Bulan Februari (2020) yang lalu saya sedikit agak geram mendengar derasnya gosip tetangga yang terus membicarakan saya, telinganya saya sampai tidak sanggup menahan panas. Kesal,  rasanya mendapat gosip yang tidak-tidak tentang kepribadian.  Apalagi sampai disebar oleh tetangga kita sendiri.

Saya sempat depresi karena dua bulan pasca wisuda belum dapat kerja. Orangtua saya juga turut ikut menekan, mungkin mereka malu punya anak sarjana tapi belum kerja. Namun obrolan warga desa yang menyebutnya “sarjana pengangguran” makin ramai, meskipun ini masih musim pandemi Covid-19 yah, namanya aja warga tetap tak mau tau. Bikin telinga panas dan pusing kepala.

Di pandemi Covid-19 ini sepertinya bukan cuma saya saja yang pengangguran. Namun  bisa kita lihat berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) Agustus 2020 sebesar 7,07 persen, meningkat 1,84 persen poin dibandingkan dengan Agustus 2019. Dari hasil tersebut termasuk sarjana dan dapat kita ketahui bahwa tingkat pengangguran sangatlah tinggi.

Namun demikian saya kira hampir semua sarjana mengalami masalah yang sama persis setelah wisuda. Misalnya, beberapa teman saya setelah wisuda satu tahun yang lalu hingga kini masih saja nganggur. Semua itu bukan tanpa alasan karena hari ini sarjana sudah banyak, sehingga sarjana hari ini tidak terlalu di istimewakan. Karena sangatlah berbeda dengan sarjana dua atau tiga dekade yang lalu yang sarjananya masih sedikit sehingga peluang untuk kerjapun masih banyak. Menurut saya meskipun pandemi Covid-19 yang melanda saat ini sepertinya seorang sarjana mesti dapat menciptakan lapangan kerja tersendiri, karena sebagai sarjana memiliki intelektual tersendiri di bidangnya masing-masing.

Kasus tersebut di atas tak jarang dialami oleh penyandang gelar sarjana baru dan ini sekaligus membuktikan bahwa menyandang gelar sarjana itu tidaklah selamanya menyenangkan. Gelar tersebut menuntut untuk bisa dipertanggungjawabkan baik terhadap diri sendiri, keluarga, maupun kepada masyarakat. Tantangan yang harus dihadapi sarjana jebolan zaman sekarang memang lebih besar. Lalu pertanyaanya, mengapa sarjana tak harus nganggur?

Pertama, membuka lowongan kerja sendiri. Muhaimin Iskandar berujar bahwa para sarjana lulusan perguruan tinggi tak bisa lagi hanya mengandalkan ijazah dalam mencari pekerjaan, tetapi harus memiliki keterapilan sehingga dapat terserap pasar kerja dengan cepat. Kata-kata Mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Indonesia itu menegaskan bahwa sarjana tidak harus selalu mengandalkan Ijazah tetapi harus memiliki keterampilan tersendiri.

Menciptakan lowongan kerja sendiri, artinya tidak tergantung pada satu employer untuk bekerja. Dalam hal ini freelancer bisa menciptakan lowongan kerja untuk dirinya sendiri, bahkan yang masih pengangguran pun bisa. Salah satu contoh lowongan kerja di tengah pandemi virus Corona (COVID-19) salah satunya penulis lepas, berbisnis online seperti, makanan, penjualan produk dan mungkin masih banyak yang sesuai dengan jurusan masing-masing. Seperti kata pepatah “Banyak jalan menuju Roma.”

Kedua, meringankan beban orang tua. Membahagiakan orang tua sudah menjadi tanggung jawab dan kewajiban bagi setiap anak. Karena bagaimanapun, karena peran orang tua sejak anak tumbuh hingga meraih sukses dalam karier dan kehidupannya cukuplah banyak.

Meskipun kita tetap tanggung jawab Orangtua, namun beda rasanya ketika kita dapat penghasilan sendiri dan mereka merasa bangga jika kita mandiri tanpa harus membebani. Mebahagiakan orang tua tak hanya rutin menelepon jika jauh dari orang tua.

Ketiga terhindar dari omongan tetangga. Hidup bertetangga itu hal yang wajar sebagai makhluk sosial tetapi tidak lupup dari tantangan tersendiri. Kadang, kita terpaksa menghadapi tetangga yang bergosip soal keluarga kita serta tentang peribadi kita sendiri. Jadi, jika kita tidak mampu merendam emosi terhadap tetangga yang menyebalkan tersebut, persoalan bisa tambah runyam dan makin panjan dan bahkan bisa kita lihat beberapa kasus, ribut dengan tetangga bisa berujung yang akan melibatkan polisi dan pengadilan.

Serasa tetangga sama dengan netizen yang hanya tau komentar tanpa memberikan solusi, tak heran jika survei Digital Civility Index (DCI) 2020 yang dilakukan Microsoft mengatakan Indonesia menyabet gelar warganet paling tak sopan se-Asia Tenggara. Untuk itu jadikan omongan tetangga sebuah motivasi untuk maju.

Disini kita bisa rasakan betapa tidak enaknya menjadi seorang sarjana apa lagi sampai pengangguran,  apa lagi sampai di olok-oloh oleh tetangga. Jadi, seorang sarjana itu mestinya harus mampu membuka lowongan kerja tersendiri karena seorang sarjana harus mampu berkarir serta bersaing. Meskipun memulai karir bukanlah perkara mudah. Akan ada banyak tantangan yang  akan di hadapi untuk meraih kesuksesan tersebut. Tetapi, kita tidak perlu khawatir karena menurut saya semuanya bisa dipersiapkan mulai dari sekarang untuk menata kehidupan yang lebih berguna kedepannya.  Jadilah sarjana yang berguna dan bermanfaat bagi keluarga,  masyarakat sekitar serta bagi bangsa dan negara.