Mahasiswa
1 minggu lalu · 492 view · 5 min baca · Budaya 77083_96854.jpg
Pixabay

Taksonomi Setan

Saya tak mau kalah dengan Benjamin Samuel Bloom. Bapak tua itu telah berhasil menciptakan teori tujuan pendidikan yang tak asing lagi, Taksonomi Bloom. 

Sistem klasifikasi ini berhasil diajukan pada tahun 1956. Taksonomi Bloom membagi tujuan pendidikan ke dalam tiga domain: kognitif, afektif, dan psikomotor.

Pengertian taksonomi ini luas. Dalam artian, semua kegiatan klasifikasi berhierarki yang dapat dilakukan terhadap semua yang bergerak, benda diam, tempat, kejadian, bahkan sampai kemampuan berpikir yang sifatnya abstrak. Dengan begitu, maka saya pun berhak dan bebas membuat sebuah taksonomi setan yang sampai hari ini belum dibuat.

Penulisan artikel ini tentunya bertujuan untuk mendapatkan ide, gagasan, ataupun rintisan di dalam taksonomi setan. Saya sadar, untuk mendapatkan taksonomi setan yang sempurna, tentunya memerlukan ruang penulisan, diskusi, penelitian yang sangat luas dan panjang. 

Sangatlah penting untuk menganalisis dan menyusun taksonomi setan sebagai makhluk yang mengiringi sejarah dan peradaban manusia. Baik setan yang bebas sebagai individu merdeka ataupun setan yang sudah melakukan tindak kreasi, semisal sebagai individu yang berpartner dalam sebuah mutualisme dengan makhluk hidup lainnya.

Perkembangan ontologi setan sangatlah pesat, namun dari sisi taksonomi sangatlah miskin. Hal ini terjadi karena epistemologi setan adalah sesuatu yang sukar dapat dipahami oleh akal pikiran manusia. 


Dengan mengenal setan yang lebih baik dan mendalam, diharapkan manusia mampu mempertahankan kedudukannya sebagai Homo sapiens.

Berpikir mengenai eksistensi setan adalah sebuah ontologi yang sah-sah saja. Berpikir mengenai bagaimana habitat setan juga merupakan epistemologi yang positif. Dan juga   berpikir untuk apa kepahaman sebuah taksonomi setan juga pasti disetujui oleh aksiologi.

Taksonomi setan erat kaitannya dengan setanisme. Dengan setanisme, taksonomi akan mampu menelusuri hereditas setan yang sedari dulu sudah dijadikan objek penyembahan, lambang kejahatan, pemimpin, dan pembimbing.

Salah satu indikator peran setan dalam kebudayaan manusia adalah lahirkan kaum setanis. Mereka kaum setanis adalah para pengikut setan dan melakukan kegiatan mutualisme seperti penyembahan, pemberian korban, kerja sama bilateral, hingga berperang. 

Mereka kaum setanis akan terus ada di setiap tahap sejarah dan peradaban. Mulai dari Mesir kuno hingga Yunani kuno. Kemudian berkembang dari abad pertengahan hingga hari ini. Rata-rata mereka adalah para tukang sihir dan orang-orang yang menolak tindak represif dan "peliyanan" yang telah dilakukan oleh oknum beragama.

Setanisme diatur dan dikendalikan kedaulatannya dalam perkumpulan-perkumpulan yang tersebar di seluruh dunia. Perkumpulan massal yang terdiri dari orang-orang yang mencari keyakinan, kebenaran, ketenteraman, kebebasan hingga untuk keperluan mencari Tuhan dan agama baru. 

Selain setanisme, pendukung bangunan taksonomi setan lainnya adalah demonologi. Ilmu ini dikhususkan untuk mempelajari tentang setan dan segala yang terkait olehnya. 

Dalam agama-agama tertentu, demonologi dikaji secara mendalam untuk mencari pengetahuan tentang siapa setan, lalu apa pekerjaannya, apa hubungannya dengan orang beriman, dan sebagainya. Tak dapat dimungkiri juga bahwa demonologi memengaruhi perkembangan sastra yang berunsur distopia apokaliptik.

Namun, usaha mereka dalam pengembangan demonologi masih tetap saja tak mampu menghasilkan atau menyusun taksonomi setan dalam bentuk korpus yang paling sederhana sekalipun. Sungguh tragis.  

Ontologi setan secara umum merupakan objek atau entitas abstrak dan suprarasional, seperti halnya entitas Tuhan, malaikat, surga, dan neraka. Pengetahuan ini kadang memiliki bukti nyata. Tapi, di sisi lain, sulit untuk dibuktikan secara nyata eksistensinya.

Baca Juga: Merayu Setan

Berdasarkan ontologi di atas, penulisan artikel ini tentunya bersifat deskriptif saja. Artinya, cenderung untuk menganalisis data secara induktif yang sifatnya sangat subjektif sekali. 

Pendukung bangunan taksonomi setan ini juga dipengaruhi oleh penggunaan metode distribusional (distributional method) dan metode padan (identity method) untuk sekadar menganalisis data yang tersedia secara sederhana.

