Dari samping masjid, saya menyimak ceramah tarwih malam itu. Dimana sang penceramah memulai penjelasannya bahwa penderita penyakit lain lebih banyak yang meninggal berbanding dengan corona.

Tetap menyimak, sampai selesainya ceramah.

Sehabis itu justru saya yang kemudian berjibaku dengan pelbagai ujaran yang dikemukakan oleh sang khatib.

Senyampang itu juga menyimak sekilas bahwa ada penceramah yang dibacok dengan parang di daerah kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Dimana ustadz tersebut menyinggung perilaku jamaah. Sementara salah seorang diantaranya tidak menerima penyampaian di mimbar tadi.

Ini dua hal yang berbeda. Namun dari sini, apa yang menjadi kewajiban seorang sarjana ketika didapuk berbicara dengan masyarakat, senantiasa perlu menggunakan metode qaulun layyinun (perkataan yang lemah lembut).

Sementara sekaitan dengan data, maka perlu melihatnya secara komprehensif. Bukan saja karena mengikuti kuliah di universitas whatsup. Dengan membaca percakapan warga penghuni grup pesan singkat, kemudian merasa sudah mengetahui secara lengkap terkait dengan obrolan.

Prof. Nadirsyah memesankan bahwa kriteria seorang cendekia adalah dengan menyeleksi informasi yang hendak dibaginya. “Saring sebelum sharing”, begitu panduan yang digunakan.

Termasuk dalam hal ini adalah hanya menyampaikan sebuah informasi yang berdasar. Jikalau itu penceramah pemula, apalagi kalau hanya santri yang baru belajar berceramah maka bolehjadi tersilap dalam soal ayat, hadis, dan ataupun pesan ulama.

Namun, kalau itu seorang sarjana. Apalagi kalau inteligensia atau cendekia, maka sudah kewajiban untuk melakukan validasi terhadap informasi yang dirujuknya.

Allahuyarham Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA, semasa hidupnya merupakan imam besar masjid Istiqlal.

Secara khusus beliau menuliskan buku “Hadits-Hadits Palsu Seputar Ramadhan”. Buku ini ditulisnya, dugaan saya atas kegelisahan menyaksikan para penceramaha di bulan suci Ramadhan justru menyitir informasi yang disandarkan pada hadis.

Padahal, itu bukan hadis. Dengan demikian, sebagai guru besar hadis tentu beliau memiliki komitmen untuk menyampaikan informasi yang sahih. Sehingga menuliskan buku ini, dan kemudian perlu menjadi pegangan, agar tidak terserembap ke dalam penyebaran informasi yang diklaim sebagai hadis.

Salah satunya adalah dimana penceramaha menyatakan bahwa ada hadis “tidur orang berpuasa adalah ibadah”. Allahuyarham KH. Ali Mustafa Yaqub menyatakan bahwa ini hadis palsu. Dimana tidak ada dasarnya dalam kitab hadis sama sekali.

Kalaulah ini ada, maka bukan lagi bulan suci Ramadhan menjadi syahrul shiyam (bulan puasa). Justru akan bergeser menjadi syahrul niyam (bulan tidur). Dimana tentu Islam tidak akan memesankan ini, salah satu tuntutan beragama adalah pada produktivitas. Bukannya pada kemalasan.

Termasuk beliau menjelaskan sekaitan dengan rakaat tarawih. Dimana ada perdebatan terkait dengan jumlah rakaat. Dalam praktiknya, ada yang delapan rakaat, dan juga dua puluh rakaat.

Setelah beliau berpulang ke rahmatullah, maka pesannya semakin jelas soal jumlah rakaat ini. Di masjidil haram, diperintahkan oleh YM Raja Salman, penjaga dua kota suci, untuk menjadikan rakaat tarawih sebanyak sepuluh rakaat.

Berbanding sebelumnya yang dua puluh rakaat. Dalam kondisi covid-19, perhimpunan di masjid diminimalkan untuk mencegah penyebaran wabah.

Olehnya, soal jumlah rakaat ini semata-mata tergantung dengan kondisi. Silahkan untuk memilih tanpa perlu memperdebatkan. Sebab di zaman baginda Rasulpun istilah tarawih ini tidak digunakan.

Pada pemerintahan Umar bin Khattab-lah kemudian para sahabat atas perintah khalifah kemudian melaksanakan tarawih yang mana istilah ini dari hadis Riwayat Aisyah Ra dalam kata yatarawwah yang bermakna istirahat.

Semasa itu, para sahabat memilih bacaan yang panjang ketika mendirikan shalat. Antara satu shalat dengan shalat yang lain, diselingi dengan istirahat.

Tradisi inilah yang kemudian kita warisi hingga hari ini. Dimana dalam suasana wabah, akhirnya diperlukan sebuah adaptasi, termasuk dalam praktik keberagamaan.

Kesempatan Ramadhan juga merupakan momentum emas untuk mendudukkan jangan sampai Ramadhan hanya menjadi ritual belaka. Setelahnya, justru akan berlalu.

Kita bisa saksikan hal yang sangat kecil, namun ini perlu mendapat perhatian bersama.

Dimana ketika melaksanakan shalat idul fithri di lapangan, jamaah membawa koran. Setelahnya, ditinggalkan dan menjadi sampah.

Bolehjadi, apa yang dilaksanakan selama Ramadhan tidak membekas sama sekali. Termasuk bagaimana tuntutan agama untuk senantiasa menjaga kebersihan. Padahal, dengan membawa koran itu ke tempat sampah, akan menjadikan lapangan seusai digunakan untuk shalat justru akan tetap bersih.

Selanjutnya, diperlukan pula bagaimana masjid perlu ditransformasikan menjadi sarana kemasyarakatan. Ruang altar shalat tentu tidak bisa diganggu gugat. Tetapi wilayah masjid tetap relevan untuk ditata.

Perlunya ada rumah imam. Begitu pula masjid dilengkapi dengan madrasah. Kita bahkan mewarisi bagaimana Universitas Al Azhar, Mesir diawali dengan madrasah di masjid.

Begitu pula adanya kebutuhan untuk menjadikan masjid mengelola klinik. Sehingga dengan melangkahkan kaki ke masjid, bukan saja soal sujud semata. Melainkan ada pula keperluan lain yang dapat ditunaikan.

Ini diantara agenda yang mendesak untuk diselesaikan. Sehingga keberadaan cendekiawan ataupun inteligensia semasa Ramadhan ini tidak membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja.