Kau sedang membaca buku di seberang sana. Aku di sini, di pojok yang berdekatan dengan sebuah taman dan kolam kecil, sedang membaca buku Setyo Wibowo, Gaya Filsafat Nietzsche. Konsentrasiku terpecah tatkala aku menatapmu, meskipun terhalang oleh seorang teman yang tepat berada di depanmu.

Sesekali, tatapan kita sama. Lalu, untuk menghilangkan rasa malu, aku sekadar bertanya, “kamu sedang membaca buku apa? Sapardi Joko Darmono?” Dengan sedikit bingung, kau berupaya menangkap pertanyaanku. “Bukan. Ini buku Paulo Coelho.” Ternyata aku salah.

Begitu indah kisah itu. Kisah ketika aku dan kamu belum saling kenal. sehingga aku memutuskan untuk menuliskannya. Pikiranku saat itu, jika kisah antara kau dan aku dituliskan, akan menjadi sebuah tulisan yang menarik. Aku bisa menjadi penulis yang terkenal. Tulisanku akan banyak dibaca oleh orang. Karena zaman sekarang, buku yang berisi kisah cinta, selalu laku di pasar. Semua karena kisah kita berdua. Aku dan kamu.

Hari berlalu, aku mengenalmu mulai lebih dalam. Kita sering menanyakan kabar. Saling memberi perhatian. Pernah sekali waktu, ketika engkau sedang gundah di sebuah taman, aku datang membawakanmu bunga. Kau nampak senang tiada tara. Bunga itu terus kau genggam, tak mau kau lepaskan. Tentu, sebagai seorang lelaki yang dekat denganmu, aku merasa senang ketika melihat reaksimu seperti itu.

Terkadang, aku bingung dengan kisah kita. Kita saling memberi, saling perhatian, tetapi tanpa sebuah arah yang jelas. Aku sendiri, belum pernah mengatakan perasaan yang ada pada diriku. Aku hanya berpikir, biarlah seperti ini, asalkan kita sama-sama merasa nyaman. Mungkinkah kamu memikirkan dan merasakan hal yang sama? Entahlah.

Asyik melewati semuanya bersamamu, ternyata mengabaikan banyak hal dalam hidupku. Termasuk menyediakan waktu menulis kisah kita. Tetapi, aku tak mau peduli, yang penting aku bahagia. Bukankah semua orang ingin bahagia? Kelak, aku akan menyelesaikan tulisanku. Aku perlu pengalaman dan menghabiskan waktu yang banyak denganmu, agar banyak hal yang dapat aku tulis.

Tetapi, sejauh ini, setidaknya aku telah berpikir mengenai judul tulisanku. Akan lebih menarik, jika diberi judul: Taman. Sesingkat itu, tetapi menyiratkan makna yang mendalam, karena dari tamanlah aku menatapmu. Taman penuh dengan bunga, yang menyiratkan keindahan. Sama seperti kisah kita! Indah.

********

Hari ini, adalah hari ulang tahunmu. Aku sudah tidak sabar menunggunya. Semua hal telah kupersiapkan, agar di hari yang istimewa buatmu, aku bisa menambahkan keistimewaan tersebut. Salah satu hal yang paling aku suka darimu, kamu tidak suka boneka. Kau lebih memilih menyukai buku ketimbang boneka.

Akhirnya, aku memilih untuk membelikanmu buku Paulo Coleho. Penulis favoritmu. Di hari yang sama, aku juga telah menyiapkan sebuah lagu yang akan kunyanyikan untukmu: James Blunt You’re Beautiful.

Tetapi, ternyata, hari ini adalah hari yang sial bagiku. Seorang lelaki yang selama ini kau sembunyikan dariku, tiba-tiba muncul. Ia datang dengan kehangatan. Orang yang dekat denganmu, sepertinya orang tuamu telah mengenalnya juga. Ibumu memperlakukannya sama seperti seorang raja.

Aku terpukul. Ingin rasanya aku berlari keluar dari tempat ini, dan berteriak sepuasnya. Kejadian hari itu, membuat aku tersadar bahwa ruang sepi dalam hatimu telah dipegang oleh seseorang kuncinya. Bukan aku. Dia!

Akhirnya, sesuai waktu yang telah direncanakan, kalian menikah. Aku tak sempat hadir, karena sedang menempuh studi theology di Boston College. Di foto yang kau tampilkan di instagram, aku tahu bahwa kalian menikah di Bali. Kau tampak bahagia. Semuanya berlangsung dengan sangat mewah. Sebulan kemudian, kau muncul lagi di instagram, kali ini rupanya kalian sedang berbulan madu di Raja Ampat.

