Berbeda dengan santri pada umumnya di pondok pesantren waria Al-Fattah Yogyakarta yang berada di usia 40 tahun ke atas. Tania adalah salah satu santri di pondok pesantren waria yang terbilang sangat muda.

Tania berusia 28 tahun, berasal dari Kota Yogyakarta dan setiap minggu “rajin” datang ke pesantren waria untuk belajar membaca Alquran dan melaksanakan salat berjemaah.

Satu hal yang menarik dari dirinya, ia mungkin satu-satunya waria yang memiliki paras fisik yang cantik, kulit mulus, dan feminin. Hanya suara dan jakung di leher yang “masih” menjadi tanda bahwa Tania adalah seorang perempuan transgender.

Suatu hari saya bertanya kepadanya, “Kenapa tertarik belajar ngaji di pondok pesantren waria?”.

Tania kemudian menjawab bahwa hanya pesantren waria yang bisa memberikan ruang bagi waria seperti Tania untuk melaksanakan salat menggunakan mukena, sedangkan di tempat lain seperti musala atau masjid “belum” representatif untuk waria.

Jawaban Tania spontan membuat saya terdiam. Selama ini saya berpandangan bahwa masjid/musala adalah ruang beribadah untuk siapa saja yang berkenan untuk beribadah. Ternyata masjid/musala memiliki jenis kelamin, dalam artian melihat pada identitas gender laki-laki dan perempuan, sedangkan waria mendapat pengecualian di situ.

Terlepas dari cerita itu, tulisan ini adalah dokumentasi pengalaman tentang Tania, seseorang dengan identitas gender waria yang mendapat pengalaman “buruk” hanya karena ia seorang waria.

Tania; Antara Penolakan dan Penerimaan Keluarga 

Tania adalah seorang suku Jawa, lahir dan besar di kota Yogyakarta. Tania adalah seorang muslim yang memiliki pengalaman di masa kecil sebagai seorang mu’adzin masjid di samping rumahnya.

Pendidikan Tania sejak Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) ditempuh di Kota Yogya. Tania memilih untuk tidak menempuh pendidikan hingga Perguruan Tinggi karena memilih untuk bekerja untuk membantu ekonomi keluarga karena bapaknya telah meninggal dunia.

Berdasarkan cerita Tania, bahwa ibunya menuturkan jika sejak kecil Tania sudah bersifat layaknya anak perempuan seperti suka main boneka, suka main dengan teman sesama perempuan, suka main dandan-dandanan, dan tidak suka main dengan teman laki-laki.

Kedua orang tua Tania tak pernah memaksa Tania untuk bermain dengan siapa dan suka main apa. Kebebasan memilih apa yang Tania sukai sudah ditanamkan oleh keluarganya sejak Tania kecil.

Bahkan salah satu keluarga Tania sempat ada yang menduga jika kelak Tania akan menjadi waria.

Seiring dengan perjalanan usia, Tania yang berjenis kelamin laki-laki dijuluki oleh teman-temannya sebagai laki-laki yang cantik dan kemayu. Ya, Tania adalah berjenis kelamin laki-laki tetapi sifat dan wajah seperti perempuan yang cantik, lembut, kulit putih bersih, dan badan yang ramping.

Tania merasa bahwa dirinya adalah seorang laki-laki, dan memutuskan untuk berubah penampilan. Di usia Tania yang ke-18 tahun, Tania memutuskan untuk berubah penampilan layaknya laki-laki.

Mulanya Tania coba-coba dengan sembunyi menggunakan atribut pakaian perempuan. Antara usia 18 tahun hingga usia 24 tahun, Tania on-off berpenampilan layaknya perempuan.

Kakak kandung Tania yang mengetahui perubahan penampilan Tania dari laki-laki menjadi perempuan menolak dengan keras perubahan gender tersebut. Bahkan kakak kandung Tania sempat mengusirnya dari rumah agar tidak kembali lagi pulang ke rumah keluarga.

Tetapi ibu Tania justru menerima Tania apa adanya dan menerima identitas gendernya yang baru sebagai waria. Karena kakak kandung Tania memilih tinggal di Pontianak Kalimantan Barat, jadi Tania tidak terusir dari rumah keluarga.

Penerimaan ibu Tani dan saudara perempuan Tania dengan totalitas dan tanpa syarat menjadi kekuatan tersendiri bagi Tania untuk menunjukkan kepada orang lain tentang identitas gendernya sebagai waria.

Di usia Tania yang ke-25 tahun, Tania memutuskan untuk mengubah penampilan secara totalitas sebagai waria. Tania kemudian mengganti seluruh pakaian menjadi pakaian ala perempuan, menyambung rambut dari pendek ke panjang, berdandan layaknya perempuan, dan membesarkan payudara dengan cara suntik. 

