Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, begitu tertulis dalam Pembukaan UUD 1945. Tak terasa negara kita telah menapaki umurnya yang ke-71 tahun, jatuh bangun telah dilalui, berbagai karakter sempat memimpin negeri ini, dan selama itu pula berbagai polemik terjadi di negeri tercinta. Memang, manusia tidak terlahir sempurna.

Sebagian menganggap Indonesia sedang baik-baik saja, memang, bagi mereka yang hidup mewah dan berkecukupan sama sekali tidak ada masalah di negeri tercinta. Bagaimana tidak? Makan kenyang, rumah mewah, uang banyak. Pun tak bisa ditolak bahwa mereka adalah orang-orang hebat yang telah melewati berbagai manis pahitnya kehidupan, sehingga lereng jurang telah mereka lewati, dan berdiri kokoh di puncak gunung.

Sementara itu, di antara kita masih ada orang-orang yang kesusahan, bukan hanya masih ada, tapi masih banyak. Meskipun sudah berbagai cara mereka lakukan demi mengecap kehidupan yang manis, nyatanya hidupnya begitu-begitu saja. Bisa jadi, ulah manusia lain telah membunuh masa depan mereka. Tidak perlu kita menuding masa lalu mereka malas, menuduh mereka tidak mau bekerja keras, sedangkan mereka sudah hidup susah dan kesusahan. 

Mestinya hati nurani kita bekerja, tidak perlu mencaci kegelapan, lebih baik memperbaiki penerangan, begitu Syeikh Muhammad Al-Arafi mengatakan. Perilaku orang kaya kadang menyakiti hati orang-orang susah, padahal banyak dari mereka tidak mengharapkan diberi harta, hanya saja mereka merasa orang kaya begitu kikir jika tidak memperlakukan mereka dengan baik.

Sedikit pesan, perlakukanlah orang miskin, orang kaya, orang seperti apa pun itu dengan perlakuan yang sama. Perlakukan mereka sebagai manusia, bukan karena harta, kedudukan, atau perilakunya.

Sukabumi merupakan kota kecil yang terletak di Jawa Barat, diapit oleh dua kota besar yaitu Bandung dan Bogor, tidak lantasnya membuat kota ini menjadi besar pula. Daerahnya sangat luas, berdiri diatas tanah seluas 4.176,25 km2 dan meliputi 47 kecamatan, namun sayang masyarakatnya masih banyak yang hidup susah.

Katanya tanah kita tanah surga, memang, di Sukabumi banyak pantai menjadi tujuan wisata. Katanya budaya kita bermacam-macam, memang, batik dan iket sunda seringkali terlihat dijajakan di pinggir jalan. Tapi nyatanya, tempat wisata dikuasai resort-resort mewah, pun jarang ada anak muda sekarang yang mau menggunakan batik atau iket sunda. Lalu, apa artinya tanah surga?

Belum lama ini telah berdiri pabrik semen di Desa Sinaresmi, Kecamatan Gunungguruh, Sukabumi. Pabrik semen asal Thailand yang megahnya luar biasa. Ketika malam tiba, tidak ada yang bisa mengalahkan indah cahaya dari dalamnya. Ketika siang berganti, pun tidak ada yang bisa mengalahkan tingginya bangunan tersebut.

Jika penulis menjadi warga disekitar pabrik, mungkin seperti inilah yang mereka katakan. 

Besarnya pabrik ini, pak, entah hal apa saja yang sudah bapak lewati sampai pabriknya bisa sebesar ini. Pasti jatuh bangun sudah bapak lewati, tak bisa dipungkiri, bapak memang hebat.

Kami sering lihat di TV, berita-berita dari Amerika, China, dll, gencar sekali membangun negeri mereka, sementara kami tidak akan pernah sekalipun menginjak negeri tersebut meski sampai habisnya umur.

Kami paham, mungkin pabrik ini merupakan satu upaya untuk memajukan Indonesia. Ya, tau apalah kami, sekedar petani di lumbung padi, yang hanya bisa meminta tak berdaya.

Sejak dulu, kami hidup bahagia meski tidak tinggal di kota, tidak masalah pabrik bapak berada disini, jika saja kami tidak kepanasan, bising, gatal-gatal. Nyatanya, kami mendapati lebih buruk.

Sekali lagi, kapan kita bisa saling memahami?. Kami mengharapkan kerjasama yang saling menguntungkan, apakah sulit? sedangkan setiap tahunnya ribuan sarjana lulus dari berbagai belahan Indonesia. Kami rasa indonesia tidak kekurangan orang cerdas, hanya saja sedikit yang mau saling memahami.

Pesan kami, lengkapi ilmu bapak dengan iman. Dengan iman kita akan memiliki perilaku yang baik, dan semoga perbuatan kita menjadi amal ibadah di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Seperti yang sudah tertuliskan di atas, banyak dari orang-orang tak mampu yang tidak mengharapkan harta dari orang-orang yang mampu, melainkan mereka hanya perlu diperlakukan dengan baik. Memang kebanyakan mereka hanya berijazahkan Sekolah Dasar, tidaklah akan paham apa itu kalkulus, ekonomi mikro dan lain sebagainya, jangan lantas ketidaktahuan mereka dimanfaatkan demi memenuhi kebutuhan perut, sedangkan mereka meronta-ronta kesusahan.

Masyarakat di Desa Sinaresmi merupakan satu contoh, dimana ketidaktahuan masyarakat dimanfaatkan oleh orang-orang berpendidikan. Masih banyak yang lain, seperti Pabrik Pengolah Limbah di  Desa Lakardowo, Mojokerto.

Pabrik Batik di Desa Gedangan, Sukoharjo. Pabrik Sagu di Babakan Kalang Anyer, Kecamatan Pandeglang, dan yang paling menyedihkan adalah Perusahaan Freeport di Papua, masyarakat Papua hidup susah, sedangkan mereka tidur diatas lautan emas. Sangat memprihatinkan ketika mengetahui moral orang-orang terdidik lebih rendah dari semestinya.

Harusnya batin kita tersentuh, ketika melihat masyarakat berdemo, dengan bermodalkan pengeras suara dan sebatang spidol, lalu mereka curahkan isi hatinya dalam selembar kertas. Berteriak lirih penuh luka ketika teringat anak-anaknya bersekolah dengan diselimuti kabut asap, mandi di sungai yang tercemar, menghirup udara yang entah telah bercampur dengan apa. Mereka tidak tahu, apalah yang mereka punya, selain kasih sayang pada anak-anaknya.

Di samping itu, polisi berjejer mengelilingi mereka, menganggap mereka seperti kambing yang harus digiring, seperti menjaga pemberontak supaya tidak merusak apa-apa, sedangkan mereka tidak punya apa-apa, hanya semangat dan kesedihan yang mereka bawa dari rumah.

Merekalah yang terdidik yang telah merusak dan menghancurkan lingkungan, membunuh ikan-ikan di sungai, membuat udara semakin panas. Sehingga anak-anak tidak lagi bisa bermain dengan riang, memancing ikan di sungai, dan belajar dengan tenang. Tak bisa dibayangkan, hal apalagi yang akan mereka rampas kemudian hari.

Semoga Tuhan mengabulkan jutaan doa yang keluar dari setiap mulut rakyat yang tertindas dan melangit sampai pada Sang Pencipta. Entah dari bagian Indonesia sebelah mana, atau lafalan doa dari agama yang mana. Karena kata orang, kita tinggal di tanah surga.

#LombaEsaiKemanusiaan