Belum kiranya reda kekalutan hati seorang Susilo Bambang Yudhoyono ditinggal istri tercinta, Prabowo Subianto kemudian datang dan malah memperparah duka yang ada. Itu melalui ungkapannya yang—menurut SBY sendiri—tidak pantas, tidak elok untuk disampaikan ke publik, terlebih di depan keluarga mendiang.

“Saya diberitahu bahwa Ibu Ani mendukung saya, (di pemilu) 2014 dan 2019 memilih saya…,” kata Prabowo.

Di balik sanjungan manis Prabowo atas almarhumah Ani Yudhoyono, seorang istri yang dinilainya sangat mendukung suami, cerdas, dan loyal, selipan kata-kata itu memang menyayat hati. Tentu saja tidak hanya bagi SBY sebagai sang suami, melainkan pula bagi keluarga, sanak saudara, serta orang-orang yang turut dan masih dalam kondisi berbelasungkawa.

Simak saja gestur dan ucapan SBY setelah Prabowo berbicara di awak media seperti itu. Jelas sekali bagaimana raut wajahnya tampak kesal dan sangat menyayangkan pernyataan Prabowo yang demikian. Apalagi dilontarkan lantang di tengah kecamuk kesedihan SBY sekeluarga yang belum reda.

“Saya mohon, statement Pak Prabowo yang Bu Ani milih apa-milih apa itu tidak tepat, tidak elok untuk disampaikan. Mohon itu saja. Tolong mengerti perasaan kami yang berduka,” ucap SBY.

Dalam hal ini, Prabowo memang sembrono. Dan dalam hal-hal lain juga sebenarnya sering sembrono. Kerap gegabahlah dalam bertindak. Jiwa kenegarawannya masih patut dipertanyakan.

Di tengah krisis SBY sekeluarga, alih-alih meredakan atau menghibur, ia justru memperparah kondisi. Padahal niatnya adalah untuk bertakziah. Sehingga kehadiran Prabowo untuk bertakziah tidak hanya bisa dianggap gagal, tapi juga sudah melenceng jauh dari esensi takziah.

Kita tahu semua, takziah itu perkara menghibur hati yang tengah diselimuti kekalutan. Takziah adalah semacam upaya penghiburan, pelipur lara untuk orang yang sedang dilanda musibah. Jadi bukan yang lain-lain, apalagi berselip agenda politik, soal pilpres, soal kekuasaan, dan macam-macamnya.

Ketika ada petakziah yang tidak menyenangkan hati, tidak menghibur, malah menambal luka dengan luka dalam bentuknya yang berbeda, maka yang bersangkutan bukanlah petakziah sejati, tapi… (silakan sebutkan sendiri; yang pasti, tidak elok sebagaimana kata SBY.)

Saya bisa memaklumi kenapa Prabowo merasa harus berucap seperti itu. Dengan mengatakan bahwa mendiang Ani Yudhoyono memilih dirinya di Pilpres 2014 dan 2019, ada kesan Prabowo mau unjuk gigi. 

Mungkin Prabowo sadar bahwa dukungan Cikeas untuknya sudah lenyap. Mungkin pula didorong oleh perasaan telah dikhianati kawan seperjuangan. Jadi pernyataannya tentang mendiang Ani Yudhoyono adalah semacam upaya perlawanan, jika bukan bentuk kemarahan.

Sama sekali saya tidak melihatnya sebagai usaha Prabowo mencari muka atau dukungan. Untuk apa lagi? Pilpres toh sudah usai. Pemenangnya sudah jelas. Mengharap simpati publik bukan masanya lagi.

Sayangnya, itu Prabowo tampilkan di waktu yang tidak tepat, di tengah orang yang lagi berbelasungkawa. Jadinya ya masyallah.

Benar kata orang-orang. Sebelum Prabowo datang, suasana belakangan ini, terutama di media sosial, terasa sudah cukup terkendali. Isi lini masa kita, sedikit demi sedikit, mulai adem ayem. Segala percekcokan lantaran beda pilihan politik nyaris sirna seketika.

Setidaknya kubu oposisi dari basis Partai Demokrat sudah mau saling rangkul kembali dengan kelompok petahana. Terlepas motifnya yang lain-lain, wafatnya mantan Ibu Negara kita—meski dengan terpaksa harus saya katakan—membawa berkah tersendiri berupa perdamaian.

Tapi kini, kehadiran Prabowo malah terkesan mengembalikan kesemrawutan itu. Apa yang disampaikannya di depan awak media benar-benar merobek luka lama. Dan luka itu kembali mengaga, dibiarkannya menjadi luka baru. Dan ini, sekali lagi, adalah bentuk perlawanan jika bukan kemarahan Prabowo!

Penampilan Kaesang Pangarep yang ala kadarnya saat turut melayat untuk mendoakan mendiang Ani Yudhoyono mungkin masih bisa orang maklumi. Tapi terhadap takziah Prabowo, terutama warganet, berkata lain. #ShameOnYouPrabowo, serunya beramai-ramai.