Berpagi-pagi di Indonesia telah banyak pemuka agama yang menyuarakan ayat dengan terjemahannya yang memakai bahasa dan mengatakan: maksud dari ayat ini adalah ini! makna ayat ini adalah ini, seakan makna itulah yang benar, dan seterusnya. sungguh terlalu muda jika ia dikatakan seorang mufasir.

Maka tidaklah heran ketika saya menonton seorang youtuber menanyakan di mana Allah kepada seorang pemuda  lalu ia menjawab "di atas Arsy". 

Lalu apakah cukup dengan kita membaca terjemahan kemenag serta berdakwah sana-sini tanpa adanya pengetahuan lebih lanjut juga tanpa membuka buku tafsir terlebih dahulu? kiranya tidak.

Jika ia mengatakan: ayat ini bermakna bahwa "Lalu Allah ber-Istiwa (bersemayam) diatas arsy (al-a'raf: 54), maka saya katakan: makna itu bukanlah yang dimaksud.

Lalu apa yang dimaksud dengan bersemayam?

bersemayam dalam kamus besar bahasa Indonesia bermakna duduk dan berkediaman. lalu apakah Allah tuhan yang maha besar ini duduk di Arsy? Arsy adalah ciptaan Allah, ketika Ia duduk di atasnya maka sebuah niscaya akan melazimkan sesuatu yang ditempatinya lebih besar. lalu siapa sebenarnya yang maha besar? Arsy atau Allah? sebuah kemustahilan yang nyata. juga pekerjaan yang dikerjakan oleh Allah tidak ada hubungannya dengan kemustahilan.

saya berikan analogi yang masuk akal. ketika manusia duduk di atas kursi maka kursi itu haruslah lebih besar daripada manusia tersebut. kalau ia lebih kecil maka terdapat beberapa kemungkinan: pertama, kursi tersebut tidak akan bisa menampung manusia tadi. kedua, ia akan terjatuh. ketiga, kursi itu yang akan rusak. 

itu kemustahilah pertama, kemustahilah kedua segala sesuatu yang bertempat ia tidak terlepas dari arah juga tidak terlepas dari zaman. sesuatu yang bertempat, berarah dan berzaman akan punah dan tiada, karena itu semua adalah sifat makhluk sedangkan Allah adalah khalik. Maha suci Allah dari segala sifat itu.

kita bayangkan dengan segala sesuatu yang ada didunia ini, semua ini tidak ada yang tidak terlepas oleh zaman dan ruang. sekarang, lihatlah handphone yang Anda pegang. Ia mempunyai ruang dan zaman. tunggulah tiga puluh tahun kedepan apa yang akan terjadi padanya? pasti ia akan rusak, hancur, ataupun hilang. Lalu apakah Tuhan seperti itu? Sungguh tidak dan sekali lagi tidak.

Kemustahilan yang ketiga, jika ayat itu dimaknai secara zahirnya saja lalu mencukupkannya, maka ia akan bertabrakan dengan ayat yang mengatakan "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan dia (al-Syura: 11)". Allah itu berbeda dengan makhluknya. tidak ada keserupaan dan yang menyerupai keserupaan itu, maka Allah tidak ada yang menyerupainya.

Lalu apa yang dimaksud dengan Allah ber-istiwa diatas Arsy? maka terdapat hal yang terpenting untuk memakai makna yang pas dengan menggunakan "takwil".

Apa itu takwil? takwil secara bahasa artinya pulang/kembali, seakan sang pentakwil memulangkan atau mengembalikan makna dari makna yang pertama ke makna yang kedua. atau artinya siasat, seakan penakwil menyiasati makna yang kedua kepada yang dimaksud.

Lalu takwil secara istilah banyak menuai perbedaan dengan tafsir di kalangan para ulama. saya akan cukupkan dengan definisi takwil yang diungkapkan dari kalangan fuqoha dan ushuliyun yaitu memalingkan suatu lafaz kepada makna yang pertama kepada makna yang kedua yang dapat menampungnya (makna pertama) dengan  menyertakan dalil.

wajibnya untuk memalingkan suatu makna kepada makna yang lain yaitu ketika terdapat pencegah dan syarat, terdapat tiga pencegah, diantaranya: 1. ketika ia bertentangan dengan akal sehat 2. ketika ia bertentangan dengan nas al-Quran 3. terdapat qarinah (petunjuk) yang mencegah suatu lafaz dimaknai secara zahirnya. Adapun syarat yang harus ada ketika suatu ayat tidak dapat digabungkan dengan ayat yang lain ketika terdapat pertentangan, apabila dapat digabung walau dengan beberapa sisi saja, maka wajib untuk digabung.

lalu takwil bukanlah hasil dari akal secara murni, ia adalah suatu cara/manhaj yang dipakai dari metode linguistik yang melihat suatu lafaz dengan pandangan yang luas dan menetapkan suatu makna yang memungkinkan menampung makna yang lain juga menetapkannya sebagai makna yang dimaksud. cara ini yang biasanya dinamakan majaz yang mana sang pengguna haruslah menerangkan dalil beserta qarinah (petunjuk) yang mencegah dari memaknai suatu lafaz secara maknanya yang asli atau secara pemakaian menurut kebiasaan.

Berangkat dari sana maka takwilan yang dikatakan Imam Ibn Hajar dalam kitab al-fath dan Imam al-Baghawi dari Ibn Abbas dan banyak dari kalangan mufasir dalam ayat "Allah ber-istiwa di atas arsy" dimaknai sebagai "irtafa'a" atau tinggi derajatnya, tinggi kedudukannya.

seperti misalnya kita katakan "Nabil duduk di atas kursi paling tinggi di pemerintahan" lalu apakah kita memaknai kursi paling tinggi ini secara hakikat? yang di mana kita ketahui bahwa ternyata si andi badannya pendek. tentu saja tidak. kata Di pemerintahan di sini menjadi petunjuk yang mencegah agar pemaknaan "duduk di atas kursi yang tinggi" menjadi yang sebenarnya, melainkan masuk kepada makna kedua yaitu Andi berkuasa di pemerintahan atau mempunyai kedudukan yang tinggi.

Maka dengan cara ini lah kita dapat mengetahui makna yang dimaksud dan melepaskan diri dari kesalahan-kesalahan dalam memahami teks al-Quran. Lalu apakah semua ayat al-Quran harus ditakwil dan apakah batasan dari takwil tersebut? Insya Allah saya tulis yang akan datang.