Akhir-akhir ini pasti sering mendengar lagu yang dibawakan oleh Idgitaf, seorang penyanyi dari Indonesia. Rasanya lagu tersebut terdengar di segala penjuru. Kamar, dapur, tempat perbelanjaan, restoran, kendaraan umum, bahkan di jalanan. 

Entah memang semua orang sedang gencar memutar lagu tersebut atau memang lagu tersebut terngiang-ngiang terus di kepala. Tak sedikit pula orang-orang yang mengakui tentang kualitas yang elok dari lagu ini. Terutama liriknya yang seakan-akan dapat dirasakan oleh semua remaja yang akan beranjak dewasa.    

“Takut tambah dewasa, takut aku kecewa”. Ya, salah satu lirik dari lagu berjudul “Takut” yang paling sering terputar di kepala. Lantas mengapa banyak orang yang takut akan bertambah dewasa? 

Sejatinya menurut kebanyakan orang, masa yang paling menyenangkan adalah masa kanak-kanak. Ketika masih dalam masa kanak-kanak tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain bermain, makan, tidur, belajar, dan lain sebagainya.

Pada masa itu juga adalah masa dimana kita belajar mengenal lingkungan sekitar, tanpa tahu kekejaman yang ada di dalamnya. Hati dan pikiran yang masih putih bersih juga polos yang mungkin selalu merasa bahwa semua orang itu baik dan semua bisa dijadikan teman. Masa-masa yang dirindukan banyak orang ketika mulai beranjak dewasa.

Kemudian semakin lama hidup menjelajah dunia, semakin mengerti kekejaman yang ada di dalamnya. Semakin mengerti tidak semua orang itu baik. Semakin mengerti tidak ada yang dapat menolong selain diri sendiri dan Tuhan. 

Rasanya ingin terus menjadi anak-anak tanpa beranjak dewasa. Ketika beranjak dewasa, seperti banyak hal yang harus diperjuangkan. 

Padahal ketika berada pada masa anak-anak dulu, kita selalu mengeluh ingin segera beranjak dewasa. Kita ingin segera bebas menjelajah dunia tanpa bantuan orang tua, kita ingin dapat segera memiliki penghasilan sendiri agar dapat membeli segala yang kita inginkan. Hal tersebut juga seakan dinarasikan dalam lirik lagu tersebut. 

“Takut tak seindah yang kukira”. Memang beranjak dewasa tidak seindah yang kita bayangkan sewaktu kecil. Semakin dewasa, semakin bertambah umur rasanya semakin banyak beban yang harus kita pikul. 

Semakin banyak harapan yang sekiranya harus kita wujudkan. Semakin banyak kenyataan yang seakan tidak kita harapkan. Semakin mengerti akan kejamnya kehidupan.

Ketika kecil mungkin merasa semua orang bisa dijadikan teman. Namun, ketika beranjak dewasa seakan sadar. Tidak semua orang itu baik. Yang tampak baik belum tentu baik. Begitu pula yang tampak buruk. 

Terkadang banyak menjumpai orang yang berteman karena ada alasan khusus, apapun itu. Ketika Ia sudah mendapat apa yang diinginkan, kita ditinggalkan. Bahkan, terkadang hanya memiliki satu “teman” pun dirasa sudah harus bersyukur. 

Ada pula teman yang mungkin menikam dari belakang. Musuh dalam selimut. Luarnya saja tampak mendukung dan membantu kita. Namun, ketika di belakang? Siapa yang tahu? Bisa saja orang terdekat kita adalah orang yang paling gencar menjelekkan kita di muka orang lain. 

Pertemanan saja bisa menikam, apalagi yang bisa diharapkan dari percintaan. Mungkin ada diantara kita yang menyukai seseorang berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun lamanya. Bagaimana sekarang? ada kemajuan? atau malah ditinggalkan? tak terbalaskan?

Bersyukur dan ikut senang apabila kisah cintamu berjalan mulus seindah kisah di drama korea. Namun, apabila kisah cintamu masih terpendam belum ada keberanian untuk menyatakan. Atau malah sudah menyatakan tetapi ternyata hanya bertepuk sebelah tangan. Tenang, kamu tidak sendiri. Ingat, setidaknya dunia masih bisa berjalan walau tanpa keberadaannya. 

Belum lagi dihadapkan dengan segala pekerjaan yang menumpuk, entah tugas sekolah atau pekerjaan lain yang harus dihadapi. Datang satu per satu berujung bertumpukan satu sama lain. Tugas satu belum selesai, muncul lagi tugas baru. Klise. Siklus yang sama setiap saat. 

Rasanya butuh tempat bersandar. Tapi siapa yang dapat diharapkan? Pertemanan hampa, percintaan tiada rasa. 

Belum lagi harus memenuhi ekspektasi keluarga. Anak sulung, kuatkan langkah untuk tetap mewujudkan harapan yang tak terhitung. Anak tengah, tetap perluas kesabaran dan terus mengalah. Anak bungsu, tersenyumlah setidaknya bisa terlihat bahagia walau palsu.

 Terkadang, di saat kita merasa sudah mengerahkan segala kekuatan, ketika merasa sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, dengan mudahnya orang lain berkata “baru sampai di situ perjuanganmu?”. 

Menutup telinga mungkin sudah menjadi kegiatan sehari-hari. Bukan tidak mau menerima kritik, hanya ingin memikirkan kesehatan mental saja. 

Ketika pertemanan gagal, percintaan hancur, pekerjaan datang silih berganti, dan dihadapkan pada ekspektasi serta harapan yang minta untuk diwujudkan. Rasanya ingin menyerah. 

Merasa hilang arah. Tidak ingin menjadi diri yang seperti ini. Tetapi bingung ingin menjadi yang seperti apa.

Melihat kesuksesan dan keberhasilan orang lain. Bukannya menjadi pacuan motivasi untuk maju. Namun, malah menjadi sesuatu yang mendorong diri untuk berpikir bahwa kita bukan apa-apa. Menurunkan kepercayaan diri. 

Bukan hanya takut kecewa. Beranjak dewasa juga membuat kita takut mengecewakan orang lain. Bukan hanya pasal diri sendiri.

“Aku tetap bernafas. Meski aku tak merasa bebas.” Pada akhirnya ketika sudah pasrah, berusaha membangkitkan diri kembali. Dengan satu kalimat berusaha membuat semua terasa “tidak apa-apa”. Dunia akan terus berjalan walau kamu gagal.

Beranjak dewasa mungkin menakutkan. Takut bertemu hal-hal yang tidak sesuai ekspektasi. Takut mimpi yang sudah dibangun dengan segala asa usaha gagal. Takut akan segala kemungkinan yang terjadi. 

Tapi percaya satu hal. Semua proses yang membuatmu dewasa tidak akan terulang kembali. Nikmati fasenya. Ikuti alurnya. Kamu sudah melakukan yang terbaik. Terima kasih sudah berjuang sampai sekarang.