Tat kala APP Sinar Mas bersama dengan Qureta ingin mengajak para penulis untuk bisa menyampaikan tentang kertas dan kertas. Yang dimulai dari event pertama setahun lalu yakni cerita tentang kertas yang setelah penulis lihat sosok juara yang diambil oleh para dewan juri adalah mengkaitkan antara kertas dan tulisan yang tujuannya untuk menciptakan paperless society. 

Dan juara kedua yang unik bagaimana inovasi seorang penulis yang ingin menantang para pembaca dan dunia industri  kertas dengan sesuatu yang sepertinya lebih beresiko yakni pemanfaatan daun ganja sebagai komponen pembuatan kertas.

Sungguh menarik ketika menyimak ide dan banyak gagasan yang ditampilkan di dalam event tersebut. Dan penulispun melihat sosok-sosok sang jawara ini tidak terlibat lagi di dalam event yang kedua dengan tema yang hampir mirip, yakni kertas dan kita.

Tak bisa dipungkiri bahwa kertas akan selalu ada bersama dengan kita dan juga merupakan bagian dari kehidupan kita. Tanpanya kita bisa membuat sebuah konsep atau sebuah perencanaan yang jauh lebih baik dengan sebuah goresan tangan dibandingkan dengan pemakaian gawai bahkan notebook sekalipun.

Sebab kita bisa menyentuh langsung ide dan gagasan yang meskipun abstrak tapi jauh lebih kelihatan dan jauh lebih hidup hasilnya. Tentu para desainer seperti baju, rumah ataupun kota bisa lebih jauh merasakan nikmatnya pemakaian kertas tersebut untuk bisa membuat konsep kekiniannya.

Keberadaan kertas bagi penulis juga tentu tak bisa diabaikan. Apalagi jika kertas tersebut berubah menjadi sebuah buku cetak yang berisi tentang tulisan kita, buku tersebut akan aberubah menjadi sebuah karya masterpiece yang keberadaannya akan bisa dikenang selalu. Dan satu buku ke buku yang lain yang diterbitkan menjadi suatu momentum eksisnya sang penulis tersebut di dalam menghasilkan karya demi karya.

Meskipun tak bisa menampik buku berupa digital juga semakin subur berkembang di tanah air kita. Tapi keberadaan buku fisik sampai sekarang  belum bisa tergantikan. Hal tersebut dibuktikan dengan masih banyaknya dan masih eksisnya sampai sekarang para pencetak dan penerbit buku yang ada.

Dan kini yang justru yang menjadi kendala adalah minat baca yang mungkin masih kurang di bangsa ini. Bahkan hal tersebut semakin diperparah dengan mahalnya buku-buku yang dijual di toko-toko buku.

Keberadaan kertas bagi dunia industri juga bisa dipastikan akan sangat dibutuhkan. Baik itu fungsinya untuk pe-label-an hingga packaging-nya, tak sedikit yang menggunakan kertas. Bersama dengan pemakaian plastik sekali pakai yang berlebihan justru kini menimbulkan suatu masalah baru bagi kelestarian lingkungan kita.

Laut kita yang paling terdampak akibat dari eksploitasi secara berlebihan terhadap produk-produk kemasan sekali pakai. Bagaimana banyak ikan-ikan justru mengkonsumsi pecahan-pecahan plastik tersebut. Dan seperti yang sudah kita lihat, banyak ikan-ikan yang mati olehnya. Miris kita melihatnya tapi itu terjadi karena memang oleh ulah kita sendiri.

Sampai-sampai ada gerakan untuk mengembalikan sampah-sampah kemasan sekali pakai itu untuk dikembalikan lagi berjuta-juta ton kepada si pem-produksi kemasan-kemasan tersebut. Dan perusahaan yang paling kena sorot tersebut adalah perusahaan Nestle. Dengan bentuk-bentuk kemasan menyerupai monster supaya pihak perusahaan Nestle bisa memperhatikan bagaimana kerusakan yang sudah ditimbulkannya akibat sampah yang sebenarnya sudah sulit diterima kembali oleh bumi.

Lambatnya penguraian sampah plastik menjadi penyebab semakin bergunung-gunungnya plastik tertimbun di tempat-tempat pembuangan akhir sampah. Ditambah lagi dengan kebiasaan kita, yang memang doyan memakai kantong plastik sekali pakai jikalau berbelanja tanpa mau berupaya untuk memakai tas belanja.

Pemerintah bersama para pelaku dunia industri sebenarnya juga sudah memikirkan tentang permasalahan ini. Bagaimana plastik-plastik kemasan tersebut bisa kembali digunakan? Dimana menurut kemenperin produksi plastik nasional kita mencapai 4,6 juta ton pertahunnya. Dan hanya 20 persen dari situ yang bisa dipergunakan kembali.

Itu artinya sampah yang tak lagi digunakan dan akan tetap menjadi tumpukan sampah di bumi kita sumbangan Indonesia mencapai 3,6 juta ton per tahunnya. Angka yang cukup ngeri jika hal ini tetap dipertahankan tanpa ada solusi yang tepat.

Dunia industri kertas juga sama halnya. Dengan bergeliatnya Industri kertas kita yang bahkan kini kita sudah masuk 10 besar Industri kertas dan pulp. Menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi kita di dalam menyiapkan produksi kertas maupun pulp kita tetap stabil.

