Dinamika zaman semakin tak terelakkan, menuntut kita untuk lebih berpikiran terbuka dan berpandangan lebih jauh (open minded and liberating development) di tengah-tengah euforia perkembangan zaman yang semakin menggila. Demikian juga dengan seluk beluk ajaran Islam yang kian hari sudah barang tentu ikut mengalami perkembangan pula.

Tentu hal ini berdampak pada eksis atau tidaknya agama itu sendiri. Zaman wali songo bisa dikatakan Islam di Indonesia sedang berada pada fase klasik, yang mana ajaran Islam kerapkali kental dengan tradisi lokal. Ahli sejarah mengatakan bahwa fase itu, kata tradisionalis sempat disematkan setelah kata 'Islam' yang akhirnya dikenal dengan sebutan Islam Tradisionalis.

Pada fase kontemporer, di mana muncul berbagai permasalahan kompleks dalam mengarungi samudra kehidupan, menyadarkan kita betapa perlunya solusi-solusi kekinian yang tak juga boleh terlepas daripada tuntunan ajaran Islam. 

Abad 17 sampai 19 di mana pada fase ini mulai muncul terkait masalah-masalah yang sebegitu kompleksnya. Hingga puncaknya pada permulaan abad 20, masuklah manusia sebagai obyektifitas global dalam mengenyam masa-masa pembaharuan atau lebih akrab disebut dengan fase modernitas.

Pada fase modernitas atau modern banyak sekali hal-hal yang menyangkut perihal keagamaan diiringi dengan makin maraknya pergolakan pemikiran Islam yang timbul dari berbagai kalangan cendekiawan maupun kaum intelektual lainnya.

Perihal ini tentu tidak lepas daripada syariat-syariat Islam yang seiring dengan perkembangan zamannya memerlukan solusi alternatif yang lebih praktis dan komprehensif. 

Di tengah pusaran arus global yang semakin tak terbendung, para intelektual Muslim berupaya untuk melakukan segala terobosan baru untuk mengatasi hal-hal keagamaan yang semakin hari semakin kompleks.

Tentu dalam aplikasinya, terdapat berbagai perbedaan daripada prosedur pelaksanaan syariat Islam di zaman kekinian, namun tidak mengurangi sedikitpun substansi daripada ajaran Islam itu sendiri.

Para intelektual Muslim di zaman modern ini berusaha untuk melakukan ijtihad demi ijtihad untuk merelevansikan antara syariat Islam dengan realita kehidupan masyarakat sekarang. Ijtihad tersebut dapat berupa penginterpretasian ulang terhadap ayat-ayat suci Al-Qur'an dan hadist maupun mengkaji secara mendalam terhadap makna-makna tersembunyi dari setiap ayat yang tertera dalam Al-Qur'an. 

Adanya ijtihad tersebut akhirnya menyadarkan kita bahwa perlunya suatu upaya untuk menyesuaikan antara teks dengan konteks (bayna an-nash wa as-siyaaq). Teks yang dimaksud adalah hal-hal yang menyangkut aspek secara tersurat (qauliyyah) maupun tersirat (kauniyyah) dalam Al-Qur'an. Sedangkan, konteks sendiri, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan realitas kehidupan masyarakat pada umumnya yang terjadi saat ini.

Budaya, strata sosial, nilai, dan norma merupakan unsur penting yang terdapat dalam konteks. Dengan kata lain, segala perihal yang kita lihat, dengar, dan rasakan dalam kehidupan kita di dunia sekarang itu semua adalah bagian dari konteks.

Kaum intelektual meyakini bahwa teks tidak akan pernah lepas dari konteks, begitupun sebaliknya. Namun, jika ada pertanyaan mengenai manakah yang muncul terlebih dahulu teks dahulu atau konteks dahulu atau keduanya muncul secara bersamaan?

Penulis dalam hal ini ingin berasumsi bahwa kontekslah yang terlebih dahulu muncul sebelum adanya teks. Hal ini dapat dilihat dari segi historisnya bahwa Al-Qur'an dan Muhammad hadir di tengah-tengah gemerlapnya dunia. Saat itu peradaban manusia sudah tak ada lagi nilai dan harganya.

Hancurnya peradaban masyarakat kala itu ditandai dengan kotornya praktik-praktik kehidupan masyarakat yang jauh daripada moralitas agama. Perbudakan, mabuk-mabukan hingga perzinahan hampir mewarnai seluruh aspek kehidupan masyarakat Arab saat itu.

