Penikmat Kopi Senja
1 tahun lalu · 18080 view · 3 menit baca · Sosok 87104_67395.jpg
Kompasiana.com/Ahok cawapres ideal Jokowi

Tanpa Ahok, Pilpres 2019 Kehilangan Pesona

Cawapres Ideal Jokowi

Banyak pihak yang menyayangkan pasal 156a KUHP digunakan jaksa terhadap Ahok. Pasal itu dengan sendirinya akan mematikan karir dalam politik, merujuk peraturan KPU No.15 Tahun 2004 pasal 10 huruf n, demikian menurut salah satu pakar tata negara Bivitri Susanti. Namun demikian, pakar lain mengatakan berbeda, kasus Ahok tidak bisa dikatakan melanggar peraturan tersebut.

Satu hal yang pasti, suasana pilpres tanpa Ahok terasa hambar, sayur tanpa garam. Pilpres 2019 tidak menarik sama sekali, tensinya menurun. Minoritas seperti Ahok harus diakui memiliki daya tarik luar biasa, berbeda jauh dengan Hary Tanoe yang kaya harta namun fakir pendukung.

Loyalis Ahok hanya bisa dibandingkan dengan loyalis Jokowi, maupun Prabowo. Namun, dari ke-3-nya, hanya loyalis Ahok yang memiliki militansi, hingga kini masih setia dan fanatik pada Ahok. Walaupun Ahok dipenjara, namun semangat mereka tak pernah kendur, berkurang ataupun lenyap, mereka menanti kiprah Ahok setelah keluar penjara.

Jokowi sekalipun tidak memiliki pendukung seloyal dan semilitan pendukung Ahok. Loyalis Ahok hanya mungkin kalah dari loyalis Habieb Rizieq, bedanya orientasi pendukung pada politik sementara Habieb Rizieq agama. Namun kedua pendukung sama-sama berani dan militan.

Kembali ke Ahok dan pilpres, sebagaimana saya katakan bahwa tensi politik 2019 sedikit menurun, tentu akan mempengaruhi kompetitipnya ajang 5 tahun tersebut. Hal itu ibarat liga Champion Eropa tanpa diikutsertakannya Barcelona FC, seperti Barca tanpq Messi, seperti malam tanpa siang dan sebaliknya.

Tokoh lain belum ada yang sepopuler Ahok hingga saat ini, selain suka memakai topeng, politisi kita cenderung ingin yang biasa saja kecuali untuk urusan korupsi. Soal korupsi politisi kita senang berlomba kuantitas tabungan dan kekayaan. Hal itu pula yang membedakan Ahok dengan tokoh lainnya, Ahok dikenal apa adanya, tegas dan kontroversial. Bila di Amerika Serikat ada Donald Trumph maka di Indonesia ada Ahok.

Ketika Ahok menjadi calon kepala daerah berpasangan dengan Djarot, suasana pilkada DKI seperti pilpres 2014, semua sepakat akan hal itu. Semua tokoh nasional bahkan internasional bicara soal pilkada DKI dan Ahok. Butuh beberapa kali aksi umat Islam untuk mengalahkan Ahok dalam pilkada DKI, itupun terjadi diputaran kedua. Pada putaran pertama Ahok mengungguli kandidat yang didukung Prabowo maupun SBY.

Pesona pilkada DKI begitu menarik, bayangkan bila Ahok tak melakukan kesalahan dipulau seribu. Tentu Ahok dengan mulus akan menjadi Gubernur DKI, dan pilpres 2019 akan mendampingi Jokowi. Bila itu terjadi maka pilpres 2019 sudah selesai sebelum waktunya, tentu saja bukan bermaksud mendahului taqdir illahi. Lalu dengan dipenjaranya Ahok apakah Jokowi berani menjadikan Ahok sebagai cawapresnya.

Jokowi harus berani melakukan pengorbanan sebagaimana Ahok berkorban untuk Jokowi pada pilpres 2014. Pesona pilpres 2019 akan hilang bila Jokowi tidak menjadikan Ahok sebagai cawapresnya, dan itu pilihan yang tidak bijaksana serta kalkulasi politik yang salah pula.

Jokowi harus ingat, dan sebaiknya dijadikan pertimbangan, Ahoklah yang berani menentang Megawati dan kemudian menundukkannya. Saat itu Ahok ingin jalur independen dan tak butuh parpol, kemudian Ahok berbalik dan parpol pun berbalik mendukungnya. Peristiwa menyadarkan semua orang, elektabilitas Ahok mampu memaksa parpol mendukungnya walaupun awalnya berbeda pendapat.

Kemampuan Ahok yang satu ini jarang dimiliki politisi, biasanya politisi apalagi calon kepala daerah akan patuh pada parpol. Kemampuan yang harus dimaksimalkan Jokowi dan tak boleh disia-siakan begitu saja bila ingin menang kembali. Pesona pilpres dengan sendirinya akan terjaga, demokrasi kita akan semakin teruji bila nantinya Jokowi-Ahok menang.

Parpol pendukung Jokowi pasti sepakat menjadikan Ahok sebagai cawapres guna menjaga kemenangan dan pesona pilpres. Projo, TemanAhok, maupun ormas pendukung keduanya tentu senang tidak golput, terutama pendukung Ahok. Selain hilang pesona, pilpres 2019 akan meningkat angka golput bila Ahok tidak dilibatkan. Kerugian yang harus dicegah, revisi peraturan KPU yang menghambat Ahok harus segera dilakukan.

Gambaran pilpres yang hambar akan benar-benar terjadi bila Ahok dihambat. Ahok harus menjadi salah satu kontestan dan idealnya berpasangan dengan Jokowi. Chemistri keduanya sudah terbangun sejak pilkada DKI (2012). Jokowi jangan sampai terkesan mengkhianati Ahok dan pendukungnya, saat inilah Jokowi membuktikan diri sebagai sahabat sejati Ahok tanpa bisa ditawar.

Jokowi patut berterima kasih pada Ahok yang mampu menggantikan posisinya sebagai Gubernur dengan baik. Ahok tetap melanjutkan program-program Jokowi sebagai seorang sahabat. Harus diakui, Ahok memiliki pesona bagi pendukungnya, bukan hanya di Jakarta namun se-nusantara. Banyak yang berharap dapat menjadi kontestan pilpres, bahkan ada yang berharap ia menjadi capres bukan cawapres. Bila Ahok lolos sebagai capres bukan hanya cawapres, itu salah satu kesalahan terbesar Jokowi. Karenanya langkah cepat harus dilakukan Jokowi, menjadikan Ahok sebagai cawapres 2019 berpasangan dengan dirinya.