Ketika melihat dan membaca kata “shitpost”, reaksi cepat nalar kebahasaan kita langsung mengambil alih close compound word (kata majemuk tertutup) ini dengan makna tersederhana dan mudah dimengerti sebagai “komentar bangsat” atau yang lebih sarkas, “komentar jancuki”.

Diksi yang lumayan baru ini cukup telak sebagai antonim “good comment”. Dari kontradisksinya saja sudah dapat dipastikan shitpost berisi kata-kata atau kalimat yang tak berhubungan dengan topik yang disajikan penyedia konten.

Jika dilihat arti dari sumber kelahirannya, shitpos is make a worthless post on a message board, newsgroup, or other online discussion platform. 

Arti tersebut mengalami perluasan makna hingga ke tingkat semua kegiatan yang berhubungan dengan reaksi konten; baik berupa gambar, tulisan, rekaman suara, hingga format video.

Shitpost itu sah-sah saja. Setiap individu berhak berpendapat tanpa tekanan dari penyedia konten atau apa pun yang perlu untuk dikomentari. Namun, yang membedakannya adalah kualitas perlawanannya. Ada shitpost kelas ecek-ecek, ada pula shitpost kelas Sofi Yunani Kuno. 

Tampilan antarmuka shitpost tidak selalu rendah kualitasnya, semisal hanya menampilkan meme sederhana atau seupil kata-kata yang tak bermutu. Namun shitpost bisa merupakan bentuk seni perlawanan tersendiri yang unik terhadap hegemoni sebuah kekuasaan yang susah ditembus oleh perlawanan apa pun. 

Nah, di sinilah shitpost benar-benar memainkan perannya sebagai “postingan yang jancuki” bermutu bagi penguasa yang dungu. 

Manusia sebagai makhluk yang kadang egois dan dibutakan oleh hasrat pleonaktik atau hasrat yang berlebih-lebihan untuk mencari keuntungan diri secara tak terbatas akan selalu menggunakan kekuatan shitpost yang pleonasme banget dengan semboyannya: kita harus dan wajib menang!

Kata-kata “harus” dan “wajib” inilah sumber penggerak utama shitpost dengan segala dialetika dan strateginya.

Diskusi, debat, atau dialektika merupakan ajang untuk mendapatkan kemenangan. Tak jarang ajang tersebut berisikan jiwa-jiwa yang sudah dipengaruhi oleh dialektika eristik.

Dialektika tersebut menggunakan teknik berargumentasi untuk memenangkan pendapat sendiri yang sama sekali tidak peduli dengan kebenaran objektif yang diperdebatkan.

Kadang pula, dialektika eristik yang nampak unggul, secara tak sengaja telah menunjukkan kesesatan nalar penggunanya dalam sebuah shitpost ketika mematahkan argumentasi lawan. Boro-boro terlihat falsafi, eh, malah falasi banget. 

Dialektika eristik sering ditujukan untuk mencari kemenangan argumen secara bombastis, lepas dari soal apakah argumen tersebut benar atau salah. Yang penting: Per fas et nefas (entah kita benar atau salah, dalam keadaan apa pun, kita harus menang).

Dengan kaidah di atas, maka salah satu strategi shitpost adalah menggunakan “argumentum ad rem”, atau berusaha untuk menunjukkan bahwa argumen lawan itu tidak sesuai dengan hal yang diperdebatkan.

Misal, dalam sebuah pembicaraan konten kegiatan pendakian gunung, seorang pelatih fisik sebuah kelompok pencinta alam meminta agar para anggota menjaga stamina dan kesehatan dengan tidak merokok dan mengisap ganja. 

Kemudian seorang anggota mencoba meruntuhkan argumentasi pelatih tersebut dengan mengatakan: dari dulu yang namanya anak gunung, apalagi divisi RC (Rock Climbing), identik dengan hal maskulin; tidak ada pendaki atau pemanjat tebing yang tidak merokok dan mengisap ganja; itu ciri khas kami.

Contoh di atas tampak bahwa isi argumentasi anggota pencinta alam tersebut tidak relevan dengan hal yang dibicarakan pelatih, yakni tentang kesehatan.

