Penulis
2 tahun lalu · 3590 view · 5 menit baca · Cerpen tanda_bekas_sujud_gambar.jpg
http://infoislamicblog.blogspot.co.id/

Tanda Bekas Sujud

Mulutnya berkomat-kamit. Matanya tertutup dengan khusyu’. Setelah beberapa saat Abik mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Dua bulatan biru kehitaman tercetak di dahinya. Tanda bekas sujud, itu yang dikatakan guru pengajiannya, akan diperoleh seseorang yang rajin shalat. Semua rekannya di kelompok pengajian itu berlomba-lomba untuk memiliki tanda itu di kening mereka.

Raut ketenangan terpancar dari wajahnya. "Alhamdulillah.." ujarnya. Ia bersalaman kepada orang di sebelah kanannya, kemudian berpaling kepada orang di sebelah kirinya. Itulah maknanya mengucapkan salam setelah sholat, ujar seorang penceramah yang pernah didengarnya, untuk menebarkan rahmat dan salam kepada orang-orang di sekitarmu.

Usai salat berjamaah, Abik siap untuk menjalankan tugasnya hari itu bersama tim satuan tugas, yang terdiri dari lima orang. Hari itu mereka akan mengadakan pemeriksaan kalau-kalau masih ada warung makan yang buka di siang hari. 

Tidak ada negosiasi, tidak ada tawar menawar lagi. Di hari pertama bulan puasa, timnya masih menemukan satu-dua warung yang nakal. Namun pemiliknya minta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Hari ini, tidak ada lagi maaf. Aturan harus ditegakkan.

Abik tidak mengerti kenapa masih saja ada orang yang tidak menghormati bulan Ramadhan, bulan suci yang mulia ini. Ia harus memberikan pelajaran kepada mereka semua.

“Ibu ini orang Islam, kenapa berjualan makanan di bulan Ramadhan?”

“Maaf Kang, maaf, tapi saya kan butuh duit untuk lebaran, mau belikan anak-anak saya pakaian baru sebagai hadiah mereka sudah bisa puasa penuh, mau kirim uang untuk saudara di kampung..”

“Astaghfirullah Ibu. Rejeki itu dari Allah, bukan dari manusia. Yang ada sekarang ibu melanggar aturan untuk berhenti jualan di siang hari. Kan malam setelah berbuka masih bisa berjualan, juga sebelum sahur...”

Ibu itu hanya bisa pasrah ketika Abik dan petugas lainnya membereskan seluruh masakan yang sudah dimasaknya sejak pukul 3 dini hari tadi. Ia sebisa mungkin menahan air matanya tidak menetes.

“Ini peringatan kedua, sekali lagi saya lihat ibu masih berjualan, warung ini akan kami bongkar saja. “ ujar petugas lain rekan Abik. Dalam hati Abik merasa iba kepada si Ibu, tapi apa boleh buat, ia harus menjalankan tugasnya, dan ini juga demi membela agamanya.

Ibu pemilik warung akhirnya tidak dapat menahan diri dan menangis terisak saat Abik dan timnya membereskan hidangan jualannya. Ini namanya, cinta yang keras, ujar Abik menghibur dirinya sendiri. Sejak jaman Rasulullah, Islam ditegakkan tidak hanya dengan kelembutan, tapi juga dengan pedang dan perang. Abik dan timnya pun meneruskan sidak mereka sampai hampir menuju petang. Itu adalah hari yang melelahkan, tapi Abik merasa puas akan apa yang mereka capai.

****



“Masya Allah, luar biasa Ente,” ujar Syamsul melihat ke arah keningnya.

Abik hanya tersipu menanggapi Syamsul. Pagi itu ketika terbangun Abik terkejut, melihat ada satu bulatan baru di keningnya. Mirip satu tanda bekas sujud yang baru. Apakah ini adalah suatu pertanda berkah Allah yang bertambah pada dirinya? Ia mengusap wajah dengan penuh syukur. Ia meyakini tanda bekas sujud adalah bentuk capaian seorang yang beriman. Dan tanda itu muncul hanya beberapa hari setelah Abik aktif menegakkan aturan dengan melakukan inspeksi. Inikah pertanda dari langit?

