Banyak orang yang bilang kalau usia 20-an adalah usia yang paling krusial dan penting. Di usia ini sering mengalami masa peralihan yang menentukan arah hidup dan kesuksesan yang akan diraih. 

Di usia ini pula kita akan merasa sudah dewasa karena sudah punya prinsip atas jalan hidupmu. Usia 20-an menjadi tolak ukur kedewasaan.

Secara psikologis, seseorang yang menginjak usia 20 tahun dianggap sudah cukup mampu dalam berbagai hal dan juga kita harus paham bagaimana bertindak yang baik dan keputusan apa saja yang harus diambil di usia 20-an. Kenapa? Karena usia 20an akan membentuk diri selamanya.

Memasuki fase dewasa muda, biasanya seseorang diharapkan semakin mandiri dalam banyak hal. Kemudian, mulai merasa memiliki tanggung jawab atas diri sendiri dan bertanggung jawab terhadap apa yang dipilihnya. 

Serta ketika diberi tanggung jawab, maka diharapkan bisa memenuhi tanggung jawab tersebut.

Permasalahannya adalah, tidak semua orang memiliki kesiapan untuk menghadapi tuntutan tersebut. Sehingga mengakibatkan ketegangan secara emosi pada diri individu, emosi sangat mendukung dalam kehidupan manusia, baik emosi positif maupun emosi negatif.

Perilaku positif menimbulkan emosi positif, sedangkan emosi negatif timbul dari perilaku yang tidak menyenangkan bagi kita. Pentingnya individu mengelola emosi dalam kehidupan karena seseorang yang cakap secara emosi akan mampu mengetahui dan menangani perasaan mereka sendiri dengan baik, kecakapan mengelola emosi akan mempunyai andil yang lebih besar dalam kesuksesan seseorang lebih dari mengandalkan kecerdasan intelektual.

Emosi merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia sehari-hari. Emosi tertawa ketika kamu membaca pesan yang lucu atau emosi kesal ketika terjebak kemacetan di jalan, pasang surut emosi yang dialami dapat mempengaruhi kehidupan seseorang manusia. Sebagai manusia, kita memiliki beberapa jenis kecerdasan.

Salah satunya adalah kecerdasan emosional yang juga perlu diasah agar hidup menjadi seimbang. Kemampuan seseorang dalam mengontrol emosi juga sangat mempengaruhi cara orang lain memandang seseorang. Contohnya, jika kamu tertawa membaca pesan tersebut ketika sedang rapat bersama rekan kerja lainnya, tentunya kamu akan mendapat tatapan kesal dari orang-orang tersebut.

Di masa menginjak umur 20 merupakan masa di mana individu mengalami berbagai macam masalah baik secara jasmani serta psikologis yang dikenal dengan periode “badai dan tekanan” (storm and stress). 

Hal ini disebabkan oleh transisi dari masa kanak-kanak menuju masa  dewasa, sehingga  remaja melakukan  pencarian  jati diri. Gardner  (1996) mengemukakan bahwa fenomena  meningkatnya emosi  marah pada  remaja disebabkan  oleh masa transisi atau  masa  peralihan dari  masa anak-anak ke  arah dewasa.

Selama periode transisi  ini, remaja sering kali  dihadapkan dengan berbagai dilema  yang  menimbulkan  masalah-masalah  emosional, seperti ketidakstabilan emosi. Kemarahan adalah emosi  manusia yang penting, tetapi terkadang bermasalah ketika  intens dan diekspresikan dengan cara-cara yang tidak bersahabat, agresif, atau disfungsional lainnya.

Pengendalian emosi sangat penting dalam kehidupan kita, khususnya untuk mereduksi ketengangan yang timbul akibat emosi yang memuncak. Dalam Al-Qur’an adanya petunjuk bagi umat manusia agar mengendalikan emosinya guna mengurangi ketegangan-ketegangan fisik dan psikis serta menghilangkan efek negatif. 

Untuk itu, kita sebagai remaja yang bisa mengelola emosinya dengan baik kemungkinan risiko terkena stres, cemas, dan putus asa menjadi lebih sedikit dibandingkan dengan remaja yang tidak bisa mengelola emosinya dengan baik. Individu yang memiliki kemampuan mengelola emosi akan lebih mudah menangani tersebut.

Cara mengelola emosi adalah kita mulai dari lingkungan kita terlebih dahulu, mungkin sulit untuk dijalani namun dengan memilih teman yang tidak toxic kita akan jauh lebih nyaman dan terhindar dari hal-hal negatif, dan berhenti memikirkan pendapat orang lain tentang diri kita. 

Karena kita tidak akan bisa mengontrol apa yang ada di pikiran orang lain, termasuk penilaian mereka terhadapmu. Terlalu memusingkan pendapat orang lain tentang kita hanya akan menghambat kita untuk berkembang. Lakukan semua yang kita mau selama itu tidak merugikan orang lain.

Dan apabila sedang mengalami suatu masalah kita bisa tetap tenang dan berupaya untuk tetap control diri dengan mencari solusi, namun jika saking kesalnya kita malah panik dan tidak bisa tenang hingga sedih, kecewa, atau marah berlebihan, itu akan berbahaya, dan bisa saja mengalami depresi. 

Maka ada satu yang bisa kita lakukan saat keadaan kalut dan tidak tenang dalam menghadapi suatu masalah kita membutuhkan emotional healing.

Gunanya untuk menyelaraskan emosi, sehingga kita tetap bisa berpikir jernih untuk mencari solusinya. Emotional healing tidak menghilangkan emosi negatif. Jadi kita tetap boleh marah, sedih atau kecewa. 

Bedanya terapi ini membuat kita melampiaskan emosi pada tempatnya dan nggak merusak diri sendiri maupun orang lain sehingga masih bisa terkontrol dan kita coba untuk menghilangkan pikiran-pikiran negatif dan prasangka buruk yang datang.

Bukan berarti menjalankan emotional healing harus dilakukan dengan terapis. Namun, kita bisa mulai dari diri kita sendiri dengan cara yang sangat mudah. Hal pertama adalah menarik napas panjang sehingga bisa bernapas teratur. Tidak harus dengan meditasi yang dilakukan di tempat hening, mengatur napas ini bisa dilakukan di mana dan kapan pun.

Saat marah dan menangis, napas kita pasti pendek sehingga bikin nggak nyaman, makanya disarankan untuk menarik napas yang panjang sembari peluk diri sendiri agar lebih tenang dan nyaman.

Walaupun memasuki 20 tahun merupakan fase yang berat kita tak perlu khawatir akan hal itu, di balik semua ujian semua tantangan yang dihadapi pasti akan memiliki jalan keluarnya sendiri.

Cukup percaya dan yakin, lakukan apa saja yang sesuai dengan apa aja yang kita sukai selama itu kegiatan positif, tidak merugikan orang lain dan akan semakin baik apabila dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar.