“..dah buka aja bukunya kalau gak bisa..”bisik kakak ke telinga dedek sambil senyum menggoda, saat si Adik mengerjakan ulangan sekolah onlinenya tadi pagi. Saya yang sedang WFH atau bekerja dari rumah terkejut dan melihat ke arah mereka berdua. Kakak sedang istirahat dan dedek tampak berkutat dengan soal di depan lap topnya. Mata saya mengisyaratkan Kakak untuk meninggalkan sang Adik dan tidak mengganggunya. Kejadian sederhana pagi ini, membuat saya merenungkan hal lain di malam ini.

Pembelajaran Jarak Jauh atau Belajar online bagi murid sekolah bukanlah hal yang baru lagi. Tidak hanya bagi karyawan kantoran, anak-anak kita juga menjadi terbiasa bertatap muka dengan guru sekolah melalui layar komputer.  Teman akrab kini adalah papan tuts and tetikus yang kerap kita sentuh. Tawa canda dengan teman kelas sekarang digantikan dengan komunikasi jarak jauh melalui aplikasi. Maka tidaklah mengherankan bila kita akan banyak menjumpai anak maupun orang dewasa yang suka senyum senyum sendiri berhadapan dengan layar handphone mereka.

Mari menilik mengenai pembelajaran system online sesuai dengan judul tulisan ini. Banyak artikel yang saya temui di media menceritakan tantangan dari pembelajaran jarak jauh. Baik tantangan terhadap sekolah itu sendiri maupun murid yang mengikuti kegiatan sekolah tanpa tatap wajah langsung tersebut.

Saya tidak akan membahas masalah infrastuktur, jaringan internet maupun kuota dalam hal ini. Akan tetapi saya melihat dari sudut pandang berbeda sebagai orang tua yang memiliki anak dan ingin berbagi dengan orang tua lain dan guru sekolah bahwa inilah adalah tantangan kita ke depan yang harus kita sadari dan antisipasi.

Sebagai orang tua yang memiliki anak usia sekolah dan mulai bekerja di rumah pada saat diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar, ada beberapa hal yang saya perhatikan yang seharusnya menurut saya bisa kita perbaiki.

Jumlah murid yang cukup banyak dalam satu kelas, sekitar 40 sampai dengan 48 anak per kelas, merupakan tantangan yang cukup besar bagi seorang guru kelas untuk bisa memperhatikan semua muridnya. Cakupan luas pandang dengan menggunakan layar komputer tidak memungkinkan seorang guru bisa melihat dengan details wajah setiap muridnya. Ini merupakan tantangan pertama, apakah muridnya mengantuk? Apakah sang murid memperhatikan topik pembicaraan atau materi yang sedang di sampaikan? Apakah sang murid mengerti apa yang dibahas? Ini kalau kamera computer dibuka dan wajah sang murid terlihat di layar. Bagaimana bila kamera dimatikan atau kamera menghadap ke arah yang bukan seharusnya? Tambah mumet pasti si Bapak dan Ibu Guru.

Tantangan kedua, pada saat Guru ingin menguji tingkat pemahaman murid. Pertanyaan dilontarkan, syukur bila muridnya menjawab meskipun jawabannya salah, tetapi setidaknya menunjukkan bahwa murid tersebut memperhatikan. Akan tetapi bagaimana dengan yang tidak menjawab? Meskipun Bapak Guru atau Ibu Guru terus memanggil? kemudian setelah beberapa saat, saat Bapak atau Ibu

Guru mulai putus asa dan meminta murid lain untuk menjawab, sang murid bersangkutan tadi tiba-tiba menyahut dan mengatakan, dia tidak mendengar pertanyaan tersebut. Jaringannya jelek, jawaban standar menyalahkan kualitas wifi entah punya siapa.

Sang Guru pun tidak bisa berkata – kata, kecuali ikut menyetujui  jaringan adalah sumber masalahnya, dan meminta sang murid untuk menyimak dan bila koneksi terputus bisa bertanya kepada teman yang lainnya jika ada materi yang terlewat.

Apakah si Murid jujur atau tidak? Hanya sang Anak dan Tuhan yang tahu. Contoh lain, pada saat tugas, dengan Handphone di tangan dan layar komputer di depan, melalui aplikasi terkini saling berbagi rasa termasuk jawaban soal bukanlah perkara sulit

Saling bantu dan gotong royong mungkin begitu pikir meraka, konsep yang baik hanya saja di tempat yang salah. Di sinilah tantangannya bagi orang tua dan guru sekolah untuk mengatasi hal ini. Jikalau dibiarkan maka tidak terbayangkan akan seperti apa generasi muda kita di masa mendatang. Mudah menyerah, tidak percaya diri, dan tidak memiliki integritas.

Peran orangtua menjadi sangat penting dengan mengajarkan dan memberikan contoh. Bahwasanya nilai di rapor hanyalah semata nilai di atas kertas dan bukan segalanya. Nilai tersebut tidak akan menjadi arti bilamana si pemilik nilai tidak memahami dengan baik konsep dari satu ilmu. Percuma bila nilai Bahasa Inggrisnya 80 atau 90, akan tetapi pada saat diajak bicara dengan orang asing tidak nyambung, atau pada saat membuat Daftar Riwayat Hidup dalam Bahasa Inggris tata bahasanya berantakan.

Bila nanti mereka menginjak dewasa dan memasuki dunia kerja bukanlah angka di Ijazah yang diperhitungan. Kepribadian dan nilai-nilai positif yang dianut pada setiap individulah yang akan menentukan tingkat keberhasilan seseorang. Daya juang, sikap proaktif, keterbukaan akan hal-hal baru dan mau mempelajarinya merupakan poin penting yang dicari di masyarakat kita.

Di atas tadi merupakan wejangan orang tua, lalu dari sekolah apa yang bisa dilakukan guna mendukung hal ini?  Cara mudah mewajibkan semua kamera dinyalakan, kemudian menambahkan kamera kedua untuk memantau lingkungan sekitar anak untuk memastikan mereka memang menyimak dan mengerjakan sendiri tugas yang diberikan.

Pasti menyelesaikan masalah? Tidak pasti. Cara lain yang menurut saya yang bisa dilakukan tapi akan sulit, adalah mengurangi jumlah murid dalam satu kelas, supaya guru yang mengajar bisa lebih memperhatikan anak-anak di dalam kelasnya.

Jikalau sulit, bisa juga dengan memberikan tugas-tugas dan melibatkan anak murid lebih banyak di dalam kelas. Bukan hanya melulu guru yang terus berbicara memberikan teori, karena sebetulnya teori bisa dibaca, paling penting adalah pemahaman akan konsep yang ingin diajarkan, maka melalui diskusi dan debat akan konsep tersebut pemahaman yang lebih mendalam bisa didapatkan.

Saya yakin, masih banyak cara lain yang bisa kita lontarkan. Paling penting adalah kerjasama antara orangtua dan guru, mari saling bahu membahu guna mewujudkan generasi muda yang lebih baik di masa mendatang. Semangat!