Pada bulan November 2022 yang lalu, Presiden Joko Widodo menerima tongkat estafet kepemimpinan ASEAN dari Perdana Menteri Kamboja pada upacara penutupan KTT ke-40 dan ke-41 yang diadakan di Kamboja. Dengan penyerahan tersebut, menandai bahwa Indonesia akan secara resmi menggantikan Kamboja sebagai ketua ASEAN pada tahun 2023.

Penyerahan tongkat estafet kepemimpinan di ASEAN ini dilakukan sesuai dalam piagam ASEAN yang mengatur mengenai ketua ASEAN. Pada pasal 31 Piagam ASEAN, keketuaan ASEAN diatur secara bergantian setiap tahunnya, berdasarkan urutan abjad nama-nama Inggris dari negara anggota; Brunei Darussalam, Cambodia, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Philippines Singapore, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam.

Menurut Piagam ASEAN,  para pemangku titel Ketua ASEAN memiliki kewajiban untuk aktif dalam memajukan dan meningkatkan kepentingan dan kesejahteraan. Termasuk membangun Komunitas ASEAN melalui inisiatif kebijakan, koordinasi, konsesu dan kerja sama. 

Menempati posisi sebagai Ketua ASEAN bagi Indonesia bukanlah hal yang baru. Sejak berdirinya ASEAN tahun 1967, Indonesia telah memangku status sebagai Ketua ASEAN sebanyak 4 kali. Dan pada tahun 2023 nanti, akan menjadi yang kelima kalinya bagi Indonesia memegang status tersebut. 

Kiprah Indonesia selama menjabat sebagi Ketua ASEAN cukup memiliki peran yang besar seperti ikut andil dalam bidang ekonomi dan keamanan. Namun jika dilihat kembali, dengan menjadi ketua ASEAN tidak semerta-merta menjadikan Indonesia sebagai negara yang superpower. 

Karena sejatinya tugas ketua ASEAN ini hanya sebagai negara yang akan menyelenggarakan KTT ASEAN dan KTT lainnya yang terkait, menjabat Dewan Koordinasi ASEAN, menjabat sebagai Dewan Komunitas ASEAN, dan lain-lain. Dan juga disisi lain, Indonesia akan menerima eksistensi di luar atau bagian eksternal dari ASEAN ini sendiri.

Berbagai harapan yang muncul terus berdatangan seiring dengan menjabatnya Indonesia sebagai Ketua ASEAN pada tahun 2023 nanti, seperti ASEAN dapat menjadi kawasan yang stabil, damai, dan menjadi jangkar stabilitas dunia di masa mendatang, ASEAN menjadi kawasan yang bermartabat dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi, memunculkan ide dan inisiatif baru dalam mengatasi tantangan dan isu-isu krusial lainnya yang menjadi perhatian kawasan dan dunia, dan menumbuhkan ekonomi di ASEAN dengan pesat, inklusif,  dan berkelanjutan. 

Dan untuk Indonesia sendiri, dengan dijadikannya Indonesia sebagai Ketua ASEAN nanti akan berdampak dalam meningkatkan potensi devisa negara baik di pusat maupun di daerah.

Meskipun harapan-harapan terus bermunculan terhadap Indonesia, namun hal tersebut hanya akan berhasil jika Indonesia memipin ASEAN dengan cara-cara yang efektif dan terbaru.

Tantangan yang terus hadir bagi Organisasi Kawasan akan menjadi fokus utama dalam menjalankan jabatan yang efektif sebagai Ketua ASEAN 2023 nanti. Karena banyak isu-isu yang berada di kawasan ASEAN, baik itu isu baru maupun yang telah lama terjadi belum terselesaikan dengan baik oleh keketuaan sebelumnya. Terlebih lagi pada tahun sebelumnya Brunei dan Kamboja melakukan jabatan hanya berkontribusi secara pasif bagi kawasan ASEAN.

