Belakangan, viral sebuah video yang mengisahkan pertengkaran suami-istri perihal pekerjaan. Video tersebut diambil langsung oleh sang anak laki-laki yang beranjak remaja.

Sekilas, pertengkaran tersebut terjadi karena hal sepele. Suami marah-marah karena, saat dirinya pulang kerja, tidak ada makanan apa pun yang disediakan istrinya. Pria tersebut sepertinya lapar. Sementara sang istri tampak baru saja pulang kerja dengan membawa belanjaan dan kebutuhan dapur. 

Dari cekcok tersebut, diketahui bahwa sang istri juga bekerja sebagaimana suaminya. Tanpa disuruh, sang anak berinisiatif bergegas mengambil alih pekerjaan ibunya. 

Video berhenti di sana. Entah film pendek, kisah nyata, cuplikan iklan komersial, atau apa pun. Video yang viral setelah diposting sebuah akun gosip yang cukup populer tersebut adalah potret rumah tangga di Indonesia.

Dari video tersebut, dapat dilihat, meski terkesan sepele, yakni perihal masak-memasak atau ketersediaan makanan, kejadian di atas bisa menjadi bumerang bagi rumah tangga siapa pun. Tanpa komunikasi yang baik atau kesepakatan sebelumnya, rumah tangga bahkan bisa retak atau bahkan hancur. Anak lagi-lagi akan menjadi korban utama jika pada akhirnya keduanya memutuskan bercerai. 

Hal tersebut dapat terjadi karena kesalahpahaman, miskomunikasi, perasaan sensitif, tidak adanya kesalingan antara suami dan istri. Perspektif suami yang menempatkan posisi istri “wajib” melakukan pekerjaan domestik tanpa kompromi ini adalah cermin budaya patriarki masih mengakar.

Dewasa ini, fenomena istri ikut bekerja dan mencari nafkah adalah hal yang biasa. Entah karena membantu ekonomi keluarga ataupun aktualisasi diri. 

Bekerja dan mencari uang wajar-wajar saja dikerjakan perempuan dengan berbagai faktor tersebut. Akan tetapi, setiap pekerjaan domestik tetaplah menjadi pekerjaan dan tanggung jawab perempuan. 

Anehnya, hal sebaliknya tidak berlaku. Laki-laki seperti seolah tidak lumrah memegang atau bahkan sekadar membantu urusan domestik perempuan. Suami yang mencuci piring, memasak, atau mencuci “masih dipandang” tidak selumrah dan sewajar perempuan yang juga bekerja. 

Sebuah riset Hill ASEAN Studies 2018 yang mengambil responden di Indonesia tersebut menunjukkan bahwa enam dari 10 istri bekerja dan ikut membantu finansial keluarga. Sementara suami yang membantu pekerjaan domestik hanya tiga dari 10 suami. Kesimpulan penelitian tersebut, dengan relasi macam itu, beban berlebih jelas dialami mayoritas para istri di Indonesia.

Padahal, perempuan yang memiliki peran dan beban ganda akan mengalami sejumlah kendala. 

Kendala internal dalam diri perempuan adalah keterbatasan tenaga yang menyebabkan kelelahan fisik dan mental serta kejenuhan menjalankan seluruh perannya. Kendala eksternal berupa adalah adanya kekhawatiran kurang harmonisnya keluarga, tidak maksimalnya pengasuhan anak, dan lain sebagainya (Ramadani, 2016). 

Terlebih, saat pengasuhan anak kurang maksimal, label negatif juga seolah otomatis tersemat pada istri. Ibu akan dicap oleh masyarakat sebagai ibu yang lebih mementingkan karier, kurang memberikan kasih sayang pada keluarga, dan lain sebagainya. Hal ini terjadi saat tidak adanya saling kerjasama dan sistem pembagian tugas antara suami dan istri dalam keluarga.

Sejatinya, dalam pernikahan ideal yang berkeadilan gender, sudah semestinya ada kesalingan. Suami dan istri sama-sama manusia merdeka. 

Menurut Musdah Mulia dalam Ensiklopedia Muslimah Reformis: Pokok-pokok Pemikiran untuk Reinteprasi dan Aksi, terdapat kekeliruan mendasar dalam konsep rumah tangga, khususnya di kalangan masyarakat Indonesia. 

