3 tahun lalu · 515 view · 3 min baca · Ekonomi demonstration_in_jakarta_to_protest_online_based_transportation_3.jpg
Demonstrasi Pengemudi Taksi di Jakarta [Foto: wikimedia.org]

Taksi Online dan Buruknya Transportasi Publik

Hari senin lalu (28/3/16), saya naik taksi Blue Bird Group Surabaya dari kampus B Unair Dharmawangsa Dalam. Buka pintu taksi, melihat argo menunjukan angka 7000. Duduk lalu saya sapa sopir taksi dengan hangat. Sopir pun menyapa dengan hangat dan bertanya tujuan saya ke mana? Langsung saya jawab Plaza Marina, Surabaya.

Sopir asal Madura logat Jakarta yang hangat dan komunikatif membuat saya tak ragu membuka komunikasi lebih jauh. Pertanyaan saya awali dengan, "kemarin Blue Bird Jakarta kasih layanan gratis sehari ya, untuk penumpang? Mau dong, taksi Surabaya demo lalu diberi layanan gratis sehari." Dengan logat Jakarta, sopir tersebut langsung bersemangat menjelaskan seputar permasalahan demo sopir taksi Blue Bird Jakarta.

Sopir tersebut mulai menjelaskan, "Ga enak, Mas ikut demo. Sudah belain perusahaan mati-matian, eh para awak taksi yang ikut demo dianggap kriminal, malah disuruh ganti rugi kerusakan taksi. Akibatnya para sopir, terutama di Pool Keramat Jati, banyak yang memilih mengundurkan diri."

Namun demikian, dia membenarkan aksi yang dilakukan sopir yang dimobilisasi pihak Blue Bird berdemo menentang taksi online grab dan uber taksi.

“Ga fair memang, Mas. Jika pemerintah membiarkan taksi online beroperasi, kasihan taksi biasa, bakal gulung tikar, kalah bersaing harga. Masak barang sama dan layanan sama namun harga taksi online lebih murah segalanya,” ungkap sopir yang masih berusia di bawah 30 tahun itu.

"Lho, kok bisa ga fair?" tukas saya untuk mendalami konflik antara taksi konvensional dan taksi online.

Dia memberi alasan lebih jauh, "Taksi online kan tidak membayar pajak dan retribusi, tidak KIR, tidak punya kantor, dan tidak banyak karyawan. Sedangkan taksi online hanya bermodal sewa jasa aplikasi kepada sopir yang menyediakan  kendaraan apa saja di atas tahun 2010. Praktis taksi online berbisnis jasa aplikasi canggih dari Jerman (kata sopir) dan kendaraan serta sopir disediakan masyarakat yang memiliki mobil dengan tahun 2010 (umur mobil tak boleh lebih dari 5 tahun)."

"Lho, apa Blue Bird Group tidak bisa membuat inovasi seperti itu?" tanya saya lagi.

Dia pun melanjutkan, "Bukan tak bisa buat sih, bahkan jauh sebelum adanya aplikasi taksi online, Blue Bird pernah merintis aplikasi semacam itu, namun bila aplikasi tersebut digunakan bagaimana dengan nasib karyawan Blue Bird?"

Di satu sisi sopir tersebut mengakui inovasi kreatif dari taksi online bisa membuat transportasi publik menjadi layak, nyaman dan murah. Tapi di sisi lain, taksi online bisa mengancam nafkahnya atau karyawan Blue Bird beserta segenap krunya. Dilematis memang, fenomena taksi online versus taksi konvensional.

Perubahan sosial  memang selalu diawali dengan konflik. Konflik itu biasa dan wajar. Yang tak wajar adalah kelompok yang menunggani konflik sehingga membuat rusuh dan berbagai kekerasan terjadi seperti pada demo taksi konvensional lalu.

Fenomena taksi online telah membuka kesadaran publik bahwa ada alternatif menciptakan transportasi lebih murah dan lebih nyaman. Alternatifnya adalah memotong jalur distribusi, memotong biaya pajak dan retribusi yang membebani operasional angkutan umum. Adanya kewajiban KIR, cek kendaraan kesehatan angkutan umum berkala, toh tidak membuat transportasi publik konvensional lebih nyaman, bukan?

Di era persaingan bebas, alternatif pencarian tranportasi publik yang murah dan nyaman terhambat oleh jejaring kebijakan, terhambat jaringan kuat pemilik modal transportasi yang telah mengakar. Seolah kebijakan-kebijakan pemerintah tidak mempunyai tempat bagi inovasi-inovasi industri kreatif, seperti fenomena taksi online.

Dialog antara sopir taksi Blue Bird Group dan saya mengerucutkan pikiran saya antara industri padat karya dan industri kreatif. Klaim industri padat karya dari sopir taksi, nyatanya juga tak berdampak pada kesejahteraan karyawan Blue Bird. Sedangkan taksi online merupakan industri kreatif yang dapat melibatkan siapa saja yang memiliki jiwa wirausaha untuk bergabung.

Tepat memang bila dari berita yang pernah saya dengar di televisi, taksi online sedang merintis proses untuk berada di bawah payung hukum koperasi. Sebuah ide yang tepat untuk menghidupkan kembali dunia koperasi produksi yang mati suri dengan koperasi industri kreatif seperti taksi online.

Mengenai fenomena taksi online ini, saya berharap  pemerintah membuka mata dan hati untuk membenahi buruknya kebijakan transportasi publik yang saya rasakan saat ini.

Konflik yang terjadi seputar kemunculan transportasi online tak lepas dari keinginan masyarakat untuk mendapatkan tranportasi yang murah dan nyaman. Di sisi lain, masyarakat juga tidak mau bila kreativitasnya mencari nafkah dihambat oleh kebijakan yang ada. Bukankah tujuan kebijakan adalah untuk mencapai kesejahteraan masyarakat?

Artikel Terkait