Maka keduanya (Al-Qur'an dan Muhammad) muncul sebagai harapan baru untuk memperbaiki segala bentuk kerusakan dalam kehidupan bagi semesta yang hampir hancur itu dengan misi yang utama liutammima makaarimal akhlaq. Dalam bahasa Qur'annya disebut dengan kata minadzdzulumaati ilaan nuur.

Dengan demikian, adanya Al-Qur'an dan Muhammad sebagai bukti bahwa teks muncul setelah adanya konteks. Oleh karena itu, keduanya saling memiliki keterikatan dan keterkaitan.

Sekali lagi, penulis tegaskan bahwa hadirnya Al-Qur'an dan Muhammad tepat di saat-saat dunia sedang mengalami kegoncangan dan krisis moral yang hampir saja meluluhlantahkan peradaban manusia.

Berkaitan dengan relevansinya antara ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan konteks zaman yang tengah dihadapi manusia sekarang ini, tentulah tidak serta merta menjadikan syariat Islam sama dengan tradisi atau budaya setempat yang kita diami.

Dengan kata lain, syariat harus memiliki kedudukan tinggi atau kulminasi lebih daripada budaya (culture) itu sendiri. Walaupun beberapa ahli mengatakan kultur masyarakat sekarang dapat disesuaikan dengan reinterpretasi terhadap ayat-ayat suci Al-Qur'an, namun tidak pantas ketika kita cenderung mengedepankan tradisi ketimbang inti ajaran Islam.

Untuk lebih jelasnya akan penulis uraikan deskripsinya sebagai berikut agar pembaca dapat dengan mudah memahami gagasan apa yang penulis maksud. 

Konsep untuk menjalankan syariat ajaran Islam sebetulnya mudah saja dan jauh dari kata rumit serta tidak seperti apa yang mungkin sebelumnya kita bayangkan. Hanya saja terkadang dari diri kita sendirilah yang menjadikan seolah-olah menjalankan ajaran Islam itu repot atau meminjam istilah zaman sekarangnya rempong.

Padahal, dalam menjalankan ajaran Islam itu sendiri justru jauh dari kata-kata tersebut. Di zaman yang sudah serba canggih ini, orang-orang seringkali berpikiran kolot, picik, bahkan sempit. Jika timbul hal-hal demikian, seharusnya mereka sadar betul bahwa mereka tengah berada di zaman yang segala sesuatunya dapat dilakukan dengan mudah, pun termasuk menjalankan syariat-syariat ajaran Islam.

Dan yang lebih parahnya lagi, mereka yakin dan berani sekali untuk menjadikan Islam sebagai sebuah tradisi belaka, bukan sebagai sebuah agama sebagaimana mestinya.

Bila ditinjau berdasarkan psikologi agama, seluruh agama termasuk Islam muncul di alam bawah sadar manusia, sedangkan tradisi tidak demikian. Sederhananya, tradisi yang muncul dalam lingkungan masyarakat sebab akibat dari adanya suatu problematika sosial yang tengah dihadapi dan dilakukan masyarakat tertentu secara terus menerus hingga menjadi suatu kebudayaan yang mutlak.

Di samping itu, tradisi telah mengakar kuat dari ajaran-ajaran nenek moyang yang dibawa sejak dulu dan hingga kini masih terus dilestarikan oleh para generasi penerusnya. Berdasarkan keterangan demikian, tentu kita akan sepakat mengatakan bahwa sebuah ajaran agama yang sebenarnya dibalut dengan suatu tradisi tertentu memiliki kompleksitas maupun keterkaitan yang kuat.

Bagaimana tidak, mereka seakan-akan menjadikan agama sebagai sebuah ajaran tradisi yang harus terus dipertahankan. Dengan kata lain, ajaran agama mandek hanya sebatas untuk memenuhi syarat terlaksananya suatu tradisi tertentu. Dari sini sudah sangat jelas, masyarakat kita pada umumnya tidak mau melakukan suatu perubahan atau kemajuan-kemajuan yang sudah seyogianya dilakukan. 

Oleh karena di zaman yang serba canggih ini, di mana kemajuan teknologi kian hari kian membabi-buta, hingga gejolak-gejolak yang timbul darinya kian meningkat drastis bahkan semakin sadis, tentu tantangan-tantangan yang silih berdatangan jauh menuntut kita untuk lebih inovatif, kreatif, dan kritis. 

Beragam tantangan yang tengah dihadapi umat saat ini seharusnya menjadi langkah awal kita untuk melakukan suatu hal yang sifatnya berkemajuan dan memberikan dampak yang positif bagi kemaslahatan umat.