Selama ini, kita mengilustrasikan institusi rumah tangga dengan sebuah perahu atau kapal laut. Lalu, memandang kepala keluarga sebagai nakhoda. Hanya ada satu nakhoda dalam rumah tangga, yakni suami. 

Dalam pernikahan, semestinya rumah tangga diilustrasikan dengan pesawat terbang, yang harus ada pilot dan kopilot. Artinya, relasi suami dan istri lebih tepat diilustrasikan sebagai relasi pilot dan kopilot, di mana keduanya harus saling berkomunikasi secara egaliter. 

Seorang pilot harus didampingi kopilot. Dia tidak bisa mengambil keputusan sendirian. Keduanya memiliki peran masing-masing yang saling melengkapi dengan komunikasi yang berjalan dua arah.

Maka, jika memang perempuan dipandang sebagai makhluk yang setara dengan laki-laki, label domestik titik tanpa kompromi, sudah semestinya dapat ditoleransi. Semua persoalan dapat diselesaikan dengan dialog dan komunikasi. 

Toh, saat ini, perkembangan teknologi dapat menjadi solusi. Jika kasusnya soal perut yang lapar, aplikasi online pesan makanan bertebaran. Jika kasusnya soal kebersihan rumah, asisten rumah tangga baik via online atau langsung pun dapat dicari. 

Hari keluarga harus berkumpul, jadwal memasak, pembagian tugas, dan lain sebagainya bisa disepakati sebelumnya. Saat merindukan masakan istri, suami hanya perlu mengutarakannya dengan sebaik-baiknya. Seluruh persoalan rumah tangga bisa dicari jalan keluarnya, tanpa harus menggunakan kekerasan, baik verbal, bahkan fisik.

Budaya patriarki memang masih melekat di masyarakat kita. Tidak sedikit perempuan harus menanggung beban ganda, karena harus bekerja sekaligus memikirkan pekerjaan domestik. 

Meski tidak hanya karena meringankan atau menopang ekonomi keluarga, perempuan memutuskan memilih jalan ganda. Entah untuk aktualisasi diri, pengabdian di masyarakat, bahkan eksistensi diri. Jika menganggap perempuan adalah manusia yang setara, bukannya hak demikian sebagaimana yang didapatkan laki-laki seharusnya juga bisa diaksesnya?  

Perempuan yang memilih jalan ini masih menanggung beban tersebut dengan sepenuh hati sampai saat ini. Perempuan boleh bekerja, tetapi tidak bisa lepas dari label domestik. 

Kultur menilainya sebagai kewajaran dan bagian dari adat istiadat. Agama melihatnya sebagai kodrat. Suami tidak perlu menghalangi keinginan dan kebebasan istri. 

Tanpa dihalang-halangi, saat memutuskan untuk menikah, perempuan akan berpikir kembali soal keinginan dan kebebasannya. Perempuan akan mengesampingkan otoritas tubuh dan pikirannya. 

Perempuan akan berusaha memenuhi hatinya yang penuh dengan celah dan hasrat bebas dengan cintanya pada keluarga. Entah disebabkan karena hidup dalam watak kebudayaan yang maskulin, penafsiran nilai agama dan adat yang bias gender, hegemoni negara dengan kebijakan dan hukum yang bias gender, dan lain sebagainya. Semua faktor berkelindan inilah yang akan membuat istri berpikir ulang atas otoritas dirinya.

Rumah tangga berperspektif keadilan gender harus memiliki pandangan yang luas dan menjauhi sikap egois. Toleran, pengertian, dan penuh kompromi, namun tetap berpegang pada aturan, kesepakatan, dan prinsip. 

Suami yang mencintai istrinya tentu tidak tega jika istrinya terlalu capek mengerjakan semua pekerjaan. Istri yang mencintai istri juga tentu tidak akan membiarkan suami dan anaknya kelaparan. 

Solusi dapat selalu dicari. Saat keduanya memutuskan menikah dan membina rumah tangga, tentu pembahasan hal-hal ini penting didiskusikan.