Bila kita cukup jeli, ia menyerupai sebuah balok. Karena tinggi atau tebalnya sangat kecil (pipih), maka ia tampak berbentuk segi empat saja. Ukurannya bervariasi. Ia telah menempuh perjalanan panjang dan tak pernah ada yang tahu pasti ujung dari perjalanannya. 

Ia bak pengembara yang tak kenal lelah menyusuri perjalanan mulia itu. Dalam kesendirian, ia mudah diterpa angin. Namun saat berkumpul dan dijilid, ia bisa menjadi berat. Ya, ia adalah kertas.

Kertas telah menjadi wadah dimana pikiran dituangkan. Maka kita pun bisa menyebarluaskan gagasan kepada orang lain dan bisa mengetahui gagasan orang lain melalui kertas. 

Warisan ilmu dari generasi ke generasi dibawa oleh utusan yang bernama kertas. Jasa kertas begitu besar dalam mengantarkan kita pada bangunan peradaban yang sedang kita nikmati saat ini.

Namun kini masyarakat modern banyak yang beranggapan bahwa peran kertas sebagai media baca-tulis telah tergantikan oleh teknologi seperti smartphone dan laptop. Kita bisa mengakses internet untuk membaca informasi yang diinginkan dan menulis di media elektronik. Bahkan kita bisa mendapatkan ebook yang kita mau.

Perlu kita sadari bahwa teknologi semacam itu tidak semua orang bisa menggunakannya. Tidak semua orang mampu membeli smartphone ataupun laptop. Maka mereka menggunakan kertas. Kertas juga menjadi solusi bagi generasi tua yang gagap teknologi. Artinya, kertas lebih mudah dijangkau oleh berbagai lapisan masyarakat.

Teknologi yang diharapkan memudahkan urusan-urusan kita itu pada saat yang sama justru menghadirkan sejumlah masalah yang mendasar dalam kehidupan kita. Ketika kita membaca berita di internet misalnya. Saat sedang asyik membaca, kerap kali ada sponsor-sponsor yang muncul dan mengganggu konsentrasi membaca kita.

Kita begitu mudah teralihkan saat membaca dengan mengakses internet melalui smartphone. Saat membaca, ada chat masuk. Apalagi chat dari sang pujaan hati, maka biasanya kita tak lagi melanjutkan bacaan kita melainkan beralih ke chattingan. Begitu mudahnya kita menduakan bacaan kita itu.

Beda halnya dengan orang yang membaca berita melalui koran. Ia cenderung setia dengan kertas-kertas itu. Ia bisa fokus dalam membaca tanpa ada gangguan yang berarti. Tak ada keperluan lain ketika orang memegang koran selain untuk membacanya. Terlepas koran pada akhirnya menjadi bungkus nasi itu sudah persoalan yang berbeda.

Membaca Al-Qur’an melalui aplikasi pun akan mengalami hal yang serupa. Ada notifikasi facebook atau apalah yang bisa mengganggu kenyamanan  membaca kita. Kalaupun koneksi internet kita matikan, ada saja gangguan yang berdatangan. 

Smartphone membuat kita mudah terpancing untuk mendua, tiba-tiba terbesit ingin mendengarkan lagu daripada melantunkan ayat suci Al-Qur’an.

Kalau di sekolah, kita masih terbiasa menggunakan buku paket dalam proses belajar mengajar di kelas. Menulis pun juga pada buku tulis. Namun bila di bangku kuliah, mahasiswa sering menggunakan ebook. Dan tak jarang mengumpulkan tugas dalam bentuk soft file via email. Hal ini memang praktis tapi juga jadi masalah tersendiri.

Membaca ebook tidak sebaik membaca buku. Kalau pakai ebook, kita tidak leluasa memberi catatan, menggaris bawahi, dan mencorat-coretnya seperti apa yang dapat dengan mudah kita lakukan bila membaca wujud fisiknya, buku. Dengan wujud fisik tersebut, kita bisa konsentrasi dan bertahan dalam belajar.

Bila dengan membaca kertas (buku) membuat kita lebih fokus, menulispun juga demikian. Sedangkan menulis (mengetik) menggunakan laptop membuat kita rentan berselingkuh. Siapa yang diselingkuhi? Ya kegiatan menulis kita. Mengapa perselingkuhan terjadi? Karena tak menggunakan kertas !

Bila tugas dikumpulkan dalam bentuk soft file biasanya mahasiswa menulisnya menggunakan microsoft word. Saat menggunakan laptop itulah kita sering terganggu. Diri kita tergiur dengan film yang ada di laptop. 

Atau dengan kita berkecimpung dengan laptop, pikiran kita melayang pada film-film yang lagi hangat seperti Avengers: Endgame. Dan kita ingin segera mendownload dan menontonnya.

Belum lagi ketika baru sebentar menulis, terbayang-bayang asyiknya bermain game. Main game lagi, main game lagi ckckck. Terlebih para pecandu game yang menghabiskan banyak waktunya siang malam didepan laptop untuk bermain game. 

