Freelancer
2 bulan lalu · 362 view · 5 min baca menit baca · Politik 26337_55293.jpg
WUCT-UMEC News

Tantangan Demokrasi di Era Pasca-Kebenaran

Inti dari demokrasi adalah suatu rasionalisasi kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Kira-kira begitu penegasan dari F. Budi Hardiman dalam buku “Demokrasi dan Sentimentalitas”. Tentu saja penegasan ini dilandasi oleh teks-teks akademis yang kokoh, di antaranya adalah teks Immanuel Kant, filsuf Jerman yang kenamaan itu. 

Namun penegasan itu segera mendapat pengingkaran dari Yuval Noah Harari. Dalam buku 21 Lessons for the 21stCentury, terutama pada Bab 3 yang membahas tema kebebasan, dosen Hebrew University of Jerusalem itu menyatakan bahwa demokrasi bukanlah tentang pikiran rasional, melainkan tentang perasaan manusia. 

Jika demokrasi adalah tentang pikiran, maka suara Albert Einstein dan Richard Dawkins dalam Pemilu tidak akan sama dengan seorang pembantu rumah tangga yang buta huruf. Tetapi karena demokrasi adalah tentang perasaan, maka Einstein dan Richard Dawkins tidak lebih baik dibanding seorang pembantu rumah tangga itu. 

Demokrasi, lanjut Harari, menempatkan perasaan manusia sebagai otoritas tertinggi. Sebab pada dasarnya demokrasi mengasumsikan bahwa perasaan manusia mencerminkan kehendak bebas yang mendalam. 

Jadi, sekali lagi, menurut Harari, demokrasi bukanlah tentang pikiran, melainkan tentang perasaan manusia di mana semua manusia adalah sama derajatnya. Pemilu dan referendum adalah tentang ekspresi perasaan dalam kertas yang disebut surat suara.

Yang kemudian menjadi persoalan adalah jika demokrasi adalah tentang perasaan manusia, bagaimana jika seseorang di Jepang atau di mana pun kemudian menemukan teknologi yang dapat membolak-balikkan atau dapat memindai data biometrik perasaan manusia? 

Maka, kata Harari, persis di sinilah letak kelemahan demokrasi liberal. Jika teknologi seperti itu telah ditemukan, maka demokrasi akan menjadi pertunjukan boneka emosional. 

Namun, apakah pembolak-balikan atau permainan perasaan manusia harus menunggu teknologi secanggih itu? Jawabannya tidak. Saat ini, tanpa disadari, algoritme Facebook sudah lama memainkan peran itu.

Algoritme Filter Bubble (Gelembung Penyaring)


Jika Anda adalah orang yang sehari-hari berselancar di Facebook, Anda tidak akan kesulitan memahami algoritme ini. Dalam berselancar di media sosial milik Mark Zuckerberg itu, Anda menulis status, mem-posting foto, menyukai sesuatu, mengomentari, membagikan berita, dan lain sebagainya.

Jangan pernah berpikir bahwa semua aktivitas Anda selama berselancar di Facebook menguap begitu saja. Semua yang Anda lakukan meninggalkan jejak digital yang membuat Facebook tahu apa yang Anda sukai, tempat mana yang paling Anda senangi dan paling sering dikunjungi, berita apa yang sering Anda baca dan bagikan, dan lain sebagainya. 

Di sinilah algoritme filter bubble memainkan peran. Algoritme ini berfungsi untuk mengenali apa yang diinginkan dan mempermudah pengguna Facebook menemukan pencarian hal-hal yang disukai dalam platform media sosial itu. Dasarnya adalah data like dan seluruh aktivitas yang pernah kita lakukan dan terekam oleh algoritme media sosial itu.

Visi utama Facebook adalah membuat penggunanya nyaman untuk berlama-lama pada platform mereka. Algoritme filter bubble memainkan peran ini. Berkat algoritme ini, wall Facebook kita hanya dipenuhi oleh deretan hal-hal yang kita inginkan. Ya, kita dibuat senyaman mungkin, karena semua yang kita temukan hanya posting yang sejalan dengan perasaan kita.

Tapi algoritme filter bubble yang membuat pengguna Facebook nyaman ini bukan tanpa masalah. Pengguna yang hari-hari hanya disuguhi satu jenis hidangan informasi akan memandang dunia hanya dalam satu sisi saja. 

Pada taraf tertentu, terjadi apa yang disebut oleh Tom Nichols sebagai “bias konformasi”: ketika kita hanya mengonfirmasi dan percaya satu jenis informasi saja dan mengabaikan informasi lainnya dalam menentukan apa yang benar dan salah. 

Bias konfirmasi susah dihadapi karena orang yang mengalaminya dapat menjelaskan sisi kebenaran dari satu jenis informasi yang diterimanya, biasanya disertai dengan bukti-bukti. Problemnya adalah seseorang yang mengalami bias konfirmasi akan mengabaikan informasi lain yang bisa jadi kebenarannya lebih dapat dipercaya. 

