Atalanta dalam beberapa musim terakhir menjadi salah satu klub yang disorot oleh penggemar sepak bola, terutama fans Serie A. Prestasinya dalam tiga musim ke belakang yang selalu berhasil finish di empat besar klasemen Serie A menarik untuk diikuti, terlebih lagi pencapaiannya di Liga Champion yang tergolong sensasional. 

Pada musim Serie A 2019/2020, Atalanta sukses finish di posisi tiga di bawah Inter Milan dan Juventus. Tidak tanggung-tanggung, mereka mencatatkan hasil yang ciamik pula setelah melakoni 17 pertandingan tanpa kekalahan hingga akhir musim sebelum dikalahkan oleh Inter Milan. 

Selain itu, lolosnya Atalanta ke perempat final Liga Champion juga menjadi salah satu pencapaian yang luar biasa sebagai tim underdog. Sayangnya, langkah Atalanta harus terhenti secara dramatis di babak perempat final setelah kalah dari Paris Saint-Germain (PSG) dengan skor 2-1 untuk kemenangan PSG.

Kekalahan tersebut cukup menyakitkan bagi Atalanta. Pasalnya, mereka berhasil memimpin kedudukan 1-0 hingga waktu normal 90 menit, tetapi PSG berhasil membalikkan keadaan menjadi 2-1 di masa additional time. 

Kekalahan tersebut bukan hanya menyakitkan bagi Atalanta, melainkan juga bagi penggemar Serie A. Pasalnya, lolosnya tim berjuluk La Dea ke perempat final menjadi harapan satu-satunya sepak bola Italia setelah semua wakilnya telah gugur di babak-babak sebelumnya.

Namun, di balik penampilan sensasional Atalanta tersebut, terdapat pesan bahwa Atalanta merupakan tim pendatang baru yang patut diperhitungkan di kompetisi nomor satu benua Eropa, yakni Liga Champion.

Semua pencapaian tersebut tak lepas dari campur tangan Allenatore (pelatih dalam bahasa Italia) yang berperan penting dalam menukangi Atalanta hingga pada titik ini, yakni Gian Piero Gasperini. Gaya permainan yang diusung olehnya pantas diacungi jempol karena dapat membawa pencapaian yang luar biasa pada klubnya.

Secara filosofi pertandingan, Atalanta berbeda dengan klub Serie A lainnya yang kebanyakan memperagakan permainan konservatif seimbang maupun bertahan. Atalanta lebih cenderung memperagakan permainan menyerang dengan umpan-umpan pendek. 

Sistem tersebut terbukti cukup berhasil membawa Atalanta finish di papan atas klasemen Serie A. Keberhasilan sistem ini juga dapat dibuktikan dengan jumlah gol mereka dalam satu musim yang terhitung banyak. 

Bahkan dalam beberapa pertandingan, Atalanta juga mencatatkan selisih skor yang fantastis dengan lawannya. 

Dalam satu musim terakhir, terdapat tiga laga yang jumlah golnya mencapai tujuh, yaitu pada pertandingan melawan Lecce yang berakhir dengan skor 7-2 untuk Atalanta, melawan Torino yang berakhir 7-0, dan melawan Udinese dengan akhiran skor 7-1. 

Oleh karena itu, jumlah gol satu musim Atalanta mengungguli semua kompetitor mereka di Serie A. Tercatat Atalanta telah melesatkan sebanyak 98 gol, lebih banyak dari pemegang scudetto musim ini yakni Juventus yang telah menorehkan 76 gol hingga akhir musim Serie A 2019/2020. 

Torehan gol tersebut juga menempatkan Atalanta sebagai klub nomor 3 yang memiliki jumlah gol terbanyak di liga teratas Eropa di bawah Manchester City dan Real Madrid.

Salah satu taktik yang menjadi andalan Atalanta selama beberapa musim adalah sistem “Wide Overload”. Taktik tersebut diimpelementasikan dengan menumpuk pemain di sisi arah bola dimainkan. 

Sistem “Wide Overload” dimaksudkan untuk memperbanyak jumlah pemain di dekat bola sehingga opsi umpan-umpan pendek pun juga bertambah. Atalanta secara taktis menggunakan formasi 3-4-3 dengan variasi 3-4-2-1 ataupun 3-4-1-3. Formasi ini bersifat fleksibel dan mengalir (fluid) sehingga sewaktu-waktu dapat berubah. 

Formasi yang fleksibel tersebut bisa dirasakan ketika fase menyerang maupun bertahan. Ketika fase permainan menyerang, tak jarang penyerang Atalanta yakni Ilicic dan Zapata bergerak ke sisi samping lapangan. 

Pos yang ditinggalkan oleh penyerang bisa saja diisi oleh gelandang yang overlap. Perubahan posisi tersebut terkadang menyebabkan pertahanan musuh mengalami disorganisasi. Tak jarang pula, pada fase menyerang tampak formasi 3-2-5 diterapkan oleh Atalanta.

Mengenai pertahanan, sistem bertahan Atalanta mengandalkan pressing yang tinggi terhadap pemain lawan. Oleh karena itu, kemampuan man-to-man menjadi penting dalam mengimplementasikan sistem ini. 

Selain itu, Atalanta sering mengandalkan kekuatan satu sisi untuk menyerang dan satu sisi bertahan dalam menyiasati keroposnya pertahanan. Misalnya, ketika penyerangan dilakukan melalui sisi kiri dan berbuntut pada overlaping-nya pemain di sisi kiri, pemain di sisi kanan akan mundur dan mengisi kekosongan dengan melakukan pergeseran di dinding pertahanan.

Taktik tersebut tentunya menuntut pemahaman yang tinggi oleh pemain supaya dapat berjalan dengan maksimal. Sisi menariknya, meskipun squad Atalanta tidak diisi dengan pesepakbola yang ternama, tetapi squad Atalanta memiliki pemain-pemain yang adaptif terhadap sistem permainan yang diusung oleh Gasperini. 

Nama Duvan Zapata, Papu Gomez dan Ilicic tampak tentunya masih asing di telinga kita. Meskipun begitu, kemampuan adaptif pemain-pemain tersebut menjadi kekuatan Atalanta sehingga mereka bisa bercokol di papan atas klasemen Serie A dalam beberapa musim terakhir.