Sebagai pembanding, taksonomi menurut KBBI adalah penyusunan bersistem dalam kelompok atau golongan menurut kaidah atau standar yang ditetapkan. Secara harfiah, klasifikasi adalah pembagian sesuatu menurut kelas-kelas. Sedang menurut sains, klasifikasi adalah proses pengelompokan benda berdasarkan ciri-ciri persamaan dan perbedaan.

Artikel ini juga menunjuk pada model klasifikasi ilmiah yang menganut mazhab para pakar biologi yang mengelompokkan dan mengategorikan spesies dari organisme. Di samping itu, saya juga mengekor pada gaya klasifikasi ilmiah yang mengacu pada sistem Carolus Linnaeus dalam mengelompokkan spesies menurut kesamaan sifat fisik yang dimiliki. 

Sistem klasifikasi Carolus Linaeus sangat filogenik sekali. Artinya, sistem pengelompokannya berdasarkan jauh-dekatnya hubungan kekerabatan antarmakhluk hidup. Organisme yang memiliki hubungan lebih dekat akan memiliki kesamaan ciri yang dominan daripada perbedaannya. 

Adapun urutan klasifikasi setan akan saya batasi dengan taksonomi: Kingdom (Kerajaan), Phylum (Filum), Class (Kelas), Ordo (Bangsa), Familia (Suku), Genus (Marga), dan Spesies (Jenis).

Jika epistemologi modern didasarkan pada kekuatan akal (rasional) dan empiris, maka dalam taksonomi setan ini tentunya akan banyak bersumber dari referensi kitab suci dan sumber-sumber lainnya yang mendukung. 

Cara pengelompokannya, yakni dengan mengamati kisah-kisah, pemberitaan, peristiwa yang berhubungan dengan morfologi, anatomi, fisiologi, dan perilakunya. Misalnya, monyet itu lebih dekat kekerabatannya dengan gorila daripada manusia.

Informasi dari kitab suci dan korpus-korpus keagamaan akan membimbing, mengarahkan, mengontrol, dan memberikan inspirasi terhadap epistemologi, ontologi, dan aksiologi setan untuk bersama-sama menuju pada sebuah simpulan taksonomi.

Kita mulai saja, walaupun setan unsurnya adalah berbahan api yang menyala-nyala, setan mempunyai karakteristik biotik yang sama dengan organisme kingdom animalia.


Kingdom animalia biasa disebut sebagai entitas yang bersifat eukariotik (organisme dengan sel kompleks) yang multiseluler atau heterotrof. Berbeda dengan tumbuhan, setan tidak memiliki klorofil sehingga tidak dapat melakukan fotosintesis untuk membuat makanannya sendiri. 

Oleh karena itu, setan harus mencari makanannya sendiri untuk mendapatkan energi yang kemudian makanan tersebut dicerna di dalam tubuhnya. Menurut beberapa literatur keagamaan semisal hadis, setan ikut makan bersama manusia ketika tidak dibacakan nama Tuhan.

Tulang, kotoran kering juga merupakan kudapan setan yang melimpah di dunia. Adanya kematian, korban perang, bencana alam, penyakit pandemik merupakan ladang dan stok makanan setan yang besar.

Ciri lain setan sebagai kingdom animalia adalah tubuhnya mempunyai sistem pergerakan, entah itu berjenis otot dan rangka versi lainnya. Setan juga bersel saraf, artinya mampu untuk merespons setiap rangsang doa, ayat ataupun benda-benda yang dianggap mempunyai kekuatan spiritual. 

Yang pasti, setan itu bisa bergerak. Pergerakannya, seperti terbang, berjalan, merambat, melata, lari, serta mampu merangsang respons. Terbiritnya setan saat dibacakan azan adalah salah satu ciri pergerakan kingdom animalia.  

Reproduksi setan atau regenerasinya bisa bersifat aseksual dan seksual. Banyak ditemukan pada korpus-korpus keagamaan tentang cara reproduksi setan yang salah satunya adalah bisa menggabungkan diri saat terjadi coitus manusia biasa yang lupa baca dosa (seksual).

Sedang yang aseksual adalah kelahiran setan per satu ekor per kelahiran bayi manusia. Dalam literatur Islam disebut dengan setan Qarin (pendamping). Dari sini, kemungkinan besar untuk berjenis-jenis atau bersuku-suku adalah hal yang tak mustahil. Sesuai dengan inangnya (manusia) yang bersuku-suku pula. 

Jadi, untuk sementara, taksonomi setan sampai pada pembagian kingdom. Setan masuk kingdom animalia (binatang) dan bukan kingdom plantae (tumbuhan) dengan memperhatikan sebaran kemiripan dengan menggunakan metode padan (identity method). 

Perincian taksonomi lainnya yang tersisa (6 klasifikasi) akan saya sampaikan lain waktu agar terasa meresap dan sistematik. Keenam klasifikasi yang tersisa tentunya memerlukan penjelasan yang lumayan panjang.

Artikel Terkait