Pekerjaan kita menjadi tidak efisien. Kegiatan menulis pakai laptop tak bertahan lama. Sungguh laptop telah membuat kita menjadi makhluk yang sering mendua !

Menulis dengan kertas sebagai wadahnya dapat membuat kita betah dalam menulis, karena tidak ada urusan lain dengan kertas kosong itu selain untuk kita menuangkan pikiran padanya. Niat menulis sejak awal sulit untuk dialihkan kepada aktivitas lain. Kita menjadi sedemikian menikmati perenungan-perenungan sunyi dalam pikiran dan menuliskannya.

Dan bagi saya yang menekuni fisika teoretis, sudah menjadi hal yang lumrah menjadikan kertas sebagai wadah menulis. Saya biasa menurunkan rumus-rumus pada lembaran-lembaran kertas. Aktivitas tersebut bisa berlangsung selama berjam-jam tanpa gangguan. Dengan kertas, kita bisa berkonsentrasi dalam menulis.

Sedangkan teknologi yang dikatakan memudahkan pekerjaan kita ternyata justru membuat pekerjaan kita terbengkalai, menjadi baca-tulis kita tak efektif. Smartphone ataupun laptop bukan dirancang sebagai media baca-tulis yang baik. Ia mudah mengalihkan kita pada fitur-fitur lain yang juga ada didalamnya. Akhirnya baca-tulis kita tidak selesai-selesai atau bahkan berhenti ditengah jalan.

Dengan fitur-fitur yang telah terintegrasi dalam suatu perangkat elektronik tersebut, diharapkan membuat segalanya menjadi demikian praktis, tapi kenyataannya menjadikan kita pribadi yang mudah mendua, menjadi orang yang mudah berkhianat.

Terlebih lagi baik smartphone maupun laptop yang memancarkan radiasi ketika digunakan juga menjadi hambatan. Tak semua orang bisa bertahan lama didepan layar-layar itu. Mata kita menjadi cepat lelah, disamping berpengaruh bagi kesehatan mata itu sendiri. Akibatnya, kita sering tak setia dengan bacaan ataupun kegiatan menulis di media elektronik tersebut.

Ketika kita memegang smartphone atau menggunakan laptop, banyak hal bisa kita lakukan. Mulai dari chattingan hingga bermain game. Dan tentu kebiasaan itu telah mengendap dalam alam bawah sadar kita. Oleh karenanya, setiap kali kita membaca atau menulis di media elektronik seringkali muncul keingingan beralih ke fitur-fitur yang lain secara tiba-tiba.

Kondisi psikis yang ditimbulkan oleh media-media elektronik ini punya konsekuensi lebih lanjut terhadap perilaku sehari-hari. Kebiasaan mudah teralihkan, tidak fokus, dan mudah berkhianat ini  telah mengkristal dalam alam bawah sadar. Lalu kebiasaan tersebut mewujud dalam sikap dan tindakan.

Hal ini menjadi salah satu sebab mendasar mengapa banyak para ilmuwan, teknokrat, dan tokoh lainnya menjadi tidak fokus dengan bidangnya sendiri. Banyak dari kita yang menjadi tak produktif dan miskin karya akibat ketidakfokusan dalam bekerja. Mereka menjadi sedemikian mudah untuk dialihkan pada fenomena-fenomena diluar ranah pekerjaannya.

Padahal kalau kita ingin negara maju maka setiap elemen harus fokus dan berhasil dibidangnya masing-masing. Ilmuwannya fokus riset berkelanjutan dan menemukan teori sains fundamental, teknokratnya begitu konsentrasi dalam menciptakan mobil buatan lokal dan sebagainya, agamawannya istiqamah berdakwah, politisinya tak berkhianat pada rakyat, dan seterusnya. Dengan begitu, kehidupan bernegara bisa menjadi seimbang dan harmoni.

Bagaimana mau berhasil dan maju bila fokus bekerja saja tidak bisa? Maka biasakanlah berinteraksi dengan kertas, membaca dan menulis menggunakan kertas. Kebiasaan itu akan membangun mentalitas kita menjadi sosok yang fokus, konsisten, dan tak berkhianat.

Kertas membawa dampak positif pula pada lingkungan. Mereka yang bekerja di industri kertas tentu juga akan fokus dalam pekerjaannya. Mereka menjadi bijak dalam memproduksi kertas dan tak berkhianat pada aturan yang telah dibuat. Dan dari masa ke masa proses produksi  kertas juga dibuat agar semakin ramah lingkungan. Dan karena kertas, nasib hutan menjadi perhatian sehingga hutan dikelola secara berkelanjutan dengan lebih baik.

Tanpa kertas, manusia menjadi tak fokus. Konsentrasi bekerja hanya ilusi belaka. Bermunculan orang-orang yang mudah terpesona pada godaan-godaan. Bahkan bisa mewujud pada pengkhianatan pada sahabat ataupun kekasih. Dunia menjadi penuh pengkhianatan. Tanpa kertas, kita menjadi mudah mendua.