Dahulu, orang-orang menginginkan adanya kemajuan teknologi yang membuat mereka bisa berhubungan, berkomunikasi, menjalin silahturahmi dari jarak jauh. Setelah era yang mereka inginkan telah tiba, membuat kehidupan manusia pun berubah banyak. Khususnya dalam bidang sosial. Seiring dengan pengguanaan internet yang semakin meluas, bermunculan juga aplikasi seperti facebook, instagram, twitter, dan lain sebagainya.

Setiap inovasi yang muncul, pastinya memiliki dampak positif dan negatif tersendiri. Contohnya seperti penggunaan internet, tergantung pada orang yang menggunakan, apabila ingin diarahkan ke arah yang positif, bisa. Apabila ingin diarahkan ke arah yang negatif pun bisa. Penggunaan internet secara positif seperti, untuk berbagi pengalaman, tempat berjualan secara daring, dan mempelajari hal-hal baru dari media daring ini. Penggunaan secara negatif seperti, melakukan penipuan atau melakukan perundungungan terhadap seseorang melalui media sosial atau yang kita tahu dengan cyber bullying.

Berbicara mengenai cyber bullying atau perundungan yang dilakukan melalui teknologi digital seperti media sosial, memiliki dampak yang tidak bisa disepelekan. Kebanyakan dari kasus cyber bullying membuat korban terluka dan trauma baik secara fisik maupun psikis. Dampak yang bisa dilihat dari seseorang yang mengalami perundungan seperti, selalu menarik diri dari lingkungan sosialnya, mendatangkan gangguan post traumatic stress disorder atau PTSD yang apabila terjadi pada orang dewasa akan menyebabkan sistem kekebalan tubuh menjadi terganggu kinerjanya, rasa depresi, hingga yang terburuk adalah bunuh diri.

Salah satu kasus perundungan yang terjadi yakni, pada media sosial twitter. Pada kasus ini, pelaku membuat sebuah grup whatsapp yang niat awalnya ditujukan untuk membahas seputar k-pop yakni jenis musik yang berasal dari Korea Selatan. Tetapi, malah berujung pada tindakan fitnah pada sejumlah orang dari kalangan yang sama yakni penggemar k-pop, salah satunya ialah Fanny (nama samaran).

Pada screenshot percakapan yang dibagikan oleh beberapa teman Fanny, pelaku memfitnah Fanny dengan mengatakan “pasti dia jadi pramugari (senior) juga hasil main sama pilotnya” hal tersebut sontak membuat Wati marah dan menangis. Wati yang memang memiliki banyak followers pada akun instagram dan twitternya pun semenjak dahulu selalu bercerita tentang bagaimana ia bisa mencapai karirnya hingga saat ini. Ia juga mengatakan bahwa selalu ingat pesan kedua orang tuanya saat beliau meminta izin untuk menjadi pramugari.

Setelah mendapatkan berita tersebut, Wati memberi waktu 1x24 jam untuk pelaku meminta maaf kepada dirinya dan beberapa temannya yang ikut difitnah dalam grup tersebut. Namun, sudah lewat tenggat waktu, pelaku belum meminta maaf juga. Sehingga, ia dan beberapa temannya melayangkan somasi terhadap pelaku. Setelah siang harinya somasi dikirimkan, malamnya pun pelaku membuat video permintaan maaf dan diunggah di akun twitter miliknya.

Namun, kasus tidak berhenti disitu saja. Warganet yang memang mengetahui masalah tersebut atau bahkan mengenal baik Wati dan teman-temannya pun ikut berkomentar pada akun pelaku. “Minta maafnya ga serius itu mah, masa sambil nongkrong di café” begitulah ujar beberapa warganet. Masih banyak komentar lain yang menunjukkan kemarahan mereka kepada pelaku. Hingga beberapa warganet mencari tahu beberapa privasi dari pelaku dan ikut merundung anak dari pelaku, hal tersebut di latar belakangi karena warganet merasa geram dengan ulah pelaku. Ternyata bukan hanya kali ini saja pelaku bermasalah, dahulu pun sudah pernah tetapi dengan orang yang berbeda.

Setelah video permintaan maaf tersebut diunggah, Wati dan temannya sudah merasa cukup karena mereka butuh klarifikasi bahwa hal yang pelaku sebutkan adalah tidak benar dan meminta maaf karena sudah mencemarkan nama baik para korban. Tapi hujatan terhadap pelaku tidaklah berhenti samai situ. Kabar terakhir yang diketahui pelaku membuat status di aplikasi whatsapp, jika ia berada dirumah sakit.

Hal ini menunjukkan bahwa dampak perundungan bisa terjadi pada kedua pihak, tetapi tetap korban lah yang paling terdampak pada kasus ini. Tidak menutup kemungkinan, pelaku perundungan juga mengalami dampak perundungan dari pihak lain. Warganet selalu berdalih dengan kata “tanggung jawab” karena perbuatan pelaku sendiri. Namun, hal tersebut tidaklah sepenuhnya benar.

Apabila pelaku sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada pihak korban, harusnya cukup sampai disitu dan menjadi pelajaran bagi orang lain agar tidak melakukan hal yang serupa. Sebagai warganet juga, kita harus mampu mengendalikan diri sendiri saat berselancar di media sosial.

Oleh karena itu, diperlukan beberapa solusi agar tindakan perundungan di media sosial dapat kita hindari. Beberapa cara yang dapat dilakukan ialah mencari hal-hal yang positif saja dan memanfaatkan media sosial dengan sebaik mungkin, apabila ada hal yang memicu keributan sebaiknya diabaikan saja agar kita tidak ikut terbawa emosi, lalu cara lainnya dengan meyakinkan diri kita bahwasannya kita sudah mampu dan dapat membatasi diri dari tindakan tidak baik terlebih lagi tindakan mengancam, mencela, dan merundung seseorang.