Panitia Workshop
5 bulan lalu · 217 view · 3 min baca menit baca · Info 31657_47222.jpg
Foto bersama perangkat Desa Simpang Heran, salah satu wilayah konsesi PT Oki Pulp & Paper | Dok. Qureta

Tanah Kertas di Bumi Sriwijaya

Workshop & Kelas Menulis “Cerita Kertas” kali ini berlokasi di Palembang, Sumatra Selatan. Seperti biasa, hari pertama dimulai dengan kunjungan Quretans ke lokasi di mana benih-benih kertas ditanam, diolah, dan dikembangbiakkan hingga sedemikian rupa.

Lokasi tersebut milik PT Oki Pulp & Paper, salah satu anak perusahaan APP Sinarmas. Tanah kertas ini tepat berdiri sejak tahun 2013 di Bumi Sriwijaya.

Tapi ada satu keunikan dari kunjungan Quretans kali ini. Jika sebelumnya selalu menempuh lokasi dengan jalur darat, maka kunjungan kali ini dengan speedboat. Berkecepatan di atas rata-rata, perjalanan dimulai di sebuah dermaga Jembatan Ampera, menyusuri Sungai Musi sekira 2 jam, dan tiba dengan perasaan yang mungkin sedikit lelah tapi lega.

Di tanah kertas ini, Quretans lebih dulu diberi bekal pengetahuan mengenai PT Oki Pulp & Paper, dari sejarah berdiri hingga produksi dan kontribusinya bagi Indonesia.

“Tak hanya harus bisa menulis (tentang lingkungan), tapi juga mesti tahu bagaimana menjaganya,” papar Zurhadi Aziz, Head of Social & Security APP Sinarmas Sumatra Selatan kepada Quretans dalam sambutannya.

Melalui kegiatan kerja sama Qureta dan APP Sinarmas ini, pihaknya berharap akan lahir partisipasi aktif dari peserta. Dalam arti, kelak mereka mau menularkan ilmu pengetahuan yang sudah diperolehnya ke publik luas.

“Pahami dan menulislah, lalu tularkan ke yang lain.”


Pendiri Qureta, Luthfi Assyaukanie, pun menegaskan hal yang sama. Bahwa media berbasis pengguna ini, dari sejak lahir hingga sekarang, sudah diperuntukkan sebagai platform, tidak hanya bagi penulis-penulis terkenal, tapi juga para pemula, anak-anak muda yang mau berkontribusi di dunia tulis-menulis.

“Tujuan keberadaan kami (Qureta) adalah merawat tradisi literasi di Indonesia. Untuk itu kami adakan pelatihan menulis, melibatkan para penulis kondang untuk melatih calon-calon penulis masa depan.”

Terkait mengapa kertas, Luthfi percaya bahwa makin modern suatu peradaban bangsa, maka pengggunaan kertas akan makin meninggi.

“Untuk sebagai medium menulis mungkin tidak, bahkan ada kecenderungan akan berkurang. Tapi untuk hal-hal lain, misalnya sebagai pengganti kantong plastik, yang penggunaannya hanya akan mencemari lingkungan, peran kertas sangat dibutuhkan.”

Jadi kertas, jelasnya, terkait erat dengan kelangsungan hidup manusia. “Ini terkait kreativitas, juga tentang stabilitas ekonomi suatu bangsa.”

Quretans dan Fire Fighters

Gerakan Sosial

Yang mungkin sering luput dari perhatian kalangan luas ketika bicara soal perusahaan atau industri, apa pun itu, adalah tentang gerakan sosial yang dihadirkannya. Banyak pihak masih memandang sebelah mata keberadaannya, yang hanya dianggap sebagai perusak lingkungan semata.

Padahal, kontribusi sebuah perusahaan atau industri, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah konsesi maupun yang bersifat dampingan, sangat besar. Gerakan sosial dari PT Oki Pulp & Paper misalnya, ditelurkan ke dalam berbagai bentuk program nyata, seperti pembentukan Desa Makmur Peduli Api (DMPA), Fire Management, dan Corporate Social Responsibility (CSR).


Untuk DPMA, program ini merupakan pengembangan mata pencaharian yang berbasis agroforestri (watani). Pertama kali diperkenalkan pada tahun 2015.

Program ini adalah gerakan terpadu untuk memberdayakan masyarakat. Mengajak partisipasi warga desa untuk menjaga hutan tanpa harus merambah dan membakar lahan. Dan hasilnya pun kini mulai terlihat: pendapatan ekonomi masyarakat meningkat, ada rasa tenang karena jaminan ketersediaan sumber pangan bagi seluruh keluarga.

Program DMPA juga merupakan bagian dari Fire Management. Bertujuan mencegah atau mempersempit potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan warga. Ini adalah langkah nyata APP Sinarmas dalam merealisasikan pengelolaan hutan secara berkesinambungan dan bertanggung jawab.

Hingga tahun 2020, DPMA ditargetkan akan merambah 500 desa. Di semuanya akan dibangun sekitar 5.000 kanal blocking atau tata kelola air guna menjaga kelembaban wilayah, terutama di lahan bergambut.

Adapun CSR, pemberdayaan nyata dari perusahaan ini diwujudkan melalui pemberian bantuan kepada warga. Seperti telah terealisasi di Desa Simpang Heran, Air Sugihan, bantuan itu berupa pendirian kanal air bersih (R/O), lembaga-lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), rumah pintar, dan perontok jagung.

“Terutama air bersih, bantuan pendirian kanal R/O ini sangat bermanfaat. Dari sejak tahun 1982, baru di tahun ini warga kami bisa mengonsumsi air bersih secara praktis tanpa harus menunggu datangnya hujan lagi,” jelas perangkat desa setempat.


Artikel Terkait