Kepercayaan adalah sebuah barang mahal. Tidak mudah mendapat percaya dari seseorang apalagi di zaman yang penuh hoax sekarang ini. Ketika sebuah informasi menjadi penuh keraguan di manakah kita akan mencari kepastian. Ketika saluran resmi pun sudah dicurigai lantas kepada siapa lagi kita akan berpaling.

Akhir akhir ini sebuah berita tentang keburukan dan kekurangan seseorang gampang sekali kita nikmati. Tinggal ngeklik kita bisa membaca dan kadang tak terasa kita menjadi bagian dari penulis berita itu dengan menyebarkannya.

Di dunia tidak ada yang tidak mungkin, namun kebingungan para pengonsumsi berita jelas terjadi dengan adanya kabar burung yang tidak pasti kebenarannya tersebut. Bagi pihak yang selalu kritis dengan apa yang ia baca, akan bertanya tanya apakah semua ini benar ataukah hanya efek dari kebencian seseorang terhadap orang lain semata.

Kita hanya bisa menunggu, karena biar bagaimanapun, kita hanya pengonsumsi berita atau informasi yang begitu mudah dikonsumsi karena kemudahan sarana atau media informasi.

Dalam hidup dikenal tiga macam cobaan yang lazim dikenal dengan istilah tiga TA: Harta, Wanita, dan Tahta. Namun, di antara ketiga itu, yang paling berbahaya dan paling menggoda adalah "Ta" yang terakhir yaitu Tahta atau Kekuasaan. Kekuasaan inilah yang mempermudah seseorang ataupun golongan untuk mendapatkan dua Ta yang sebelumnya yaitu Harta dan Wanita.

Dalam setiap perebutan kekuasaan kita bisa mengambil pelajaran dari masa lampau bagaimana kekuasaan diperebutkan hingga melupakan sanak saudara bahkan tak jarang sampai menumpahkan darah. Kini, di zaman modern ini perebutan kekuasaan memang tak lagi berdarah darah seperti zaman baheula. Ada mesin mesin politik yang menjadi sarananya untuk mendapatkan kekuasaan itu.

Kita sebagai negara yang berbhineka tunggal ika yang sudah banyak mengalami kerugian sejak zaman kolonial hanya karena kita berbeda dan dimanfaatkan oleh para penjajah dengan mengadu dombanya. Melihat gejala ini, di mana Pileg dan Pilpres tengah naik tensinya,   tentunya saya berfikir apakah harus saling curiga dan membenci.

Bila kita tidak kritis dan bisa menahan diri dengan hal ini,  kita akan diketawakan oleh orang asing bagaimana kita begitu mudah di panas panasi untuk saling memusuhi keluarga sendiri hanya karena kita mabok kuasa.

Isyu-isyu SARA sering mewarnai setiap pemilihan umum terutama di daerah yang majemuk kondisi sosial budayanya. Harusnya, kita menyadari bahwa tujuan kita bernegara adalah hidup bersama, bahagia bersama, dan makmur bersama, tanpa ada yang mendominasi karena kita mempunyai konstitusi yang disepakati bersama.

Terlepas dari keinginan keinginan pribadi dan golongan, harusnya keinginan berkuasa jangan sampai menjadikan kita lupa diri meski berkuasa itu menyenangkan bagi yang rakus kekuasaan. Siapapun penguasa harusnya selalu waspada agar tidak tergelincir dalam godaan Harta dan Wanita.

Tak perlu lagi saling curiga hanya karena ingin berkuasa karena saya meyakini bahwa niat tulus tidak akan dilakukan dengan jalan menjelek jelekan orang lain. Karena hanyalah si bodoh yang meyakini bahwa jalan tercepat memperoleh simpati adalah dengan jalan menjelek-jelekan orang lain. Raihlah kekuasaan dengan cara yang bijaksana jangan saling curiga supaya kekuasaan itu bisa menjadi berkah buat sesama.

Ada dua kebenaran dari pihak yang dituduh dan yang menuduh. Mari kita menyikapi kabar kabar ini dengan jeli karena kita adalah negara demokrasi yang menganut bahwa hukum adalah di atas segalanya dan semua pihak berkedudukan sama di muka hukum.

Mari kita percayai bahwa negara ini tidak semua dikendalikan oleh  orang buruk. Andaikata kita percayai bahwa semua pengendali negara ini bermental buruk tentunya negeri kita sudah ambruk. Hukum tetaplah kita percaya sebagai pengadil yang meski banyak dihuni para oportunis duniawi.  ada sedikit mungkin orang baik yang masih bisa memberi warna akan kebaikan.

Mari kita pasrahkan bahwa keadilan dunia yang mungkin tidak bisa kita raih lantaran hukum yang penuh kepentingan masih ada pengadilan tuhan yang lebih Adil dan Maha memberi keadilan. Jauhkan segala prasangka buruk dan selalu mengeksplorasi kebaikan orang lain.

Menjadi orang yang selalu awas dengan kebaikan orang lain itu menentramkan. Jangan sibuk mencari cari keburukan orang karena di zaman ini keburukan orang lain berlalu lalang tak karuan di media sosial. Selalu kritis dan jangan latah menebar isyu yang tak pasti adalah jalan menjadi pribadi berpendirian teguh.

Hilangkan sikap mencurigai satu sama lain. Kita perlu untuk saling mendorong dan mengangkat harkat kemanusiaan kita menjadi manusia yang santun ramah dan suka bekerja sama.

Mari, dengan rasa rendah hati, berdoa dan selalu berkhusnuzon agar apa yang kita sangka baik betul betul terjadi menjadi sebuah kebaikan. Hilangkan prasangka buruk karena itu hanya akan menyakiti hati kita.