Sejak 30 September 1965, bangsa kita dilanda sebuah ketakutan. Sebuah ketakutan yang tidak sirna sampai saat ini. Ia hanya terkubur ketika situasi politik kebangsaan kita sedang bergembira. Namun, ketakutan itu muncul kembali ketika situasi politik kita memungkinkan.

Termasuk sekarang ini. Ketakutan ini muncul dalam bentuk pembubaran acara syukuran HUT ke 23 Partai Rakyat Demokratik (PRD) oleh ormas-ormas tertentu (Iswinarno, 2019). Pembubaran ini dilakukan karena partai ini dianggap “Neo-PKI”. Padahal, partai ini adalah salah satu pelopor gerakan Reformasi di Indonesia.

Dulunya, partai ini memiliki haluan Sosial Demokrasi Kerakyatan (Sosdemkra). Populist social democracy, which is not communism. Mirip seperti Workers’ Party di Brazil. Tetapi, pada tahun 2010, haluan ini diganti menjadi Pancasila. Penggantian ini menunjukkan masuknya PRD ke dalam politik mainstream di Indonesia.

Tetapi, ketika para warganet melihat kibaran bendera partai ini, stigma lama muncul kembali. Wah, ada bendera partai berlambang bintang dan gerigi! Warnanya merah-emas lagi! Wah, komunis! Padahal, lambang demikian adalah simbolisme gerakan kiri yang lebih moderat. Bukan lambang komunisme.

Ketakutan ini belum berhenti. Ia berlanjut ke dalam bentuk razia buku. Kemarin di Probolinggo, dua pegiat literasi ditangkap. Penangkapan itu dilakukan karena mereka menyediakan buku D.N. Aidit di lapak baca gratis.

Padahal, sweeping buku sudah dilarang oleh Mahkamah Konstitusi (Prabowo, 2019). Ini sama saja dengan pelanggaran hukum yang dilakukan penegak hukum. Sebuah pelanggaran yang dilakukan karena paranoia semata. Paranoia yang tidak ada dasarnya sama sekali.

Mengamati kedua peristiwa di atas, semestinya kita malu. Malu karena kita masih takut terhadap bayang-bayang ilusi sejarah. Takut kepada komunisme yang sudah menjadi abu pasca Perang Dingin usai. Padahal, kita adalah bangsa yang besar dan kuat. Masa takut sama komunis yang sudah hancur lebur sejak 1991?

Sudah bukan waktunya lagi kita takut dengan komunisme. Mestinya, kita jauh lebih takut terhadap tiga masalah utama yang mencengkram bangsa kita. Pertama, masalah kurangnya literasi. Kedua, masalah hoaks di media sosial. Ketiga, masalah ekstremisme agama.

Mari kita kuliti masalah-masalah ini. Dimulai dari masalah kurangnya literasi.

Kurangnya literasi adalah alasan utama mengapa paranoia komunis masih eksis. Masalah ini membuat banyak rakyat Indonesia tidak mampu memisahkan PKI, komunisme, dan gerakan kiri secara umum. Padahal, ketiganya adalah entitas yang sama sekali berbeda. 

Peristiwa G30S/PKI terjadi karena kepentingan jahat PKI sebagai partai politik. Bukan karena komunisme per se.

Kurangnya literasi adalah penyebab mengapa tokoh Mandra di Si Doel Anak Sekolahan berkesimpulan ada masa penjajahan Siti Nurbaya. Ini juga yang menyebabkan banyak warganet mengecap PRD sebagai PKI Baru. Keduanya adalah hubungan yang tidak ada relevansi sama sekali.

Masalah ini menghambat kemajuan bangsa kita. Bagaimana mungkin Indonesia bisa maju kalau penduduknya masih kurang literasi? Masih kurang membaca dan kurang menulis? Inilah pangkal masalah yang harus kita takuti. Literasi harus menjadi ujung tombak untuk membabat “setan-setan” yang menakuti negeri kita.

Selain itu, kurangnya literasi membuat anggota masyarakat mudah termakan hoaks. Ketika melihat sebuah berita di Facebook, Twitter, atau group WA, kita tidak mengecek kebenarannya terlebih dahulu. Kita enggan mengecek sampai ke sumber yang paling akurat. Asal menghebohkan, main forward dan share saja ke sana-sini.

Tindakan inilah yang membuat hoaks menyebar di masyarakat. Bagai api yang merembet di semak-semak. Rembetan inilah yang membuat berbagai bentuk irasionalitas dapat tumbuh di masyarakat. Termasuk ekstremisme agama yang kita lihat akhir-akhir ini.

Ekstremisme agama di Indonesia merebak karena fenomena Ulama/Ustaz dadakan. Biasanya, Ulama/Ustaz dadakan dicirikan oleh kecenderungannya untuk menebar kebencian. Selain itu, mereka juga suka mengafirkan penganut agama lain, bahkan saudara seagama yang berbeda pendapat (Hidayat, 2019).

“Hanya pendapat saya yang benar. Pendapat pihak lain itu haram,” begitulah mentalitas mereka. Mentalitas ini dibawa ke dalam kegiatan kajian agama/dakwah yang mereka bawakan. Dampaknya, muncul suatu pemahaman yang sempit tentang agama Islam. Padahal, Islam sejatinya mengandung nilai-nilai universal yang mengayomi seluruh umat manusia.

Akhirnya, pemahaman yang sempit menciptakan ekstremisme di antara para pengikut Islam. Inilah yang memungkinkan peristiwa Pemboman Surabaya 2018 terjadi. 

Bayangkan saja, satu keluarga (ayah, ibu, dan anak) melakukan bom bunuh diri untuk “berjihad”. Jelas, konsepsi yang salah tentang jihad ini muncul dari ekstremisme agama yang tertanam di keluarga tersebut. Menakutkan, bukan?

Jadi, takut kok sama komunis? Itu sama saja dengan gajah ketakutan melihat bangkai tikus. Silly and embarrassing

Seharusnya, bergidiklah melihat kurangnya literasi masyarakat kita. Waspadalah terhadap hoaks di media sosial. Takutilah ekstremisme yang tumbuh di masyarakat kita.

Ketiga ketakutan ini akan memperkuat kekompakan kita sebagai bangsa. Kompak untuk memajukan Indonesia sebagai Bumi Pancasila yang inklusif dan toleran.