Tantangan Indonesia

1. Perkembangan Rivalitas antara AS dan Cina di Kawasan ASEAN

Kompetisi kekuatan besar merupakan fenomena geopolitik yang telah lama membentuk Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Untuk mempertahankan otonominya dari tekanan eksternal, ASEAN mendorong gagasan “sentralitas ASEAN” yang menempatkan organisasi ini sebagai aktor utama dalam mendorong hubungan di kawasan. Namun, rivalitas antara Amerika Serikat (AS) dan Cina yang meningkat pesat memberikan tantangan tersendiri bagi posisi ASEAN.

2. Kerjasama ASEAN dengan QUAD

Empat negara yang tergabung dalam Quad, yaitu Amerika Serikat (AS), Australia, India, dan Jepang, menegaskan komitmennya untuk memperkuat kerja sama dengan ASEAN guna mendukung upaya memajukan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka, kawasan yang inklusif dan tangguh , yang di dalamnya terdapat negara-negara yang berusaha melindungi kepentingan rakyatnya, bebas dari paksaan. Indonesia akan memberikan kebijakannya mengenai hal tersebut dan memperhatikan keuntungan dan kerugiannya bagi kawasan ASEAN.

3. Kerjasama ASEAN dengan AUKUS

AUKUS yang merupakan aliansi tiga negara atau trilateral dari Australia, Inggris Raya dan Amerika Serikat, dibentuk dengan agenda utama penguatan kerja sama militer, yang bertujuan untuk meningkatkan keamanan dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik. 

Dengan adanya kerjasama ASEAN dan AUKUS akan menciptakan dinamika hubungan internasional terkait isu yang berada di kawasan ASEAN, salah satunya Laut Cina Selatan.

4. Ketegangan Laut Cina Selatan

Laut Cina Selatan yang merupakan salah satu perairan strategis yang diperebutkan oleh Cina dan beberapa negara di ASEAN. Setidaknya terdapat enam negara yang memperebutkan Laut Cina Selatan, yaitu Cina, Filipina, Taiwan, Brunei, Malaysia, dan Vietnam. 

Upaya saling klaim tersebut menjadikan Laut Cina Selatan sebagai sengketa kedaulatan yang melibatkan lebih dari dua pihak. Dengan terlibatnya anggota ASEAN, hal ini akan menjadi salah satu agenda bagi ASEAN sendiri.

5.  Situasi Krisis Pasca-kudeta oleh Militer Myanmar

Setelah terjadinya kudeta oleh militer Myanmar, rezim tersebut melakukan penundaan pemilu dan perpanjangan keadaan darurat sebagai langkah ke arah yang salah dari seruan internasional untuk pemulihan demokrasi. 

Bahkan negara lain menyebutkan bahwa hal tersebut dilakukan untuk mengulur-ulur waktu untuk melakukan pemilu agar terus berkuasa. Dan ASEAN akan dituntut untuk memberikan langkah tegas terhadap keadaan tersebut.

6. Dampak Perang Rusia-Ukraina

Perang Rusia-Ukraina yang terjadi memberikan dampak yang signifikan terhadap dunia Internasional, terutama dalam hal perekonomian. Hal ini juga berdampak bagi kawasan ASEAN. 

Seperti beberapa pemangkasan angka pertumbuhan ekonomi yang mana beberapa negara di ASEAN terdampak cukup berasa. Maka Indonesia akan menggunakan ASEAN sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi di ASEAN.

Tentu saja dengan dijadikannya Indonesia sebagai ketua ASEAN tidak akan menghadapi jalan yang mulus, melainkan akan menghadapi tantangan-tantangan yang krusial bagi masa depan kawasan ASEAN. Dan Indonesia yang akan memegang jabatan Ketua ASEAN pada tahun 2023 nanti diharapkan mampu memberikan kebijakan yang efektif dan terbaru bagi kawasan ASEAN.