Dalam surat An-Naml, kisah inspiratif si burung Hud-hud diabadikan apik karena kecerdasannya dalam menyampaikan informasi kepada Nabi Sulaiman. Peran burung Hud-hud di era Revolusi Industri 4.0 kini mulai tergantikan dengan peran teknologi. Ia bisa saja ‘berevolusi’ menjadi drone—pesawat nirawak.

— Prof. Jawahir Thontowi S.H. (Tokoh Hukum Islam)

Pada paragraf pembuka ini, saya mengajak untuk sama-sama menyimak kisah inspiratif dari Timur Tengah, di mana ketegangan masih berlangsung di Ramadan 2019. 

Jika kita bisa bersantap sahur dan berbuka puasa dengan guyup bersama keluarga atau teman karib, lain cerita yang mewarnai serba-serbi berbuka puasa di Palestina. Atraksi bom molotov hingga ledakan hebat menjadi santapan berbuka rakyat Palestina. Kegigihan dan cara ungkap rakyat Palestina untuk menepis kisah pilu itu menjadi cermin bahwa rakyat Palestina kuat—tak serapuh Israel. 

Daya nalar, moralitas, dan nilai kebersamaan tetap dijunjung tinggi saat mereka harus menarik korban yang luka—meninggal musabab ulah si roket dari negeri seberang bak dentuman kembang api memecahkan kesunyian di malam hari. Hal itu bisa kita konsumsi berkat kerja-kerja teknologi informasi yang bersifat real time, sehingga peristiwa bombardir di jalur Gaza pun dapat dinikmati dalam hitungan detik, live melalui televisi maupun genggaman smartphone.

Di era Revolusi Industri 4.0 ini, teknologi kian berkembang pesat dan terus memanjakan mata. Selain memberikan kemudahan, teknologi kini turut berperan dalam menjaga silaturahmi maupun ibadah selama ramadan. Melalui gawainya, warganet banyak memanfaatkan WhatsApp, Facebook, atau Instagram untuk berbagi momen ramadannya bersama keluarga, teman, dan sahabat.

Hal ini terbukti dari hasil survei Facebook yang bekerja sama dengan Lembaga Survei Kantar pada April 2019, di mana 99% responden mengatakan bahwa ramadan adalah momen yang lebih penting dibandingkan dengan perayaan lainnya. 

Sejalan dengan fokus dalam hal religiousitas, ternyata ramadan turut mendukung sisi sosial kemasyarakatan. Bahkan, 61% responden setuju bahwa ramadan merupakan waktu yang tepat untuk berkumpul bersama teman dan keluarga. 

Hal itu terlihat dari cara-cara orang memanfaatkan media sosial selama ramadan. Delapan puluh lima persen pengguna memanfaatkan fitur Facebook Family of Apps, 53% menggunakan WhatsApp sebagai media sosial favorit, dan 26% menggunakan Instagram.

Indahnya Ramadan 1440 H yang tergambar sebelumnya berjalan mulus berkat hadirnya penawaran menarik selama bulan ramadan. Sebut saja Smartfren Telecom, Tbk yang meluncurkan Smartfren 4G LTE Advance di Balikpapan dan Samarinda dengan produk unggulannya—double berkah silaturahmi.

Selain itu, ajang diskon paket internet besar-besaran dan gratis menelepon ke operator lain turut menyemarakkan Ramadan 1440 H. Apalagi aplikasi teknologi finansial pun kini kian melejit, seperti LinkAja besutan PT Fintek Karya Nusantara (Finarya). Ia memberikan promo menarik ketika membeli paket data dan pulsa selama ramadan, tak tanggung-tanggung cashback sebesar 50% diberikan kepada pengguna Telkomsel, sedangkan Indosat 13%, Axis 11% dan XL 8%.

Beragam aplikasi keislaman lainnya pun bermunculan di Google Play seperti; Muslim Pro, Muslim Prayer, Umma, hingga bayar zakat online. Beragam cara mengakses, menikmati, dan “mengonsumsi” alquran pun kini bergeser dari yang awalnya bersentuhan tangan dengan kitab suci kini perlahan beralih dengan cara menatap layar kaca melalui gadget. Walaupun hal ini bukan kondisi baru yang kita alami selama ini, dan kedua cara menikmati itu pun juga bisa direlasikan.

Tentu kita sama-sama ingat akan tulisan Gusdur yang sempat dimuat di rubrik kolom Majalah Tempo edisi 20 Februari 1982, yang menyoal perkara “Islam Kaset dan Kebisingan”. Relasi antara seni melantunkan azan, syarat dengan nilai spiritualitas, yang dimediasi oleh teknologi suara, kerap disebut TOA. Pun sempat menjadi sorotan kala itu. 

Belakangan Kementerian Agama terus menyosialisasikan kembali tuntunan penggunaan pengeras suara di masjid, langgar, maupun musala.

Strawberry Generation

Beberapa studi kasus di atas menjadi sketsa awal dari tantangan hidup di Era Revolusi Industri 4.0 ini, terutama bagi generasi milenial. Yaitu suatu generasi yang rapuh di dalam meskipun terlihat indah di luar. Mudah galau, cemas hati, dan bimbang. 

