Refleksi perbukitan yang terlihat dari jernihnya permukaan danau. Suara gemercik air terjun yang beralun merdu, dan hijaunya pepohonan sekitar melengkapi indahnya panorama Danau Tanralili. Danau yang dianggap percikan surga di kaki Gunung Bawa Karaeng.

Ini merupakan pendakian saya yang ke sekian kalinya. Aku memiliki pandangan sendiri tentang aktivitas mendaki. Bagi saya, kegiatan seperti ini memiliki banyak manfaat, terutama dari aspek pengalaman. Dari sini kita belajar menghargai dan lebih dekat dengan alam, dan belajar untuk bersinergi dengan orang lain.

Jika boleh jujur, sebenarnya waktu itu aku sama sekali tidak memiliki niatan untuk mendaki atau apa pun itu yang berkaitan dengan aktivitas liburan. Saya sedang banyak proyek yang deadline-nya sudah pada mepet. Andaikan saja bukan Dihri (20) sahabat saya sejak di sekolah menengah atas menginisiasi ini mungkin aku akan menolak.

Saat itu, Jumat (28/9) sekitar jam 12 malam, ia menelepon via WhatsApp aku disuruh menyiapkan alat camp, dia akan jemput esoknya dan kita akan berangkat ke Danau Tanralili. Aku tidak mungkin menolak ajakan ini, ia baru saja tiba dari tanah rantau, Kota Timika dan kami tidak pernah bertemu lagi sejak dua tahun silam.

Danau Tanralili sendiri terletak di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Danau ini berada di atas ketinggian 1454 meter di atas permukaan laut (mdpl). Pesona air yang dibendung oleh danau seluas 2 Ha merupakan keindahan tersendiri yang dimiliki danau ini. Tak ayal kemudian membuat setiap pendaki tak tahan ingin menceburkan diri setelah letih menyusuri trak yang panjang.

Di ufuk timur mentari sudah menampakkan sinarnya, aku mulai berkemas sambil menunggu Dihri menjemput. Sekitar pukul 8.00 Wita ia bersama Sembilan orang lainnya sudah berada di halaman rumah.

Mereka (kesembilan orang itu) adalah mahasiswa dari kampus sebelah. Kami bertegur sapa saling mengenal satu sama lain sebelum memulai ekspedisi menggunakan kendaraan roda dua sampai desa terakhir menuju tempat tersebut.

Tracking diawali dari Desa Langkese, desa terakhir sebelum memulai perjalanan menuju danau ini, dibutuhkan waktu 2-3 jam tracking untuk sampai di Danau Tanralili. Sepanjang jalur pendakian kita harus melewati tiga tanjakan terjal, cuaca yang terik karena jarangnya pepohonan, tanah yang tandus membuat debu makin mudah beterbangan. Tetapi panorama yang indah di sepanjang jalan sangat memanjakan mata, sehingga lelahnya perjalanan bisa terobati.

Danau Tanralili juga dikenal dengan Lembah Loe. Hal ini karena lokasinya yang berada di lembahan yang dikelilingi tebing-tebing tinggi yang menjulang menyerupai benteng yang menyembunyikan keindahan danau ini. Danau yang sering disebut Ranukumbolonya Bawakaraeng ini terbentuk akibat longsoran Gunung Bawakaraeng yang membentuk cekungan yang dalam.

Begitu sampai ditepian danau mata benar-benar disegarkan oleh refleksi tebing-tebing yang terpantul di permukaan danau dari kejauhan berwarna kehijauan. Disalah satu tepian danau terdapat sungai yang menjadi salah satu sumber air yang mengisi Danau Tanralili, sungai ini juga mengarah langsung pada satu air terjun.

Suasana ditepi danau saat itu cukup ramai pendaki yang sudah maupun baru membangun tenda. Ditepian danau kita tidak hanya bisa menikmati pemandangan alam yang eksotis, Danau Tanralili yang kaya dengan ikan menjadi nilai jual tersendiri terlebih kita tidak dilarang untuk memancing di danau itu.

Suasana malam di pinggiran danau tersebut cukup tenang. Kami melewati malam dengan beragam obrolan santai sambil menyeruput kopi hitam yang disertai beberapa jenis cemilan namun kami harus rela melewati malam yang syahdu ini tanpa nyala api unggun, yah dilokasi tersebut kita dilarang menyalakan api unggun oleh pihak pengelola.

Malam berlalu, fajar mulai merekah. Suasana pagi di Danau Tersebut sangat indah kami menyambutnya dengan berkeliling danau, menaiki bukit, hingga menceburkan diri kesebuah sungai kecil disudut kanan  sungai tersebut, sungai yang mengarah langsung pada danau.

Perjalanan ini kami abadikan dalam sebuah lensa kamera dan tentu saja akan kami buka suatu saa ketika kami kembali merindukan momen luar biasa ini. Objek wisata ini merupakan tempat yang cukup banyak diminati masyarakat. 

Hampir setiap akhir pekan tempat ini ramai pengunjung dari berbagai kalangan, baik itu mahasiswa, masyarakat, dan turis lokal dan yang paling penting alam terbuka seperti ini memang selalu menjadi tempat yang tepat untuk melepas penat dan memperkuat solidaritas dengan sahabat kita.

Terakhir, saat melakukan aktivitas pendakian di mana pun itu, untuk selalu mengingatkan diri sendiri maupun orang lain agar jangan mengambil apa pun kecuali gambar, jangan meninggalkan apa pun kecuali jejak, dan jangan membunuh apa pun kecuali waktu, kode etik petualang ini harus tetap dijunjung di mana pun kita melakukan aktivitas pendakian.

Salam Lestari…