Mahasiswa
1 bulan lalu · 38 view · 3 menit baca · Lingkungan 75016_88348.jpg
Al Jazeera

Tanggalkan Plastikmu, Kenakan Kertasmu

Lingkungan hidup kita sedang tidak baik-baik saja. Pencemaran bumi tertular di mana-mana. Pengrusakan alam terjadi begitu masif, terus-menerus.

Siapa pelaku utama pencemaran dan pengrusakan itu? Adalah kita sendiri, manusia. 

Disadari atau tidak, kebiasaan manusia dalam menggunakan kantong plastik, tak terkecuali sebagai wadah barang-barang belanjaan, adalah satu dari sekian banyak penyumbang terbesar pencemaran lingkungan. Kita melakukan pengrusakan dengan membuang plastik di sembarang tempat, membuangnya begitu saja tanpa peduli keadaan sekitar.

Data dari Plastic Change bisa kita jadikan bukti. Disebutkan bahwa sekitar 8 – 12 ton limbah plastik kini mengapung di lautan lepas. Keberadaannya sangat mengancam. Tidak saja bagi kita sebagai manusia, tetapi juga ikan-ikan laut yang merupakan sumber makanan utama.

Jika hal itu terus berlanjut, menurut data tersebut, diprediksi pada tahun 2025 nanti akan ada 1 ton limbah plastik untuk setiap 3 ton ikan di laut. Artinya, setiap ikan yang kita makan sangat berpotensi mengandung benih plastik yang tidak saja susah dicerna, melainkan juga mengandung racun.


Disebutkan pula bahwa limbah-limbah plastik itu berasal dari 80 persen aktivitas industri di darat. Selebihnya, 20 persen, berasal dari aktivitas di atas laut sendiri, yang kebanyakan bersumber dari ulah nelayan maupun transportasi perkapalan. Dari data itu, Indonesia menempati peringkat 2 dari 20 negara penyumbang sampah plastik terbesar.

Besarnya ancaman plastik ini mendorong kita untuk mengarahkan kertas sebagai solusi. Kita butuh bahan-bahan yang lebih ramah lingkungan, pengganti kantong plastik. Jangan biarkan apa yang kita konsumsi malah melahirkan malapetaka bagi kehidupan.

Kertas Adalah Jawaban

Siapa yang tidak mengenal kertas? Iya, kertas, sebuah barang yang kebanyakan berupa lembaran, terbuat dari bubur kayu, dan sering dipakai sebagai alat tulis-menulis.

Jika Anda adalah pelajar atau mahasiswa, yang kini bergelut di sekolah-sekolah atau perguruan-perguruan tinggi, tentu penggunaan kertas adalah makanan sehari-hari. Walau sebenarnya sudah diprediksi banyak orang bahwa peran kertas di wilayah itu, yang cepat atau lambat akan tergantikan dengan produk-produk teknologi mutakhir (komputer, laptop, gawai), tetapi kenyataan sekarang belum mampu kita patahkan: penggunaan kertas masih mendominasi.

Coba bayangkan saja, apa jadinya dunia pendidikan kita jika tanpa adanya kertas sebagai medianya? Mulai dari tugas-tugas kuliah hingga bahan-bahan diskusi di luar kampus, kertas senantiasa hadir sebagai penyerta. Bolehlah kita kata, kertas sejatinya adalah pendamping hidup dalam hal menuntut pendidikan.


Sejarah kertas sendiri sebenarnya sudah memperlihatkan itu. Penciptaan awal kertas adalah sebagai media utama untuk menulis. Kehadiran kertas adalah bagian dari revolusi baru yang berhasil memberi sumbangan besar bagi peradaban dunia, dulu hingga sekarang.

Meski demikian, kita tetap tak bisa menyangkal bahwa kertas memang bukanlah satu-satunya entitas pembangunan peradaban manusia. Ada alat-alat lain yang turut menunjangnya. Salah satu yang utama adalah mesin cetak atau alat pengganda tulisan di atas kertas.

Meski hampir semua orang sudah mengenalnya, tetapi mungkin tidak banyak di antara mereka yang tahu betul bahwa kertas ternyata punya manfaat lain di luar perannya sebagai media tulis. Kertas ikut menyumbang potensi kelanjutan hidup manusia. Bukan saja karena kegunaannya yang sangat kaya, melainkan juga karena penggunaannya adalah sama sebagai upaya pelestarian ruang atau lingkungan hidup.

Untuk itu, menanggalkan plastik dan beralih menggunakan kertas adalah solusi terbijak. Kita tidak bisa menunggu lama lagi sampai bumi ini benar-benar lenyap akibat ulah kita sendiri sebagai penghuninya.

Yang pertama, setidaknya, kita bisa menggunakan kertas sebagai tas belanja. Kebiasaan ini harus kita tanamkan sejak dini, terus sampai ke anak-anak cucu kita. Setiap belanja, sebisa mungkin kita membawa sendiri tas belanja. Kita sudah harus mengabaikan penggunaan kantong plastik sekali pakai.

Mengubah budaya penggunaan kantong plastik ini memang susah, sama susahnya dengan menghilangkan kebiasaan membuang sampah di sembarang tempat. Sungai dan laut, contohnya, atau di jalan-jalan umum, masih dipandang sebagai tempat sampah terbaik. Maka bukan rahasia lagi jika di mana-mana kita sangat mudah menemukan serakan-serakan sampah.


Jadi, selain mengupayakan pengadaan tempat sampah modern di lingkungan masyarakat, pemerintah juga harus kita dorong untuk membuat kebijakan akan pengurangan pemakaian plastik. Yang terakhir ini sangat mendesak, karena kebanyakan produk yang manusia modern gunakan hari ini lebih banyak yang berkemasan plastik (saset).

Pelarangan kemasan saset harus pemerintah prioritaskan. Industri atau perusahaan makanan dan minuman wajib menjadikan kertas sebagai kemasan utama. Menanggalkan plastik untuk kemudian mengenakan kertas merupakan pilihan logis.

Artikel Terkait