Takut tambah dewasa

Takut aku kecewa

Takut tak seindah yang kukira

Kalian pasti pernah mendengarkan lagu tersebut kan? Atau bahkan mendalami liriknya sampai merasa bahwa itu pernah atau sedang dialami? Penggalan lirik tersebut merupakan penggalan dari lagu berjudul “Takut” yang ditulis dan dinyanyikan oleh penyanyi pendatang baru, Idgitaf.

Lagu tersebut bercerita mengenai kebingungan, kegelisahan, dan ketakutan akan masa depan yang dialami oleh remaja dalam fase sedang beranjak dewasa yang ternyata sangat melelahkan dan menguras energi. 

Beginilah kondisi kita sebagai remaja usia 18-25 tahun yang rasanya semakin takut untuk beranjak dewasa. Masa-masa di mana banyak konflik dan masalah. Fase di mana kita harus selalu siap untuk memikul tanggung jawab yang lebih berat dari sebelumnya.

Pada fase ini, kita sering menjumpai berbagai hal yang rasanya membuat hari-hari kita terasa berat. Banyak tantangan yang datang, ekspektasi besar dari lingkungan sekitar, yang terkadang membuat kita juga bertanya pada diri sendiri, sebenarnya mau kita apa sih?

Perasaan takut yang berlebihan akan masa depan, tidak percaya diri akan apa yang akan dihadapi selanjutnya, dan mungkin bingung akan tujuan yang akan kita capai, bisa jadi kita sedang mengalami Quarter Life Crisis.

Lalu, apa itu Quarter Life Crisis

Quarter Life Crisis dapat diartikan sebagai suatu refleks terhadap ketidakseimbangan emosi yang memuncak, perasaan khawatir berlebihan, dan tidak berdaya (sense of helplessness) yang umumnya muncul pada seseorang dengan rentang usia 18 hingga 25 tahun.

Quarter Life Crisis terjadi akibat dari ketidaksiapan diri pada proses transisi dari masa remaja ke masa dewasa. Pada fase ini, tidak sedikit dari mereka yang merasa bingung bahkan sampai depresi harus menghadapi situasi ini dengan cara apa. 

Quarter Life Crisis sendiri memiliki tujuh aspek yang dapat kita kenali ketika seseorang mengalaminya, yaitu adanya kebingungan dalam membuat keputusan, mengalami perasaan putus asa, mempunyai penilaian yang buruk atas diri sendiri, merasa terperangkap dalam situasi yang berat, perasaan cemas atau was-was, tertekan, dan mempunyai kegelisahan terhadap relasi interpersonal.

Ada dua kategori ketika seseorang mengalami Quarter Life Crisis. Kategori pertama yaitu fase the locked out form, yaitu kondisi ketika seseorang tidak mampu untuk memiliki peran sebagai orang dewasa. Kategori kedua yaitu fase the locked in form, yaitu kondisi ketika seseorang terjebak pada perannya sebagai orang dewasa.


Selain itu, seseorang yang sedang mengalami Quarter Life Crisis juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu faktor internal dan eksternal.

Faktor internal pertama adalah faktor identity exploration. Pada faktor identity exploration, remaja akan terus berupaya mencari identitas dirinya sendiri, mengeksplorasi, dan fokus mempersiapkan dirinya dengan kehidupan yang akan datang.

Faktor internal kedua adalah instability, perubahan yang terjadi pada remaja ini dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup yang dituntut oleh lingkungan sekitar. Pada fase ini mereka akan terus menerus mengalami perubahan.

Faktor internal ketiga adalah being self focus. Pada faktor ini, walaupun seorang remaja masih dibantu oleh orang lain, namun semua keputusan ada pada mereka sendiri.

Faktor internal keempat yaitu feeling in beetween, merupakan suatu kondisi di mana seorang remaja merasa bahwa ia tidak ingin lagi dianggap remaja, namun belum siap menjadi dewasa. Sedangkan di sisi lain, remaja harus memenuhi beberapa kriteria untuk menjadi dewasa padahal sesungguhnya mereka belum menjadi dewasa sepenuhnya.

Faktor internal kelima adalah the age of possibillities, pada fase ini mereka akan mulai banyak mempertanyakan harapan dan mimpi mereka akan berhasil atau tidak yang berdampak pada kekhawatiran yang berlebih dan kesenjangan pada impian mereka.

Lalu, faktor eksternal yang dapat mempengaruhi seseorang mengalami Quarter Life Crisis yakni teman, percintaan, relasi dengan keluarga, kehidupan pekerjaan dan karier, serta tantangan akademik.

Ketika kita sedang merasa dalam fase Quarter Life Crisis, tentunya kita tidak ingin terjebak lama-lama di situasi ini. Sebab jika sudah terjebak, perasaan negatif berlebihan akan  muncul dan akan berdampak buruk pada aktivitas lain.

Lantas, bagaimana cara mengatasi Quarter Life Crisis agar kita tidak terjebak lama-lama dalam situasi tersebut?

Pertama, mengenali diri sendiri. Kita harus tahu apa saja kelemahan, kelebihan, apa yang kita suka dan tidak suka, ataupun batasan-batasan lainnya. Ketika kita sudah tahu dan kenal dengan diri kita, kita akan lebih siap jika nantinya mengalami Quarter Life Crisis dan tahu apa yang harus dilakukan.

Kedua, berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Tak jarang banyak sekali postingan-postingan di sosial media yang membuat kita minder. Alangkah baiknya jika kita melihat diri sendiri, sebenarnya banyak hal-hal luar biasa yang ada dalam diri kita tanpa kita sadari.

Ketiga, jangan mengurung diri. Banyak hal-hal di luar sana yang dapat kita jelajahi. Mengunjungi tempat-tempat menarik yang ada di sekitar misalnya. Jangan sampai kita hanya berdiam di rumah dan mengurung diri, karena hal tersebut yang justru akan memicu Quarter Life Crisis semakin parah. 

Keempat, cerita dengan orang terdekat. Memang baik memikirkan masalah kita sendiri, namun tidak ada salahnya untuk berbagi dengan orang-orang terdekat yang kita sayang dan percayai. Tidak perlu semua kita ceritakan, yang penting ceritakan saja apa yang membuatmu merasa lebih lega dan nyaman nantinya. 

Terakhir, percaya pada kemampuan diri sendiri. Percayalah pada kemampuan diri sendiri bahwa kamu bisa dan percaya bahwa apa yang kamu lakukan sekarang akan menentukan masa depan. Meyakini bahwa usahamu saat ini pasti akan membuahkan hasil yang maksimal di masa yang akan datang.

Quarter Life Crisis adalah fase hidup yang normal. Quarter Life Crisis merupakan sebuah fase dalam hidup kita yang setiap orang akan mengalaminya dan itu merupakan hal yang normal. Jika kita sudah kenal siapa diri kita, kita juga akan tahu apa yang kita mau.