Karena kesibukan yang setiap hari diperhadapkan dengan hidupku, aku hampir-hampir telah melupakanmu. Aku terhanyut dan terlena membaca dan menulis disertasiku, yang saat itu mengharuskanku harus membaca buku yang ditulis oleh Foucault, Sartre dan Paul Tillich.

Sepertinya, kertas adalah kekasih yang setia, yang sama sekali tak pernah mengecewakanku. Boston College juga tak kalah indah, sehingga aku sering terpukau dengan keindahan yang ditawarkan kampus ini. Bunga, pohon, salju yang ada di kampus ini, membuatku terkagum-kagum akan kebesaran Tuhan. Lagi-lagi, hal tersebut membuatku mudah melupakanmu.

*****

Sesuai dengan waktu yang aku targetkan, akhirnya aku bisa mendapatkan gelar PhD di Boston College. Saat itu, aku juga telah mempublikasikan tiga jurnal terindeks scopus. Ibuku adalah orang yang sangat senang dengan pencapaianku ini. Atas restu dan doanya, aku akhirnya kembali ke tanah air mengajar di salah satu Universitas di kota Manado.

Di Manado, penelusuranku terhadap karya sastra dunia, sepertinya terus meningkat. Sepulang mengajar, aku selalu menghabiskan waktuku untuk membaca karya sastra yang ditulis oleh Leo Tolstoy, Charles Dickens, Umberto Eco, Gabriel Marques, Tolkien dan C.S Lewis.

Tak lupa, beberapa buku karya penulis Indonesia juga kusempatkan untuk membaca. Tak jarang beberapa buku yang terbaca, saya sempatkan untuk menulis resensinya, dan dikirimkan di surat kabar.

Salah satu mimpi yang ingin aku wujudkan sejak kecil, adalah membangun ruang belajar dan perpustakaan untuk anak-anak di Papua dan Poso. Mimpi itu akhirnya terwujud, setelah tabunganku akhirnya cukup untuk mewujudkan mimpi itu. 

Beberapa teman di kelompok yang kami namakan Petualang Literasi juga banyak membantu dalam mewujudkan mimpiku tersebut. Setahun sekali, aku meluangkan waktu untuk mengunjungi perpustakaan tersebut.

Akhirnya, kau kini datang lagi. Kau mengirim pesan singkat menanyakan kabarku. Sebagai seorang yang menghargai semua manusia, aku membalasnya, dan menanyakan bagaimana kabarmu. Aku sempat kaget dengan kejujuranmu, ketika kau mengatakan sedang kesulitan keuangan.

Darimu aku tahu bahwa suamimu kehilangan pekerjaan, dan kau ingin berpisah darinya. Aku menasihatimu supaya tetap bertahan dan berjuang kembali bersamanya, tetapi sama sekali tak hiraukan. Aku akhirnya berpikir, ternyata motivasimu menikah salah. Kau bukan mencintai lelaki yang jadi suamimu, tetapi mencintai yang ada di luar dirinya.

Tetapi, pada akhirnya aku tidak tega mendengar kisahmu. Saat itu, hal yang bisa aku lakukan adalah memberikan sedikit pertolongan untukmu. Dengan ikhlas, akhirnya aku menjual buku Charles Dickens, Oliver Twist kepada seorang kolektor. Uang hasil penjualan buku tersebut, itulah yang kuberikan kepadamu.

Dua bulan setelah peristiwa itu, aku menerima kabar bahwa suamimu harus dipenjara karena sebuah kasus. Lelaki yang telah menjadi pendamping hidupmu tersebut, berulang kali muncul di hampir semua pemberitaan di TV. Korupsi dana pendidikan yang telah menjerumuskannya.

Tak kuketahui bagaimana kabarmu. Peristiwa tersebut, sepertinya telah membuatmu malu dan terpukul. Kau menghilang. Tak ada kabar. Tetapi, dari beberapa teman dekatmu, aku mendengar kabar bahwa kau tetap setia mendampingi suamimu.

Baca Juga: Cinta yang Luka

********

Pagi itu, aku hendak melanjutkan tulisan mengenai kisah kita. Sebagai penulis, tentu aku senang bila suamimu dipenjara. Lalu, aku akan menggambarkanmu sebagai seorang wanita yang menyesal karena telah memilih dia sebagai suamimu. Tokoh aku, yang adalah diriku sendiri, akan banyak dipuja-puja oleh orang: seorang pencinta sejati!

Tetapi, baru beberapa baris kata yang aku tuliskan, sebuah pesan masuk. Namamu terpampang jelas di gawaiku. “Aku baik-baik saja. Terima kasih, suamiku dinyatakan tidak bersalah. Kami berdua kini menetap di Ambon, suamiku memutuskan untuk berkebun kopi.”

Sial! Mimpiku gagal total. Taman, yang menjadi judul kisah kita, tak pernah selesai kutulis.