Mendung bergelayut. Petir menyambar. Gerimis menuju hujan. Tapi orang-orang tetap merangsek begitu gegas. Mereka membelah jalanan, menyisakan dengung kendaraan. Dengung itu, seperti jawaban Echo saat dipanggil Narcissus: memantul dan menggema.

Mereka, menuju kota, memburu keramaian. Kembang api akan segera bermuncratan. Langit akan segera dibakar oleh ummat manusia. Pada malam tanggal 31 Desember, adalah malam keriuhan yang selalu menyisakan kebakaran langit, kebisingan dan tebaran sampah.

Esoknya, saat kalender menunjukkan tanggal 1, orang-orang bangun kesiangan. Dan embun-embun meringis menertawakan perayaan yang baru saja berlangsung.

Mengapa Tanggal 1 dan Bukan Tanggal 0?

Pertanyaan itu bisa jadi jarang terbersit dalam benak para jamaah pembakar langit. Waktu berjalan begitu saja, dibiarkan terus menjejak bersama bulan yang terus bergerak, dan matahari yang sesekali batuk berdahak. Kita mengabaikan apakah ada atau tidak tanggal nol itu.

Tanggal Nol tak akan dipertanyakan. Karena, hampir dari kita kebanyakan jika disuruh berhitung dengan keras maka akan berteriak dan mulai dari: “satu, dua, tiga, empat, …” dan seterusnya. Jarang dari kita akan berhitung mulai dari “Nol, Satu, Dua, Tiga,…” kecuali seorang matematikawan cerdas dan seorang programmer komputer yang eling lan waspada.

Bayangkan saja seorang anak lahir pada tahun pertama: tanggal 1 Januari 1 M. Pada tahun ke dua, ia berusia 1 tahun; pada tahun ke tiga, ia berusia 2 tahun; pada tahun ke empat, ia berusia 3 tahun, dan seterusnya: pada tahun Sembilan puluh Sembilan, ia akan berusia 98 dan di tahun seratus ia akan berusia 99 tahun.

Pada 1 Januari 101, ia merayakan 100 tahun usianya. Itu dinamakan seabad. Abad selanjutnya baru dimulai usai tahun 101. Jadi selama satu abad itu adalah 1 sampai 101, bukan 1 sampai 100. Karena 1 samai 100 adalah 99.

Jika demikian, salahkah penghitungan kalender kita selama ini?

Dionysius dan Bede

Pada abad VI, Paus Johannes I meminta Dionysius membuat tabel Paskah. Ia melakukan penelitian kecil. Kemudian ia menentukan tahun kelahiran Kristus yang seharusnya disebut tahun 1 anno Dommini, atau tahun pertama Tuhan kami. Tahun selanjutnya adalah tahun 2 M dan seterusnya.

Tapi sebuah kesalahan fatal sebenarnya terjadi di sini. Dionysius melupakan angka nol. Tak ada tanggal nol dan tahun nol dalam penanggalan tersebut. Pada Abad Pertengahan itu, Barat berpegang pada sistem hitung Romawi yang tak memiliki angka nol. Maka bagi Dionysius, tahun pertama Masehi secara alamiah adalah tahun ke I.

Dua abad kemudian, ketiadaan angka nol ini menimbulkan persoalan. Tabel Paskah Dionysius akan berakhir dan Bede, seorang biarawan dari Inggris Utara, menggunakan sistem penanggalan baru.

Bede menulis sejarah Gereja Inggris mulai dari tahun 60 SM, 60 tahun sebelum tahun berdasarkan hitungan Dionysius. Bagi Bede yang juga mengabaikan angka nol, tahun setelah 1 SM adalah tahun 1 M. Jadi tidak seperti hitungan saat ini, dimana batas antara bilangan positif dan negatif adalah nol.

Umpamakan saja seperti ini: Masehi (M) adalah bilangan positif dan Sebelum Masehi (SM) adalah negatif. Maka sistem penghitungan Bede adalah: …, -3, -2, -1, 1, 2, 3,… Nol seharusnya ada diantara -1 dan 1. Tapi itu tidak terjadi.

Jika kita membayangkan terdapat seorang anak yang lahir pada 1 Januari 4 SM. Ini berarti tahun -4 (minus 4) ia lahir. Pada tahun 1 M ia berusia 4 tahun. Pada tahun 2 M ia berusia 5 tahun. Tapi benarkah ini karena jika kita mengurangi tahunnya, 2-(-4) = 6 tahun. Tapi jika kita mengikuti Bede dan Dionysius, anak itu berusia 5 tahun, bukan 6 tahun. Sebuah kekeliruan penanggalan yang fatal.

Apakah penanggalan yang kita gunakan selama ini salah? Lalu hitungan perayaan-perayaan suci keagamaan kita sebenarnya tepat atau tidak? Kalau penanggalan kita sebenarnya salah, perayaan-perayaan suci keagamaan yang telah berlangsung, berarti itu juga salah? Berarti kita selama ini berpraktek keagamaaan dengan cara yang salah? Waduh!

Barat dan Ketiadaan

Seorang pedagang di pasar tidak mungkin menjawab pertanyaan konsumen “apakah kamu punya pisang?” dengan jawaban “saya punya nol pisang”. Atau jika seseorang yang tidak punya uang dimintai uangnya oleh seorang teman maka ia pasti menjawab “saya tidak punya uang” dan hampir mustahil ia menjawab “saya punya nol uang”. Apakah nol sama dengan ketiadaaan?

Abad pertengahan Barat melanjutkan tradisi filosofis Yunani. Mereka mendasarkan dirinya pada filsafat Aristotelian dan Pythagorean. Filsafat Aristoteles sendiri menyangkal bahwa “tidak ada sesuatu yang ‘ada’ bisa diciptakan dari ‘ketiadaan’. Karena itu, tidak mungkin ada angka nol.

Barat abad pertengahan adalah peradaban yang begitu takutnya dengan ketiadaan. Sepertinya jika kita berpikir pada saat sekarang, hal itu akan sangat lucu jika sebuah peradaban takut dengan sebuah angka. Dan angka itu adalah nol karena nol mewakili ketiadaan. Tapi nol, memang benar-benar bisa mengancam eksistensi kebertuhanan seseorang. Apalagi mereka yang tidak percaya dengan ketiadaan.

Pythagorean yang jadi dasar doktrin peradaban Barat mendasarkan bahwa: planet bergerak dalam ruang berbentuk bola semesta. Namun apakah yang berada di luar bola ini? Adakah ruang lain yang lebih besar dari bola semesta ini, yang itu tak memiliki batas akhir? Sebuah ruang kosong yang tak terhingga?

Aristoteles dan ummat Aristotelian melanjutkan doktrin Pythagorean bahwa tak ada ketakterhinggaan yang melingkupi bola semesta itu. Di sana ada akhir, ada batas. Pengadopsian ajaran itu selanjutnya, telah menunjukkan bahwa Barat menolak ketakterhinggaan. Tak ada ketakterhingaan berarti tak ada ruang kosong. Tak ada ruang kosong, tak ada angka nol.

Charles Seife dengan bukunya Biografi Angka Nol (2008) mengisahkan hal itu pada awal-awal halaman bukunya. Dan hal itu membuat kita mengerti bagaimana angka nol ini begitu menakutkan bagi Eropa Abad Pertengahan sekaligus menakjubkan untuk Abad selanjutnya.