Layaknya buah stroberi, di balik keindahan warna yang memesona, ia ternyata rapuh. Begitu stroberi kena benturan, atau tergesek sikat gigi saja, ia begitu mudah terkoyak. Lalu hancur.

Rhenald Kasali—seorang praktisi manajemen, penulis dan pendiri Rumah Perubahan menyebutnya sebagai Strawberry Generation. Dalam hemat saya, Strawberry Generation merupakan generasi yang lahir pada akhir 90-an hingga 2000-an, yang juga mengikuti perkembangan zaman, terutama teknologi informasi.

Upz… tunggu dulu donk, jangan salah, Strawberry Generation juga dikenal sebagai generasi yang kreatif. Di era yang serba canggih ini pendalaman spiritual tentu harus diimbangi dengan kecakapan lintas disiplin. Kalau ngak, kita akan tertinggal zaman. Kayak Tim robot Java Knights nih guys… di Madrasah Internasional Technonatura, Depok, Jawa Barat, mereka tidak hanya dibekali ilmu agama, tapi sains dan teknologi turut berperan andil di dalamnya.

Hal ini terbukti dari Kompetisi Perancangan robot antarpelajar berskala internasional—World Championship Robot 2019 di Detroit, Amerika Serikat, yang diikuti oleh 8.000 peserta dari berbagai negara di dunia. Tim robot Java Knights berhasil memboyong trofi juara. 

Sebelumnya, mereka berhasil memperoleh penghargaan Allstar Rookie di ajang Robotik Regional Pacific Selatan di Sydney, Australia pada 17 Maret 2019. Penghargaan itulah yang mengantarkan mereka terbang ke Detroit.

Strawberry Generation juga dikenal dengan generasi yang kritis dan terbuka menerima hal-hal baru. Tantangan hidup di era milenial ini memicu generasi ini untuk melek teknologi. Ajang dahulu-mendahului perlu disorot ulang. Dalam artian, keterampilan di berbagai sektor mesti terus ditingkatkan. 

Berkembang pesatnya teknologi informasi ternyata juga dibarengi dengan lahirnya disrupsi informasi. Ancaman hoaks selama Pilpres 2019 nyatanya bukan hanya sekadar ancaman, kebebasan bersuara di media sosial dibungkam atas dalih keamanan bangsa. Meskipun demikian, usaha e-commerce turut terdampak, koar-koar lantaran usahanya buntung kian merosot.

Making Indonesia 4.0

Untuk menyambut Revolusi Industri 4.0, pemerintah terus berupaya dan menerapkan berbagai strategi. Untuk mengejawantahkannya, pada 4 April 2018, Kementerian Perindustrian RI meluncurkan 10 Inisiatif Nasional yang dibingkai dalam tajuk Making Indonesia 4.0—sebuah peta jalan (roadmap) implementasi dalam rangka menghadapi Revolusi Industri 4.0. 

Oleh karenanya, Making Indonesia 4.0 berisi 10 inisiatif yang menyasar di beberapa bidang sebagai berikut.

Tabel 1. 10 Inisiatif Nasional dalam Making Indonesia 4.0

No.

10 Inisiatif Nasional dalam Making Indonesia 4.0

1.

Perbaikan alur aliran barang dan material

2.

Membangun satu peta jalan zona industri yang komprehensif dan lintas industri

3.

Mengakomodasi standar-standar keberlanjutan

4.

Memberdayakan industri kecil dan menengah

5.

Membangun infrastruktur digital nasional

6.

Menarik minat investasi asing

7.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia

8.

Pembangunan ekosistem inovasi

9.

Insentif untuk inovasi teknologi

10.

Harmonisasi aturan dan kebijakan

*Sumber: Majalah Media Industri, “Siap Terapkan Industri 4.0”, Kementerian Perindustrian RI, hal. 7, edisi 1 (2018).

Sepuluh inisiatif yang masuk dalam Making Indonesia 4.0 diadopsi dari istilah gelombang industri generasi keempat atau Revolusi Industri 4.0Yang merujuk pada kecenderungan masyarakat yang bergantung dengan kebutuhan otomatisasi, robot, hingga big data. 

Alih-alih mencoba merespons era teknologi digital ini, Jepang justru melangkah satu step lebih maju. Prinsip Human-Centered Society (Society 5.0) mulai diwacanakan pemerintah Jepang (Mayumi, 2018: 47—50). Tentu semua itu disesuaikan dengan konteks kesiapan Indonesia, bisa jadi di daerah 3T wacana Revolusi Industri 4.0 belum terdengar gaungnya atau malah belum memenuhi kriterianya.

Beranjak dari geliat wacana di atas, kisah-kisah inspiratif turut mewarnai perkembangan teknologi informasi dari zaman Nabi. Dalam QS An-Naml, misalnya, secerca kisah inspiratif si burung Hud-hud diabadikan apik karena kecerdasannya dalam menyampaikan informasi kepada Nabi Sulaiman. Hal itu tertuang dalam firman Allah SWT surat An-Naml 22—23:

Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-hud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui. Aku datang kepadamu dari negeri Saba’ membawa sesuatu berita yang meyakinkan.”