Contohnya: orang yang ketakutan menggunakan kompor gas akan mengonfirmasi satu informasi saja, yakni kebakaran yang disebabkan oleh tabung gas. Orang ini akan memaparkan bukti-bukti akurat tentang kasus kebakaran akibat tabung gas dan mengabaikan fakta lain bahwa tetangganya dan puluhan ribu orang lainnya adalah pengguna kompor gas yang sudah bertahun-tahun menyimpan tabung gas di dapurnya. Orang ini akan tetap pada pendiriannya, sekuat apa pun Anda memberikan penjelasan.

Dalam politik, ketika kita hanya terpapar satu jenis informasi terkait satu kubu politik tertentu, kita akan sulit menerima kebenaran dari kubu politik lainnya. Algoritma filter bubble memainkan ini dengan sangat baik. Dinding Facebook kita akan dipenuhi berita-berita yang kita senangi.

Jika kita sering membuka dan me-like dan membagikan posting yang menjelekkan satu kubu dalam politik, maka algoritme filter bubble akan mengabulkan itu dan memenuhi dinding Facebook kita dengan informasi dan berita-berita serupa.

Dalam kondisi hanya terpapar satu jenis informasi, nalar dan perasaan kita menjadi tidak autentik. Hari-hari kita disuguhi informasi yang membuat kita membenci dan berprasangka buruk terhadap pihak lain. Akibatnya, semua klarifikasi dari pihak lain itu menjadi sia-sia. Kita menjadi manusia bigot yang hanya melihat dunia dalam satu sisi saja. 


Di sinilah penyebaran hoax dan fake news menjadi masif dan mendapatkan tempat yang baik di hati banyak orang. Emosi kita telah diaduk-aduk oleh sebuah algoritme bernama filter bubble. Pada tahap ini, kehadiran algoritme filter bubble memperkokoh apa yang disebut sebagai post-truth era atau era pasca-kebenaran.

Demokrasi dalam Era Pasca-Kebenaran

Jika dimaknai secara sederhana, era pasca-kebenaran adalah sebuah era di mana dalam menentukan kebenaran, kredibilitas fakta dikalahkan oleh emosi. Orang-orang akan lebih percaya pada apa yang diyakininya sebagai benar meskipun fakta berbicara lain. 

Menurut Romo Haryatmoko, intinya dalam era ini adalah banalisasi kebohongan. Kebohongan menjadi hal biasa sehari-hari dan bahkan dianggap sebagai sebuah kebenaran alternatif. 

Dalam politik, ucapan seorang tokoh dianggap benar bukan karena ucapan itu didukung oleh fakta, melainkan siapa yang mengucapkan itu dan dari kelompok mana ia berasal. Jika dia adalah tokoh yang saya senangi, maka semua yang diucapkannya diterima sebagai kebenaran. Selesai diskusi.

Fenomena Brexit menyadarkan kita akan era pasca-kebenaran ini. Warga Inggris yang semula memilih leave (agar Inggris keluar dari Uni Eropa) akhirnya harus menyesal pasca-referendum setelah mengetahui kebohongan-kebohongan yang mereka percayai dalam kampanye Brexit dan Inggris akan benar-benar keluar dari Uni Eropa. 

Dalam kampanye Brexit, Nigel Farage (Pemimpin Partai Kemerdekaan Inggris) mengeklaim bahwa Brexit akan menyelamatkan dana kontribusi Inggris untuk Uni Eropa sebesar 350 juta dan akan menyalurkannya ke layanan kesehatan nasional. Pasca-referendum Brexit, Nigel Farage mengakui ucapannya itu sebagai sebuah kesalahan. 

Pada era pasca-kebenaran, diperrumit dengan munculnya algoritme Facebook yang melahirkan manusia-manusia bigot; bagaimana kita membayangkan situasi demokrasi yang katanya rasional? 

Benar kata Yuval Noah Harari, demokrasi bukanlah tentang pikiran melainkan tentang perasaan. Jika perasaan kita dapat dibolak-balik oleh sebuah algoritme, maka perasaan mendalam khas manusia yang dijunjung tinggi dalam demokrasi menjadi dangkal, tidak autentik, menjadi tidak penting lagi. 

Demokrasi seperti ini hanya melahirkan pertunjukan boneka emosional. Kita sudah menyaksikan hal itu setiap hari ketika melihat debat kusir di media sosial tentang pilihan mereka. Kita menyaksikan banyak ungkapan emosional, kemarahan, tuduhan, ejekan yang bertebaran di media sosial. Perasaan kita benar-benar telah dibolak-balik oleh algoritme dan menjadi tidak autentik


Kira-kira inilah situasi politik yang kita alami hari-hari ini. Yang menjadi persoalan saat ini adalah apakah demokrasi akan benar-benar mati jika kehendak bebas manusia yang dijunjung tinggi dalam demokrasi liberal sudah tercemar oleh teknologi?

Ada kemungkinan demokrasi yang hari ini tampak kokoh akan bernasib sama seperti para pendahulunya, fasisme dan komunisme. 

Ya, setiap perubahan besar dalam masyarakat akan menyebabkan disrupsi dan untuk memperbaikinya diperlukan tata sosial baru. Dalam sudut pandang itu, ada dua kemungkinan: demokrasi ditingkatkan sistemnya atau diganti sama sekali dengan sistem baru.

Artikel Terkait