Kepala Pusat Pembinaan Profesi Keuangan Sekretariat Jendral Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Langgeng Subur Ak., M.B.A, CA., CPA., FRICS., menyatakan bahwa besarnya kemungkinan profesi akuntan tergantikan oleh robot adalah 95 persen. 

Hadirnya Robotics dan Big Data menjadi tantangan baru bagi akuntan untuk dapat mempertahankan kompetensi di dunia kerja. Pergeseran bidang ilmu dan profesi pada revolusi industri 4.0 mengharuskan akuntan untuk meningkatkan kemampuan teknologi informasi. 

Hal yang sama juga dinyatakan oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) masa jabatan tahun 2014-2019, yaitu Mohamad Nasir saat menjadi narasumber di gelar wicara yang bertemakan Bersama Para Penjaga Negeri dalam Seminar Kongres XIII Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) di Rafflesia Ballroom Kartini, Jakarta tanggal 12 Desember 2018,

“Pada Revolusi Industri 4.0, terjadi pergeseran yang luar biasa pada bidang ilmu dan profesi. Oleh karena itu, cara kerja dan praktik akuntan perlu diubah untuk meningkatkan kualitas layanan dan ekspansi global melalui komunikasi daring dan penggunaan cloud computing.”

Revolusi industri 4.0 mengakibatkan perubahan serta pergeseran ilmu dan profesi, salah satunya adalah akuntan yang profesinya dapat dialihkan menggunakan teknologi informasi. 

Dampak perubahan secara signifikan akan terasa oleh akuntan, maka beradaptasi dengan meningkatkan keterampilan teknologi informasi adalah salah satu keputusan yang tepat. Akankah akuntan terhapuskan dan tergantikan oleh teknologi informasi?

Meningkatkan pemahaman dan keterampilan teknologi informasi menjadi salah satu faktor penting akuntan untuk dapat bertahan dan menjaga kompetensinya di dunia kerja. 

Ketua Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Ancella A. Hermawan dalam sambutannya di Kuliah Umum bersama Ikatan Akuntansi Indonesia menyatakan bahwa akuntan di generasi revolusi industri 4.0 harus memperkuat keahlian (mastering skill), membuka wawasan (opening mind), dan menanamkan nilai serta etika yang kuat (instilling strong values and ethics) agar akuntan dapat bertahan dan beradaptasi dalam menghadapi perubahan serta perkembangan teknologi informasi di setiap peradaban. 

Keterampilan akuntan dapat diuji melalui program sertifikasi dimana hal ini sangat menentukan akuntan untuk dapat bertahan atau tidak di dunia kerja juga menempuh ke jenjang profesi akuntan yang lebih tinggi. 

Ikatan Akuntansi Indonesia menetapkan Chartered Accountant Indonesia atau lumrah dengan sebutan CA. Ujian CA merupakan salah satu syarat untuk menjadi akuntan profesional yang di dalamnya mencakup mata ujian sistem informasi serta teknologi & proses bisnis yang relevan. 

Dalam ujian tingkat dasar, untuk mendapatkan gelar Associate Certified Public Accountant of Indonesia (ACPAI) salah satu mata ujiannya adalah sistem informasi, kemudian untuk ujian tingkat profesional dengan tujuan mendapatkan gelar Certified Public Accountant of Indonesia (CPA) salah satu mata ujiannya yaitu teknologi informasi. 

Tentunya hal ini membuktikan jika akuntan gagal untuk memberikan perhatian terhadap keterampilan teknologi informasi, maka akuntan akan terseret-seret di dunia kerjanya.

IoT (Internet of Things) atau hubungan antara internet dengan segalanya akan mengubah peran akuntan dalam mencatat transaksi, mengolah transaksi, memilah transaksi, pembuatan serta analisis laporan keuangan yang akan digantikan oleh teknologi AI (Artificial Intelligent) dan robot. 

Teknologi informasi dapat mengubah kebiasaan kinerja akuntan yang biasanya selalu dikerjakan dengan manual menjadi otomatis.