Apalagi perkembangan dan prospek bisnis bidang kertas dan pulp saja khusus di tahun ini akan meningkat atau tumbuh  5 persen. Dengan data yang dimiliki oleh Kemenperin ada 84 perusahaan pulp dan kertas di Indonesia. Dan khusus tahun lalu saja produksi industri kertas kita mencapai 16 juta ton kertas dan untuk pulp sebesar 11 juta ton.

Bahkan dengan bergeliatnya industri kertas kita,banyak negara-negara asing menuduh kita melakukan praktik dumping. Karena harga kertas kita bisa jauh lebih murah dibandingkan dengan negara-negara lain.

Artinya dengan perkembangan dan prospek industri kertas kita yang tiap tahun semakin meningkat tajam, maka kebutuhan akan bahan baku dasar untuk bisa mencukupi pangsa pasar kita juga tentu akan semakin meningkat.

Dimana kayu sebagai sumber untuk memproduksi kertas akan berasal dari penebangan pohon dari hutan-hutan kita. Jika tidak ada persiapan lahan hutan seperti yang sudah dikerjakan oleh Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas, yang merupakan salah satu bagian industri kertas di tanah air. 

Tentu keberadaan industri kertas ini akan menjadi sebuah ancaman. Bahkan akan mengalami penolakan besar-besaran seperti yang terjadi pada PT Indorayon yang ada di Tobasa, Sumatera Utara. Dan kini telah mengalami perbaikan demi perbaikan baik sistem maupun pengelolaannya.

Seperti yang dilansir oleh Asiapulppaper.com (4/4/2019) sistem APP dengan menerapkan praktik bisnis berkelanjutan, seperti program pemberdayaan desa lewat program Desa Makmur Peduli Api, berhasil memberikan dampak kepada keluarga petani dari 284 desa-desa yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Bahkan dengan pola yang berkelanjutan justru APP Sinar Mas bisa meraih empat penghargaan dalam ajang Indonesia Green Awards (IGA) 2019.

Yakni untuk satu penghargaan karena berhasil dalam Penanganan Sampah Plastik. Daua penghargaan kategori Pengolahan Sampah Terpadu. Serta APP Sinar Mas juga mendapat kehormatan untuk menerima The Best Program Indonesia Green Awards dalam kategori Mengembangkan Keanekaragaman Hayati.

Butuh Inovasi Lebih

Lebih dari semua penghargaan yang didapatkan tentu semua kita juga dunia industri harus bisa memikirkan solusi dan inovasi yang  lebih lagi. Seperti halnya tadi penyerapan produksi plastik dari 20 persen saja, kenapa tidak untuk ditingkatkan hingga bahkan setengahnya bisa kita serap kembali. Atau bahkan jika bisa memungkinkan kenapa tidak produksi plastik yang dihasilkan bisa dimanfaatkan kembali hingga mencapai 100 persen.

Jika ini tercapai tentu tiap tahun produksi plastik kita zero sampah plastik. Maka peringkat dunia kita yang kini sudah menjadi peringkat kedua penyumbang sampah plastik terbesar tentu akan menurun drastis.

Kedua, inovasi untuk memproduksi kertas dari bahan plastik. Dimana hal ini sudah dipraktekkan di Mexico. Lewat penemuan Adrian Nava telah berhasil membuat sebuah mesin yang bisa memproduksi kertas dengan berbahan baku dari plastik-plastik bekas atau botol.

Juga disinyalir dengan teknologi “Cronology” yang digunakan justru sama sekali tidak membutuhkan bahan kimia pembuat kertas seperti klorin yang bisa berdampak negatif terhadap kelestarian lingkungan dimana industri tersebut berasal. Bahkan ini bisa menghemat ongkos produksi 15 persen. Kemudian untuk bisa menghasilkan kertas 1 ton dapat dibuat dengan hanya 235 kg pelet atau pecahan plastik dan hanya dalam waktu 8 jam.

Apa yang bisa kita simpulkan dengan ini semua. Kertas dan plastik adalah kebutuhan kita. Kita berhasil memproduksinya tentu harus bisa mempertanggungjawabkan kembali sisa-sisa dari produksi tersebut. Supaya tidak bisa menjadi sampah.

Dan terlebih dari itu semua, jika hulu sudah beres, tentu hilir juga harus berbenah. Yakni masyarat sebagai pengguna akhir. Juga harus punya tanggung jawab di dalam mengelola tiap-tiap produk yang dibelinya. Mengubah kebiasaannya di dalam berbelanja seperti salah satu kebiasaan untuk membawa tas belanja.

Mengubah strategi tiap-tiap rumah tangga di dalam mengelola sampahnya sehingga akhirnya minim atau zero sampah. Dengan meminjam strategi dari Penggerak Kota Tanpa Sampah mulai dari strategi pintu depan, pintu tengah hingga pintu belakang.

Pada pintu depan, berupaya mengurangi (reduce) masuk sampah-sampah plastik ke rumah kita. Pada pintu tengah, yaitu pakai ulang (reuse) seperti memperbaiki jika ada barang-barang rusak dan tidak langsung membuangnya. Dan pada pintu belakangnya  adalah daur ulang (recycle) dengan mengubah sampah akhir menjadi suatu benda yang lebih bermanfaat. Seperti halnya membuat kompos dari sisa-sisa bahan makanan kita.