Di ayat ke-28, di surat yang sama, kecerdasan burung Hud-hud makin jelas terlukiskan, manakala Nabi Sulaiman memerintahkannya untuk membawa surat kepada Ratu Balqis. Hud-hud atau kerap disebut dengan nama Hupo Tunggal kerap dijumpai di beberapa hutan di Sumatera maupun Kalimantan. Salah satu burung yang aktif di siang hari ini menyenangi serangga kecil, ulat atau belalang kecil sebagai santapannya.

Peran burung Hud-hud di era Revolusi Industri 4.0 kini mulai tergantikan dengan peran teknologi,  ia bisa saja ‘berevolusi’ menjadi drone—pesawat nirawak (Jawahir Thontowi, 2019). 

Selain itu, melalui Alquran, kita banyak belajar perkara perkembangan teknologi pembuatan baju perisai yang kala itu dipakai untuk berperang. Pembaruan dari segi model dan pemutakhiran dari sisi bahan anti-peluru mulai dijumpai. Semua itu tertuang apik di surat Al-Anbiya 80:

Dan kami ajarkan (pula) kepada Daud cara membuat baju besi untukmu, guna melindungi kamu dalam peperanganmu. Apakah kamu bersyukur (kepada Allah)? Dan (kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami beri berkah kepadanya. Dan kami maha mengetahui segala sesuatu.

Perkembangan teknologi terbarukan dengan memanfaatkan tenaga angin dan semacamnya ikut melengkapi kebutuhan manusia hingga kini. Begitulah gambaran manis ketika Nabi Sulaiman mampu ‘menundukkan’ angin yang tertuang dalam surat Al-Anbiya yang tentu masih sangat kontekstual kini.

Peta Jalan Hidup di Era Revolusi Industri 4.0

Bergeser dari hal di atas, ada beberapa tawaran yang kiranya berpeluang memberikan peta jalan hidup di era Revolusi Industri 4.0 bagi Strawberry Generation sebagai berikut.

Generasi stroberi kerap disandingkan dengan term memesona, tampak indah dan menggoda, tapi hanya dipermukaan saja. Padahal ia sering galau, gabut, dan gelisah (on the inside). Generasi stroberi sejatinya mampu menapik kelindan antara dua kutup itu dengan tidak menjadi generasi wacana saja, apa-apa diunggah di sosial media. “Ingin terlihat kaya, tapi malah ngak mau jadi kaya.”

Generasi stroberi merupakan generasi yang didominasi oleh pemuda yang kritis, suka mengambil tantangan, dalam benaknya tersimpan banyak sekali gagasan dan keputusan liar, atau Rhenald Kasali menyebutnya dengan connecting the dots.

Term “Saring sebelum Sharing” mesti terus diwacanakan di era disrupsi informasi. Upaya untuk tunduk dan berpikir kritis harus menjadi benteng diri. Memahami informasi terus diwacanakan, asal forward informasi dari satu sumber makin diantisipasi.

Jadi pemuda yang sadar bahwa tak nyaman tinggal di zona nyaman di tengah-tengah zaman yang makin edan. Ya, edan… bagaimana tidak otak dipaksa menyaring ribuan informasi dalam sekejab, tiap detik! Era post-truth dan jurang pemisahnya makin sulit dipilah. 

Kecakapan di satu bidang penting manakala diimbangi dengan terus menumbuhkan potensi di bidang lain. Sebab kita manusia yang terus bergerak dinamis, bukan seonggok mayat yang tersungkur kaku!

Kepustakaan

Buku

Kasali, Rhenald. (2018). STRAWBERRY GENERATION: Anak-anak Kita Berhak Keluar dari Perangkap yang Bisa Membuat Mereka Rapuh (Cetakan ke-4). Jakarta: Mizan.

Jurnal dan Artikel Ilmiah

Fukuyama, Mayumi. “Society 5.0: Aiming for a New Human-Centered Society.” Japan SPOTLIGHT (Juli/Agustus 2018): 47–50.

Mutia. “Teknologi dalam Alquran.” Islam Futura (2007) Vol. VI, No. 2: 70–77.

Majalah

Junaidi dan Feby Setyo. (2018). “Siap Terapkan Industri 4.0”. Media Industri. Edisi 1, 1–68.

Dokumen Daring

Hasil Survei Facebook dan Kantar terkait Rutinitas Ramadan (April 2019).

Surat Edaran No. B.3940/DJ.III/Hk.00.7/08/2018 Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar, dan Musala.

Webtografi

Andayani, Sophia. (2019). Smartfren 4G LTE Luncurkan Program Khusus Ramadan di Balikpapan dan Samrinda.

Astutik, Yuni. (2019). Beli Pulsa Pakai LinkAja Bisa Hemat Hingga 50%.

Redaksi Jakarta Satu. (2019). Tim Robot Madrasah Technonatura Kembali Bertanding di Detroit Amerika Serikat.

Tantangan Kemajuan Teknologi bagi Generasi Milenial.

Reporter Merdeka. (2019). Begini Hasil Survei Facebook kepada Pengguna Saat Ramadan.