari jalur alternatif? Itu juga yang disarankan jasa marga (pengelola jalan tol) lewat teks pesan berjalan (running text) di papan layar digital yang terpasang melintang di setiap jalan tol ketika kondisi lalu lintas tersendat.

Sering juga saya ikuti saran itu atau dengan inisiatif sendiri, saya menggunakan jalur alternatif melewati jalan protokol (jalan biasa non tol), tapi iya sama saja, padat-padat juga lalu lintasnya. Macet iya macet saja. Apalagi bercampur baur dengan kendaraan roda dua (sepeda motor) yang menyemut itu. Begitu yang saya lakukan menghindari kemacetan atau tersendatnya lalu lintas di tol atau jalan raya tanpa hambatan dan berbayar itu.

Cara lain menghadapi kondisi seperti begitu, paling-paling, ujung-ujungnya, harus ekstra sabar. Dituntut untuk sabar. Mau bagaimana lagi, akhirnya harus terima apa adanya. Itung-itung terapi kesabaran, latihan kesabaran saja. Belajar untuk sabar dan meredam emosi. Walaupun tampaknya tetap saja, judulnya "kesabaran yang tetap saja berbatas atau dipaksakan?" Iya, ambil saja positifnya, namanya juga rakyat kecil.

Apalagi, kesabaran, kata "Mahfudzot" (kata mutiara berbahasa Arab, mata pelajaran di pesantren), seperti buah Thibr (buah yang rasanya sangat pahit semacam buah Mahoni, mungkin) yang pahit rasanya. Tapi hasilnya akan terasa manis, bahkan lebih manis daripada madu. Makanya, bersabarlah!

Lagian, orang sabar kan disayang Tuhan. Dan Tuhan selalu bersama orang yang sabar. Mudah-mudahan saja kalau sabar dan tulus, jadi (rezekinya) subur dan banyak fulus.

Untuk mengurangi dan mengurai kemacetan di jalan tol di sekitar tol Bekasi Barat dan Bekasi Timur, jalur ini yang menjadi biang kerok dan muara kemacetan selama ini; karena lokasi inilah yang menjadi muara aliran kendaraan dari berbagai arah. 

Ada tiga arah terutama bagi kendaraan-kendaraan itu bermuara; dari arah tol lingkar luar Cikunir, lingkar luar Tanjung Priok dan tol dalam kota Jakarta - Cikampek, maka dalam hari-hari ke depan, insya Allah, ada secercah harapan, yaitu dengan penerapan kebijakan ketentuan hari "genap ganjil" bagi plat nomor dari kendaraan yang akan melintas atau keluar masuk di gerbang tol Bekasi Barat dan Bekasi Timur, yang diberlakukan mulai tanggal 12 Maret 2018.

Selain itu, kebijakan pengaturan waktu melintas, yaitu pukul 06:00 sampai 09:00 WIB bagi kendaraan besar atau kontainer, dan penetapan jalur 1 (jalur lambat) sebagai jalur khusus untuk kendaraan umum (bis). 

Ini semua, paling tidak, ada ikhtiar dan kebijakan yang perlu diapresiasi dan didukung bareng untuk mengurangi dan mengurai kemacetan di jalur ini selama berjalannya proyek pembangunan infrastruktur yang entah kapan kelarnya

Berharap kebijakan ini membuahkan hasil yang efektif dan signifikan. Dan yang penting lagi, diberlakukan konsisten. Jangan di awal-awal saja, semangatnya tinggi. Tapi selanjutnya malah diabaikan begitu saja jika ada pelanggaran terhadap kebijakan ini.

Tapi, ada sedikit bocoran informasi, konon, proyek ini akan diresmikan oleh mandor utama proyek pembanguan infrastruktur ini pada tahun politik 2019 mendatang menjelang kampanye pilpres. Untuk menaikkan elektabilitas dan pencitraan, biar dua periode? Emohlah, ora weruh aku! Wong namanya juga politik, tidak ada yang tidak mungkin. Serba mungkin, toh? []