Tania Dipecat dari Tempat Kerja karena Waria

Di usia Tania yang ke-23 tahun, Tania bekerja di Klub Malam di Seturan Yogyakarta dengan berpenampilan sebagai laki-laki. Pertama kali Tania bekerja bertugas sebagai server atau pramusaji. Tugas Tania setiap malam adalah menyuguhkan minuman dan makanan yang dipesan oleh tamu yang datang.

Kala itu, Tania mendapat bayaran gaji di bulan kedua bekerja sebesar 1.300.000/bulan. Karena berdasarkan evaluasi karyawan klub kinerja Tania bagus. Beberapa bulan setelah bekerja sebagai server, Tania kemudian naik jabatan menjadi kepala server.

Setelah tiga bulan menjadi kepala server, Tania mendapat kenaikan jabatan di tempatnya bekerja sebagai Kapten, yaitu kepala pimpinan semua divisi, baik kasir, bar, sound system, barista, hingga server.

Di tempat kerja itu, Tania berposisi sebagai kapten selama 6 bulan, dengan evaluasi kinerja sebagai karyawan klub yang memiliki integritas bagus dan loyalitas yang tinggi kepada perusahaan.

Dua tahun bekerja di Klub Malam dengan penampilan gender sebagai laki-laki, tania merasa tak nyaman dengan penampilannya. Di suatu hari di tahun 2016, Tania menghadap ke bos perusahaan dan bercerita bahwa dirinya adalah seorang waria dan ingin bekerja dengan berpenampilan sebagai waria.

Tetapi owner perusahaan tidak menerima cerita Tania dan menolak permintaannya. Tidak berapa lama setelah itu, Tania dipanggil oleh bos Klub Malam. Si bos menyampaikan permintaan maaf dan menyampaikan bahwa Tania dipecat secara hormat dari tempat kerja karena alasan dirinya seorang waria.

Tania menerima pemecatan tersebut karena keputusan yang bulat dan keinginan yang tinggi untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa dirinya adalah waria.

Karena Tania adalah karyawan dengan prestasi kerja yang bagus dan posisi yang tinggi, maka pihak perusahaan memberikan Tania pesangon dari tabungan sebesar 600.000, ditambah pesangon gaji sebesar 2.500.000, dan ditambah pesangon pribadi dari owner perusahaan sebesar 1.500.000.

Satu tahun setelah Tania dipecat dari tempat kerjanya, Tania mendapat kabar dari sesama karyawan bahwa Klub Malam tempat dulu Tania bekerja ditutup karena sepi tamu dan perusahaan bangkrut karena owner perusahaan tersandung kasus hukum, yaitu kepemilikan narkoba. 

Kejadian tersebut membuat Tania merenung bahwa “mungkin” kasus yang menimpa owner klub malam tempat Tania bekerja adalah cara Tuhan untuk menegur bahwa Tania adalah waria yang baik yang bekerja dengan loyalitas yang tinggi.

Tania, Perias Make Up  

Pasca dipecat dari tempat bekerja, Tania menyambung hidup dengan bergabung bersama kawan-kawan waria yang lain yang selalu “mangkal” di lampu merah. Tania alih pekerjaan sebagai pengamen jalanan.

Selama setahun menjadi pengamen, Tania kemudian belajar tata rias dengan profesional. Setelah itu, Tania kemudian bekerja sebagai perias di salon milik kawannya yang juga seorang waria.

Dengan merias, Tania menemukan keahlian yang dimilikinya. Ya, Tania menemukan bakatnya di bidang tata rias make up. Tania bekerja sebagai perias dari awal mulanya perias wisuda, perias among tamu, perias manten, hingga perias make up artis.

Bahkan keluarga dan masyarakat di rumahnya “selalu” mengundang Tania untuk merias, baik ketika ada hajatan keluarga maupun ketika acara karnaval 17 agustusan atau acara kartinian.

Karena perias seperti itu tidak setiap hari dan hanya diundang ketika ada acara tertentu saja, maka sehari-hari Tania bekerja sebagai tenaga freelance di Klub Malam terbesar di kota Yogyakarta sebagai perias make up ladies Club (LC).

Dengan pekerjaan sebagai perias, Tania bisa dikatakan sebagai waria yang mandiri dan tekun bekerja. Tania mampu membantu perekonomian keluarga dan mampu menunjukkan kepada masyarakat bahwa menjadi waria adalah menjadi diri sendiri yang diinginkan.

Waria yang seperti Tania inilah yang “jarang” terdengar di khalayak publik, bahwa waria juga memiliki keahlian khusus yang “mungkin” tidak dimiliki oleh manusia kebanyakan.

Pengalaman Tania yang pernah diundang oleh artis papan atas Indonesia untuk make up artis menunjukkan kepada kita semua pada keahlian waria dalam merias adalah anugerah spesial dari Tuhan untuk waria.

Karenanya, orang lain tak berhak “mencela” waria hanya karena ia waria.