Kemajuan teknologi yang cepat tentunya akan mengubah cara orang bekerja terbukti dengan adanya AI dan robot. Data mentah seperti bon atau dokumen bukti transaksi keuangan cukup diserahkan pada mesin kemudian secara otomatis sistem akan menginput, melakukan enkripsi, dan melakukan perhitungan sesuai kebutuhan. 

Perkembangan teknologi informasi juga terasa dalam pembuatan laporan transaksi keuangan seperti integrated reporting, extendible business reporting language, dan sustainability reporting yang memanfaatkan pengembangan AI yaitu perangkat lunak khusus akuntansi. 

Pemrosesan data seperti dalam melakukan analisis otomatis dapat menggunakan perangkat lunak seperti Portals, E-Signature Tools, Document Manager, Workflow Tools, dan Client Server Blogs

Kemampuan dalam menginterpretasikan dan analisis data yang sudah diolah memerlukan pemahaman dan keterampilan teknologi informasi dalam tahapan atau prosesnya. 

Akuntan yang tidak memiliki keterampilan teknologi informasi akan bingung dalam mengoperasikan dan mengakses data tersebut. Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap kinerja akuntan tersebut.

Program perangkat lunak akuntansi yang merupakan salah satu hasil dari perkembangan teknologi informasi di bidang akuntansi telah dipakai oleh lebih dari 300.000 perusahaan di Indonesia dengan alasan lebih efektif dan efisien. 

Alfonsa (2020) dari hasil risetnya yang dituang dalam jurnal kumpulan riset akuntansi berjudul Akuntan dalam Industri 4.0: Studi Kasus Kantor Jasa Akuntan (KJA) di Wilayah Kepulauan Riau menyatakan bahwa sejak 2015, perusahaan jasa profesional terbesar di dunia yang memiliki layanan audit, pajak, dan penasihat yaitu KPMG di Indonesia telah menggunakan McLaren Applied Technologies (MAT) untuk menganalisis data tidak terstruktur.

Sejak 2013, PwC mengunakan RON Artificial Intelligence seperti program Alex, Cartana, dan Siri yang dapat mengelompokkan akun-akun dalam menjurnal transaksi keuangan. 

Proses pengolahan data akuntansi dalam jumlah besar akan menjadi lebih mudah dan cepat dengan memanfaatkan teknologi ini. Memonitor dan menganalisis data terbaru dengan istilah mobile accounting mudah dilakukan untuk diakses di mana pun dan kapan pun.

Keakuratan hasil pengolahan data tentunya akan terjamin jika memanfaatkan perangkat lunak berbasis AI ini. Hal ini membuktikan nyatanya perubahan dan pergeseran akuntan di Era Revolusi Industri 4.0.

Dapat disimpulkan bahwa keterampilan teknologi informasi dibutuhkan dalam menghadapi tantangan di Era Revolusi Industri 4.0 oleh akuntan karena jika tidak diperhatikan, maka peluang akuntan untuk tersingkir dan tidak dapat bertahan di dunia kerja sangat besar. 

Untuk dapat mempertahankan kinerjanya, akuntan harus lulus program sertifikasi profesi akuntan yang salah satu mata ujiannya mencakup teknologi informasi. 

Kemampuan pekerjaan dasar akuntan seperti mencatat transaksi keuangan, mengolah transaksi keuangan, memilah transaksi keuangan, pembuatan laporan keuangan, dan analisis laporan keuangan akan digantikan oleh teknologi Artificial Intelligent (AI) dan robot sehingga akuntan perlu memiliki keterampilan teknologi informasi saat mengoperasikan dan mengakses data tersebut. 

Telah tercatat lebih dari 300.000 perusahaan di Indonesia menggunakan perangkat lunak akuntansi dengan alasan lebih efisien dan efektif. Hal ini membuktikan bahwa akuntan tidak akan kehilangan pekerjaan tetapi akan terjadi pergeseran ilmu dan profesi. 

Akuntan tidak boleh lengah justru harus terdorong untuk beradaptasi dengan adanya tantangan baru di era revolusi industri 4.0 ini karena jika akuntan lengah dan mengabaikannya, maka masa depan akuntan akan terancam.