Namun keesokan harinya, ia menemukan bulatan lain yang serupa. Kali ini bukan di kening tempat sujud melainkan melenceng ke dahi sebelah kirinya, mendekati pelipis. Abik merasa aneh, bagaimana mungkin tanda sujud tercetak di sana. Ia sudah berusaha menggosok keningnya agar tanda itu hilang, tapi yang terjadi malah bertambah jelas. Setiap hari, ia menemukan satu bulatan baru lagi di keningnya, di tempat yang bukan menjadi tumpuan sujud. Abik mulai merasa gelisah.

“Memang berbeda saudara kita ini, banyak sekali tanda sujudnya,” begitu celetuk Ridwan, seorang anggota jemaah. “Hanya orang istimewa saja yang punya tanda seperti itu,” lanjutnya ketika melihat wajah Abik berubah suram.

Muka Abik menjadi  masam. Ia kini berusaha menutupi keningnya dengan bandana atau kopiah yang kedodoran agar tak tampak bulatan bulatan biru kehitaman itu. Setidaknya kini ada 5 bulatan itu di keningnya, amat kentara.

Abik mulai merasa jengah dan berpikir setiap orang yang melihatnya pasti sedang memandang keningnya. Ia jadi mudah curiga, dan cepat tersinggung. Ketika menggunakan bandana pun, ada saja yang mengomentarinya.

“Dahimu jadi tidak kena langsung dengan tempat sujud, itu tidak boleh,” tegur seorang anggota jemaah yang bahkan tidak terlalu dikenalnya.  Abik menahan dirinya untuk menyahut. Ia sebenarnya bosan karena setiap kali membuka bandananya, ada saja yang akan menanyakan dahinya yang kini kelebihan tanda bekas sujud itu.

Abik tetap melaksanakan tugasnya dengan seksama. Ia rajin menggerebek rumah makan yang nekad menjual makanan siang hari. Tak hanya itu, malamnya ia pun ikut menginspeksi penginapan dan kamar-kamar kos  untuk menemukan apakah ada pasangan di luar nikah yang berada di dalam satu kamar.

Inspeksi ke kamar-kamar itu memang sudah pernah ia lakukan dulu namun ia sempat berhenti dan melakukan tugas lain.  Tentunya di bulan mulia ini pemeriksaan serupa harus kembali diintensifkan. Begitulah kegiatan Abik siang dan malam nyaris tanpa kenal lelah hampir setiap hari selama Ramadhan.

Namun satu hal yang membuatnya gelisah adalah tanda bekas sujud yang bertambah banyak di wajahnya.

Abik tidak mengerti mengapa bulatan itu menjadi bertambah banyak. Dulunya ia begitu menginginkan tanda bekas sujud itu di wajahnya, pada keningnya. Ia sengaja bersujud lama-lama untuk membuat tanda itu nyata. Dan itu tidak mudah, tidak terjadi dalam beberapa bulan. Kini hanya dalam hitungan minggu, ia sudah memiliki begitu banyak tanda bekas sujud, bahkan di tempat yang seharusnya tidak tertekan banyak ketika sujud.

Abik kini semakin banyak menunduk ketika berbicara dengan orang lain, apalagi lawan jenisnya. Selintas ia seperti orang yang sedang menjaga pandangan, padahal ia malu dengan keadaan mukanya yang penuh bulatan kebiruan itu.

Di hari Idul Fitri, Abik tidak terlihat mengikuti sholat Id. Hal itu mengundang tanda tanya dari Ridwan dan Syamsul teman-teman sejawatnya, yang langsung mengunjungi Abik ke rumah kontrakannya usai sholat.

“Abik, Assalamu’alaikum.. Abik?”

Lama mereka mengetuk pintu namun tak ada jawaban apapun. Ridwan mulai gelisah.

“Tidak biasanya Abik seperti ini ya? Kang Abik, Assalamualaikum.. ?”

Setelah cukup lama mengetuk pintu, akhirnya orang yang mereka nantikan tiba.

“Alhamdulillah, Ente masih hidup! Ane sudah khawatir sekali!” seru Syamsul menyambut Abik dengan gembira.

Yang disapa hanya tertunduk lesu dalam-dalam.

“Ente kenapa Abik? Heh kenapa?”

Ketika Abik mengangkat wajahnya, giliran teman-temannya yang ternganga. “Astaghfirullah...” desis mereka hampir bersamaan.

Wajah Abik memiliki begitu banyak tanda bekas sujud. Kini ia tidak hanya memilikinya di kening, tapi juga di area pipi kiri dan kanannya, serta dagunya.

Muka yang penuh dengan tanda yang seolah-olah adalah tanda bekas sujud.

***


Artikel Terkait