Pengangguran
3 bulan lalu · 3205 view · 4 menit baca · Filsafat 39276_51026.jpg
RG

Tan dan Rocky Gerung adalah Logika

Logika itu penting sebagai sebuah jembatan untuk menyeberangi berbagai permasalahan pada segala aspek kehidupan. Logika juga penting sebagai kontrol diri terhadap banyaknya kontradiksi yang terjadi dalam bermasyarakat dan bernegara, terutama di Indonesia yang mulai terkikis kerasionalannya.

Pada tahun-tahun politik yang "gawat" seperti ini, tidak pernah sedikitpun kita diberi jeda atas pemberitaan-pemberitaan politik, hoaks-hoaks sampah dan berbagai gimmick dalam masa pemilihan presiden dan wakilnya. Hal ini mengakibatkan banyak orang mulai malas dan menjadi skeptisbahkan cenderung tidak peduli terhadap apa yang mereka terima belakangan ini. 

Terlalu banyak konflik dalam sebuah "proses" terpilihnya seorang presiden Indonesia. Kedua kubu seolah lupa substansi kampanye mereka apa dan terlalu sibuk saling menjatuhkan lawan. Di sinilah peran logika dibutuhkan untuk memilih yang katanya putra-putra terbaik bangsa.

Namun seburuk-buruknya masa pemilu, akan selalu ada sebuah oase di mana terdapat sesuatu untuk kita ambil dan pelajari. Apa itu? Logika. 

Ya, dalam pemilu tahun ini, logika kita dituntut untuk bekerja keras dan mau tak mau harus kita lakukan. Carut-marut kedua kubu, baik petahana maupun oposisi, sama buruknya sama baiknya. Sama-sama senang mengangkat isu yang seharusnya tidak diangkat, sama-sama reaktif bahkan pada hal yang sangat tidak perlu untuk diributkan. 

Kedua kubu tersesat, kedua kubu hilang arah, dan tidak menunjukkan apa visi dan misi mereka. Apakah visi-misi mereka hanya sebatas menang pemilu dan mengalahkan lawan politik? Entahlah.

Dalam keadaan darurat logika seperti ini, muncul seorang juru selamat yang menghadirkan pemikiran-pemikiran "gila" dalam mengkritisi masa politik kali ini. Ya, Rocky Gerung sang juru selamat logika orang-orang yang masih mau memakainya. 

Terlepas dirinya yang selalu memberikan pernyataan pedas untuk pemerintah, terlepas banyak kontroversi yang membuat dirinya dibenci, Rocky Gerung adalah seorang jenius dalam hal berlogika.

Bagaimana bisa seorang yang tidak memiliki ijazah mengajar seseorang untuk gelar doktornya? Bagaimana bisa seorang yang tidak memiliki ijazah bisa mempermalukan banyak politisi yang punya seabreg gelar di belakang namanya? 

Jelas bisa, karana logikanya di atas lawan bicaranya. Bahkan secara pribadi saya melihat sosok Tan Malaka dalam diri Rocky Gerung. Tan, dan juga Rocky, adalah logika. Seorang jenius yang terasing, arogan, namun dibutuhkan bangsa sebesar Indonesia. Mereka berdua bagai cambuk dan kontrol bagi alur politik negara ini.

Beda Tan dan Rocky hanya ada pada sebuah masa. Andai saja Tan bisa hidup kembali, bukan tidak mungkin ia menemukan teman diskusi paling tepat untuk membahas negara ini sampai habis napas mereka. 

Tan merupakan seorang yang menjadikan logika sebagai sebuah jembatan. Ia mengajak masyarakat Indonesia untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya dan sebisa mungkin menghindari prinsip kontradiksi di mana A adalah A dan tidak sama dengan yang bukan A. 

Pemikiran-pemikiran Tan sulit diterima orang-orang yang menutup pikirannya dan tidak mau keluar dari apa yang menjadi sesuatu dalam otaknya. Tan tidak cocok untuk orang-orang yang tidak open minded.

"Kepada mereka yang sudi menerimanya, mereka yang minimum sudah mendapatkan latihan otak, berhati lapang, dan seksama serta akhirnya berkemauan keras untuk memahaminya." Begitulah apa yang Tan "pesankan" kepada pembaca Madilog miliknya.

Begitu pun seorang Rocky Gerung. Tidak akan bisa diterima oleh awam yang tak mau menerima logikanya yang liar dan gila. Apakah banyak orang yang menghujatnya benar-benar paham pada apa yang dimaksudkan Rocky? 

Saya tidak yakin para penghujat paham. Mereka hanya kaget dan terancam oleh pemikiran seliar logika Rocky Gerung yang meskipun tak mutlak, tapi banyak benarnya, dan ternyata apa yang mereka yakini selama ini dibabat habis dalam satu waktu oleh Rocky sehingga terjadi defense di sana dengan bentuk hujatan dan hinaan terhadap Rocky. Tapi Rocky Gerung tak bergeming.

Rocky memang bukan Tan, begitu pula sebaliknya. Namun logika-logika jenius mereka yang kontroversial selalu mengundang decak kagum bagi yang memahaminya. 

Bagaimana bisa Rocky mengeluarkan statement bahwa kitab suci adalah fiksi? Bagi banyak orang yang malas memahami dan bersumbu pendek, ini jelas pemikiran keliru dan salah. Namun bagi orang-orang yang haus ilmu, pernyataan Rocky ada benarnya. 

Kitab suci itu memang fiksional, yaitu mengaktifkan imajinasi kita untuk membayangkan dan menjalankan sesuatu yang tertuang dalam kitab suci. Kita dituntut untuk membayangkan bagaimana keadaan surga dan neraka yang bahkan kita belum pernah ke sana. 

Lalu salahnya di mana? Tidak ada yang salah bila kita memahaminya. Fiksi jelas bersifat baik. Fiktiflah yang bersifat kurang baik. 

Orang-orang yang menghujat pernyataan ini, mereka berada dalam dimensi berpikir fiksi dan fiktif itu sama. Akibatnya, mereka sulit menerima premis tersebut.

Lalu, Rocky juga berujar bahwa ijazah merupakan tanda pernah sekolah, bukan tanda pernah berpikir. Pro-kontra jelas muncul setelahnya. 

Namun coba pahami lagi, bagaimana pernyataan ini banyak benarnya. Kita sekolah hanya mengejar nilai di ijazah, bukan untuk memahami substansi ilmu yang kita pelajari saat itu. Benar atau benar? Meski tak semua orang demikian, namun sangat banyak yang tujuan akhir sekolahnya hanya ijazah, bukan ilmu.

Logika-logika Rocky yang keras, lugas, dan on point, sebenarnya membuat kita sangatlah terbantu untuk menghadapi kehidupan masa kini. Kita tak perlu bertele-tele dalam berpikir, kita menjadi kritis dan bukan hanya sebagai "yes man" dalam berbangsa dan bernegara. 

Bagaimanapun, terlepas dari dia yang seorang pengkritik tajam pemerintahan, Indonesia butuh orang-orang yang kritis dan mengedepankan logika yang tidak asal-asalan seperti Rocky Gerung, juga Tan Malaka. Badai kekalutan bangsa ini terlampau parah. Masyarakat mulai kehilangan arah dan kehilangan akal sehat. 

Karya-karya Tan, dan sosok Rocky Gerung sekarang inilah jembatan untuk meluruskan kembali keadaan logika kita. Berpikir adalah proses sekaligus hasil, So, apa yang kamu takutkan dari sebuah logika?