MEA atau AEC adalah sebuah program bersama para anggota ASEAN yang bertujuan meningkatkan stabilitas perekonomian di kawasan ASEAN, serta diharapkan dapat mengatasi masalah-masalah di bidang ekonomi di kawasan ASEAN melalui aliran bebas perdagangan, pertukaran tenaga kerja dan lain-lain.

Di Indonesia sendiri ini digunakan untuk mengatasi ledakan penduduk dengan segala masalah yang timbul. Pertanyaannya adalah mampukah Indonesia menciptakan SDM yang tangguh menjawab tantangan MEA dan mampukah lulusan Perguruan Tinggi yang notabanenya adalah pencipta tenaga profesional di Indonesia bersaing satu sama lain dan menjaga eksistensi mereka masing-masing atau bahkan bersaing dengan lulusan dari negara lain.

Adanya  MEA memang meningkatkan persaingan SDM antarlulusan PT dari dalam negeri maupun luar negeri, baik universitas swasta maupun negeri. Persaingan menjadi  lebih kompleks tetapi peluang terbuka lebih luas, maka sudah selayaknya para mahasiswa dan pihak perguruan tinggi bebenah diri  dan merombak sistem belajar-mengajar juga sistem penilaian.

Dosen harus objektif gagalkan bila memang belum layak lulus, jangan pernah ada nilai kasihan karena itu akan membunuh mahasiswanya sendiri dan universitasnya. Kenapa? Karena dengan memberikan nilai kasihan maka yang belum layak menjadi layak, yang belum mampu menjadi mampu secara teori, lalu bagaimana dengan praktiknya?

Jika mahasiswa lulus dengan nilai kasihan maka bagaimana dia menghadapi dunia pekerjaan, lalu bagaimanakah penilaian perusahaan dengan lulusan dari Universitas yang mahasiswanya lulus dengan nilai kasihan yang artinya lulusan abal-abal, tentu saja akan mengganggu eksistensi universitas tersebut. Yang tadinya niat baik akan menjadi malapetaka.

Lalu jangan hanya menekankan hasil akhir pendidikan atau keterampilan yang digambarkan dengan huruf dari A-E. Karena hasil akhir bukan tolok ukur dari pemahaman, kita harusnya sadar akan kecurangan yang mungkin dilakukan dari mahasiswa, dosen atau pihak perguruan tinggi dan pihak lain. Akibatnya akan membuat tenaga profesional di negeri ini dicap hanya mampu berteori tapi praktiknya nol besar.

Walaupun tidak semua begitu, tapi alangkah baiknya bila proses menuju akhir juga diperhitungkan, karena proses itulah yang memberikan ilmu dan keterampilan pada kita. Selain itu studi banding juga harus sering dilakukan baik dalam negeri maupun luar negeri, antara  PT swasta dan PTN itu akan membuat kita sadar akan kemampuan diri, agar kita tidak merasa seperti katak dalam tempurung, merasa walaupun sebenarnya sekecil kuku hitam di jari.

Merasa Besar dan bagus karena tidak melihat milik orang lain. Selanjutnya adalah kemampuan berbahasa asing terutama bahasa Inggris.

Kecakapan berbahasa yang merupakan instrumen yang cukup penting dalam kehidupan para mahasiswa harus dioptimalkan, jangan hanya menjadikan bahasa Inggris mahasiswa hanya sebagai formalitas, agar kelak para lulusan tidak menjadi makhluk buta bahasa layaknya alien yang jatuh ke bumi punya banyak kemampuan yang mumpuni tapi terhalang komunikasi.

Lalu untuk apa kemampuannya? Bergunakah? Penyedia lowongan pekerjaan akan lebih memilih mereka yang mampu berkomunikasi dan memiliki kemampuan yang mumpuni, tidak peduli dari dalam ataupun luar negeri, apalagi kita juga belum paham bagaimana kualitas sarjana dari negara tetangga apakah lebih baik ataukah sama atau lebih buruk?

Sekali lagi jangan lupa bahwa ini adalah desakan yang ditimbulkan dari  MEA sehingga memaksa kita berubah dan memaksa kita harus mampu. Kita para lulusan dalam negeri harus memiliki sesuatu yang tidak dimiliki mereka, sehingga nilai jual kita tinggi ibarat mie instan jika dijual di warung hanya Rp 2.000 tapi jika di hotel mampu lebih dari Rp 20.000 . Untuk itu  kita harus memiliki sikap, kemampuan dan komunikasi yang baik.

Semua aspek dalam perkuliahan harus dioptimalkan supaya Indonesia juga mampu mengirim tenaga handal bukan hanya menerima tenaga asing. Akan jadi apa kita bila perusahaan dalam negeri lebih memilih lulusan negara tetangga, lowongan pekerjaan tak seberapa masih harus berbagi dengan mereka para tetangga.

Terlebih PTS di Indonesia yang sering dicap menerima buangan dari seleksi alam di PTN, boleh saja menampung mereka yang terseleksi dan tersisih tetapi keluarkan mereka dengan kemampuan dan keterampilan yang sama atau bahkan lebih baik dari PTN. Sehingga lulusan PTS tidak lagi dipandag sebelah mata.

Memang tidak mudah tetapi bukan tidak bisa diupayakan. Jangan hanya menarik iuran yang semakin tahun semakin naik, sementara kualitas tidak ditingkatkan masih sama saja atau bahkan semakin turun. PTS harus lebih bekerja keras untuk mampu bersaing dengan PTN dan perguruan tinggi di luar negeri, kita jangan menutup mata dan kenyataan bahwa lulusan PTS masih dinomorduakan. Rombak semua agar PTS dinilai setara.

Adanya MEA memang sangat positif untuk merangsang perubahan dari berbagai elemen ke dalam negeri ini, membuka peluang yang besar bagi mereka yang mampu menerjang tantangan. Tetapi bagaimana dengan yang tidak mampu? Jika di Indonesia banyak yang tidak mampu, maka matilah negeri ini.

Bagaimana tidak, jika lapangan pekerjaan yang tidak seberapa besar ini saja masih diisi oleh tenaga asing, pengangguran akan meningkat, kriminal akan merajalela, akan semakin bobroklah tanah air kita ini. Maka dari itu untuk menghadapi MEA semua tahap pendidikan harus diperbaiki agar lulusan jadi tenaga yang mumpuni, supaya MEA membuat indonesia semakin jaya dan sejahtera.

Ayolah MEA itu obat dan racun, obat untuk mengatasi penyakit pengangguran yang semakin parah ini, racun kalau kita tetap seperti ini masih suap-menyuap dalam segala bidang. Yang punya uang yang menang, bukan yang mampu tapi yang punya koneksi, surat sakti masih berlaku, maka percayalah MEA akan menjadi racun yang mematikan kita semua.