Hari natal segera tiba. Seperti hari besar keagamaan lain, Indonesia mulai menyiapkan diri. Satu rak penuh dagangan asesoris natal, berbagai ragam bentuk dan bahan pohon cemara, serta lagu-lagu di pengeras suara mulai melantun di pusat-pusat perbelanjaan. Jadinya, hawa gembira tak hanya dirasakan oleh mereka yang merayakan natal, tetapi juga seluruh umat manusia. Sejauh mata memandang, yang disaksikan adalah warna hijau, merah, putih. Sinterklas lagi, sinterklas lagi.

Beberapa stasiun televisi tiap tahun menyiarkan film khas natal. Misalnya Home Alone atau Sister Act. Sampai pemeran utama film Home Alone dewasa dan potongan rambutnya tak belah dua lagi, film itu masih saja favorit untuk ditayangkan ulang. Sudah biasa pula, stasiun televisi juga menyiarkan konser spesial natal yang pengisi acaranya merupakan artis-artis papan atas Indonesia. Mereka menyanyikan lagu-lagu dengan syair spiritual, atau biasa kita kenal dengan musik religius.

Orang-orang yang tidak turut merayakan natal—kalau mengaku masyarakat kota dengan gaya hidup modern—seharusnya sudah tidak asing dan tak perlu marah-marah dengan hawa sakral yang disebarluaskan itu. Tak perlu takut untuk jadi kafir kalau tiba-tiba dengar lagu Jingle Bells atau Holy Night di mall. Masyarakat modern, atau masyarakat fungsionil menurut C. A. van Peursen, sudah terbebas dari substansialisme yang mengurung masyarakat mitis dan ontologis. Semakin tercipta jarak yang lebar antara manusia, dan agama, atau hal-hal berbau mistis.

Musik religius memang musiman. Ia diperdengarkan di mana-mana dan dijadikan semacam simbol euforia hari raya keagamaan. Namun, sepertinya terlalu naif kalau kita hanya menganggapnya sebatas hiasan untuk dansa-dansi atau permenungan sesaat. Harusnya, segala sesuatu yang behubungan dengan agama, punya efek secara batiniah.

Agama, menurut Bronislaw Malinowski, secara esensial memiliki peran katarsis. Agama merupakan jalan pelepasan dari tekanan batin dan ketegangan. Melalui agama, manusia diberikan optimisme dalam hidup. Dengan adanya musik religius, kita harusnya bersyukur karena syiar agama bisa dinikmati dengan santai dan tidak terasa berat.

Sayangnya, musik religius di era ini sering diletakkan sama dengan musik jenis lainnya yang berfungsi sebagai penghibur lara semata. Kelihatan dari kemunculannya yang musiman, musik religius cenderung tumbuh hanya untuk memenuhi permintaan pasar. Masyarakat perkotaan yang sibuk membutuhkan Tuhan yang hadir dalam media baru.

Tuhan diharapkan bisa diingat sambil berdendang di manapun—dari kamar pribadi hingga ketika berdesakan di kereta komuter. Musik pun memenuhi kebutuhan itu. Di era ini, ketika musik cenderung sudah dikapitalisasi, kebutuhan akan religiusitas dengan mudah dapat dipenuhi. Sederhananya, mengingat Tuhan kini hanya tinggal membeli lagu, baik melalui kaset, compact disc, maupun daring.

Seperti van Peursen, Malinowksi pun sepakat bahwa di masyarakat modern, agama menghilang dengan proses yang penuh dengan bahaya dan tragedi. Kita juga sepertinya kudu sepakat. Bahaya itu adalah ketidakstabilan sosial. Tragedi itu adalah hilangnya nilai-nilai moral. Segala sesuatu yang berhubungan dengan agama harusnya mengakar menuju solusi dari kebutuhan hidup manusia.

Kita tegang tiap hari karena persaingan kampus atau kantor, juga urusan percintaan. Ada pula tekanan deadline, rintangan keuangan menjelang akhir bulan, belum lagi debat kusir di dunia maya yang mulai seing merambah ke hal-hal serius dan makan hati. Duh!

Dalam terang modernitas, kita mengenali diri sebagai sosok yang tidak berdaya. Hidup manusia ini adalah lautan lepas. Di lautan lepas, nelayan berkawan dengan guncangan ombak, penuh greget. Nelayan kesulitan mengendalikan kapal. Mereka penuh harap ingin pulang. Nelayan—sebagai simbol manusia—mengalami krisis dalam hidup, kekosongan, cinta yang tak membahagiakan, dan kebencian. Nelayan rindu ketenangan.

Masyarakat perkotaan kekinian adalah nelayan. Meskipun sains sudah sangat berkembang, ia tunduk pada alam yang tak terkendali. Di hadapan alam, pengetahuan seperti tak memberi apa-apa. Hidup penuh risiko, bahaya, dan kecelakaan tak dapat dikalkulasi; tidak dapat dieliminasi dengan teknologi semodern apapun. Harapan-harapan manusia yang tak terpenuhi menjelma mitos-mitos penuh keajaiban. Tepat di situlah letak pemisahan antara yang suci dan yang profan.

Manusia harus menemukan kegiatan sederhana, yang melibatkan paling tidak sedikit risiko. Di situ syiar agama niscaya dirindukan. Dengan agama, manusia bisa melampaui ukuran normal kekuatannya. Suatu waktu, di tengah hidup yang sulit, kita toh masih saja haus syiar tentang yang transendensi.

Melalui musik religius—ngepop maupun liturgis—syiar bisa lebih sampai di hati dengan akrab. Manusia pada mulanya adalah harapan. Kita mesti bersyukur ada banyak agama dan kepercayaan yang diakui di Indonesia. Terdapat pula kebebasan untuk merayakannya. Jadi, bisa sering-seringlah kita mendengar musik religius di pusat perbelanjaan. Sesungguhnya keagungan dalam bermusik melampaui sekat-sekat institusional.

Selama musik religius yang berdendang mengingatkan kita akan segala yang sakral; yang menenangkan; yang memberi harapan, tak usahlah khawatir. Kita, manusia fana, banyak tertekan sehingga butuh obat. Syiar agama bisa jadi sebuah jalan pelepasan yang meredakannya. Cuma lewat musik kita bisa mendengarnya sambil berdansa.