Cara kedua, shitpost menggunakan teknik ex concessis atau menunjukkan bahwa argumen lawan tidak cocok dengan kenyataan pernyataan diri pribadinya.

Atau secara sederhana diartikan sebagai penyerangan privasi lawan. Modus ini tidak mempersoalkan kebenaran objektif atau hal yang diperdebatkan, dan cenderung subjektif.

Kemudian, ada pula yang menggunakan teknik nego majorem, nego minorem, yaitu menolak tesis mayornya, maka yang minor juga ikut ditolak.

Dasar argumen diterima, namun konsekuensi darinya tidak bisa diterima. Dengan demikian, argumen diruntuhkan dengan merujuk pada konsekuensi-konsekuensi yang tidak masuk akal.

Yang paling unik, shitpos berjenis apagoge, yaitu tesis diterima, kemudian tesis ini dikombinasikan dengan tesis lain yang umumnya dianggap benar oleh kebanyakan orang; dan hasil kombinasinya akan memunculkan konsekuensi-konsekuensi yang cukup culun dan aneh.

Seperti narasi ini: benar kita semua menjunjung tinggi nilai safety dalam mendaki. Tetapi, mari kita berpikir dengan akal sehat. Kita ketahui bersama bahwa pendaki bebas menentukan pilihan dan corak serta tingkat safety-nya dalam mendaki. 

Terusan narasi: menjangan saja berkoloni untuk menjelajah hutan, mereka berjalan tidak sendirian, alias menggunakan teknik buddy system. Ini menunjukkan bahwa pada kodratnya, manusia adalah makhluk sosial.

Oleh karena itu, jenis pendakian soloist (sendirian) jelas menentang kodrat manusia dan hukum alam. Legalisasi terhadapnya akan meniadakan keselamatan pendaki.

Nah, terlihat sekali bahwa tesis awal sebenarnya salah. Karena bila digabungkan dengan kebenaran umum lainnya, ternyata hasilnya aneh.

Sedang yang paling ekstrem adalah menggunakan shitpost berjenis enstasis, exemplum in contrarium, yaitu penggunan berbagai macam contoh konkret dan partikular untuk membuktikan bahwa tesis dasar lawan sama sekali tidak bisa dipratikkan. Dan karena tidak bisa diterapkan, maka otomatis salah.

Misal, narasi ini: tidak semua pendaki selalu taat dengan prosedur dan manajemen logistik perjalan dan tetek bengek lainnya seperti yang Anda katakan tadi.

Terusan narasi: ada beberapa senior yang sangat minimalis, namun mampu mencapai maksimalis, antara lain Reinhold Messner, Alex honnold, dan lainnya yang mendukung minimalis pada ultralight hiking. Mereka masih kecil jumlahnya, tapi ini hanya soal kontestasi. 

Nah, dengan demikian, runtuhlah generalisasi yang telah disampaikan. Begitulah cara kerja nalar shitpost yang menggunakan enstasis, exemplum in contrarium.

Sedang untuk pemelintiran (spin doctor), mereka sering menggunakan perlawanan yang lebih sederhana, karena pada dasarnya bahan sudah ada, alias tinggal pelintir.

Cara pertama menggunakan gaya metafor yang memojokkan, misalnya penggunaan akronim “sepilis” sebagai kependekan dari “sekularis, pluralis, dan liberalis” untuk memojokkan kelompok lawan.

Shitpost pada dasanrya mengajarkan tentang sebuah relativisme dan cara berargumentasi yang tampaknya masuk akal namun fallacious (keliru).

Manakala tolok ukur menyepakati sesuatu adalah persepsi manusia yang berdasarkan kepentingannya sendiri atau kelompoknya, maka di sinilah daya ledak persuasif shitpost akan menyerang serta menampakkan signifikannya.  

Kata-kata tersebut menghempas menjadi sebuah perlawanan. Retorika shitpost itu kadang sungguh mengagumkan, sekaligus pula mengerikan. Keduanya dapat memunculkan efek relativisme moral. Mereka hanya peduli tentang bagaimana caranya memenangkan sebuah argumen.