Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat—lebih dikenal dengan sebutan R.A Kartini—telah wafat 115 tahun yang lalu, tetapi namanya tetap dikenang setiap tanggal 21 April.

Dalam sejarah Indonesia, nama R.A Kartini selalu dikaitkan dengan perbincangan gerakan emansipasi wanita atau feminisme. Tema-tema kehidupan yang sering direlevansikan dengan gerakannya adalah masalah politik, hukum, ekonomi, sosial, dan budaya. 

Spirit perjuangan R.A Kartini telah menginspirasi Neokartini (baca: Kartini baru) untuk tampil membela kepentingan kaum perempuan dan bahkan membela masyarakat secara umum.

Pertarungan Neokartini dalam memperjuangkan kepentingan perempuan untuk membela di wilayah kebijakan hak-hak perempuan dan mengupayakan program yang berbasis pemberdayaan perempuan.

Salah satu alternatif untuk mengekspresikan perjuangan kaum perempuan adalah menjadi anggota DPR, maka calon anggota legislatif perempuan layak untuk diperhitungkan dalam Pemilihan Umum tahun 2019 menuju gedung parlemen.

Perlu diingat, menjadi calon anggota legislatif perempuan bukan semata-mata pelengkap 30 persen sebagaimana persyaratan seperti yang diatur dalam Undang-Undang Pemilu Nomor 7 Tahun 2017.

Apakah calon legislatif perempuan dapat melenggang ke arena parlemen dengan mulus? Tentu sangat berat untuk terpenuhi 30 persen tetapi spirit perjuangan R.A Kartini sebagai motivasi dalam pertarungan dalam Pemilihan Umum tahun 2019.

Cahaya Spirit R.A Kartini

Membaca sejarah R.A Kartini tentu merasa kagum dengan sosok yang dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional; R.A Kartini dikenal gigih dalam memperjuangkan emansipasi wanita Indonesia.

Masa kanak-kanak Kartini muda keluar dari adat kebiasaan sebagai anak perempuan yang “dipingit” tidak boleh keluar rumah sekalipun menuntut ilmu. R.M. Sosroningrat, ayah Kartini, menyekolahkan di ELS (Europese Lagere School) sehingga ia bisa dengan fasih menguasai Bahasa Belanda.

R.A Kartini di masa remaja aktif dalam pergaulan pola pikir perempuan Eropa melalui berita yang dibaca dari surat kabar, majalah, dan buku-buku berbahasa Belanda. Kepiawaiannya dalam korespondensi dengan teman-temannya di Belanda memberikan kesimpulan bahwa peran dan partisipasi perempuan pribumi masih tertinggal jauh dengan perempuan Belanda atau Eropa. 

Sepeninggal R.A Kartini, J.H. Abendanon yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda mulai mengumpulkan surat-surat yang pernah ditulis oleh R.A Kartini. 

Akhirnya disusun buku yang awalnya berjudul Door Duisternis tot Licht yang kemudian diterjemahkan dengan judul Dari Kegelapan Menuju Cahaya yang terbit pada tahun 1911.

Spirit perjuangan R.A Kartini sampai saat ini masih bercahaya dengan bukti faktual, yaitu tampilnya para Kartini baru dalam berbagai bidang kehidupan. Salah satunya di arena pentas politik nasional, walaupun jalan kaum perempuan menuju parlemen sangat berat dan terjal.

Representasi perempuan di ranah politik praktis sudah didorong sedemikian rupa melalui berbagai macam kebijakan. Hal ini dapat dilihat dari penyelenggaraan setiap pemilihan umum mengalami peningkatan secara kuantitas kuota dari keterwakilan kaum perempuan.

Data yang dirilis oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan daftar calon legislatif yang mengikuti Pemilihan Legislatif 2019. Ada 7.968 orang yang tercantum dalam daftar calon legislatif. Jumlah ini berasal dari 20 partai politik yang mengikuti Pemilihan Legislatif 2019. Dari jumlah itu, terdapat 4.774 calon legislatif  laki-laki dan 3.194 calon legislatif perempuan.

Proporsi ini tentunya sudah memenuhi kuota 30 persen calon legislatif perempuan seperti yang diatur dalam Undang-Undang Pemilu. Selain itu, KPU juga telah menetapkan 80 daerah pemilihan dalam Pemilu 2019. Hanya tiga partai politik yang tidak dapat berkompetisi di semua dapil, yaitu Partai Gerindra, Partai Hanura, dan PKPI (Kompas.com).

Kado Istimewa di Bulan April

Seandainya R.A Kartini masih hidup, tentu akan kagum menyaksikan partisipasi kaum perempuan saat ini. Kaum perempuan telah mengukir prestasi yang luar biasa di berbagai bidang kehidupan, tidak hanya pelengkap dan melayani bagi kaum laki-laki di kasur, dapur, sumur.

Bulan April 2019 merupakan momen yang istimewa bagi kaum perempuan untuk menunjukkan kompentensi dan kemampuannya di bidang politik dengan berkompetisi kaum laki-laki. Tetapi ada dua tantangan berat yang dihadapi kaum perempuan pada setiap penyelenggaraan pemilihan umum, yaitu budaya patriarki dan budaya money politic.

Pertama, rendahnya keterwakilan perempuan di ranah politik adalah soal budaya patriarki, alasan klasik yang menjadi kambing hitam dari ketertinggalan politik perempuan. Paradigma budaya patriarki masih mengakar kuat di sebagian besar masyarakat Indonesia. 

Pola pikir patriarki cenderung menempatkan perempuan di bawah kekuasaan laki-laki. Kaum perempuan dicitrakan sekaligus diposisikan sebagai pihak yang tidak memiliki otonomi dan kemandirian di semua bidang, termasuk politik.

Kedua, penyakit demokrasi yang melanda rakyat Indonesia pada saat penyelenggaraan pemilihan umum adalah money politic dengan berbagai bentuk dan bermacam cara. Sadar atau tidak, rakyat telah terhipnotis dengan praktek politik money politic, demokrasi telah dijual dan tukar dengan “beruang” (beras dan uang), serta digadaikan dengan “berjuang” (beras, baju, uang).

Bekal pendidikan dan kemampuan intelektual, serta pengalaman dalam berorganisasi, bagi calon legislatif perempuan, menjadi bagian yang sangat urgen untuk melawan budaya budaya patriarki dan budaya money politic.

Di sinilah peran rakyat sebagai pemilih harus cerdas dalam memilih calon legislatif, setidaknya kaum perempuan mampu berperan dan teruji dalam sejarah perjuangan di bidang politik.

Daya tahan calon legislatif perempuan telah teruji dengan panjangnya waktu kampanye. Tentunya telah menguras fisik dan psikis, serta pendanaan yang tidak sedikit. Kini pelaksanaan pemilihan umum legislatif bersamaan dengan pemilu presiden dan wakil presiden tinggal menghitung hari.

Maka calon legislatif perempuan telah siap menuju gedung parlemen dengan membawa agenda dan program pemberdayan perempuan, serta regulasi kebijakan politik yang berpihak pada kaum perempuan sebagaimana dijanjikan pada saat kampanye.

Semoga calon legislatif perempuan mampu memperoleh suara yang signifikan pada Pemilu Legislatif tahun 2019 sebagai kado istimewa di Hari Kartini, sehingga mampu membawa aspirasi kaum perempuan di parlemen. Selamat berjuang, Neokartini.