“Ma, ma, coba lihat sebelah kanan. Luar biasa!,” suami saya berkata sambil kembali mengalihkan pandangan ke depan karena sedang berkendara. Saya pun menoleh. 

Di sepanjang ruas jalan yang sedang kami lewati ternyata sedang dipadati kawula muda yang berkerumun ria, menyantap hidangan bersama-sama. Pandemi seolah tidak pernah ada.

Relaksasi, begitu istilah yang dibuat para petinggi dengan alasan melindungi ekonomi agar tidak mati.

“Relaksasi opo rileksekali iki jenenge?” saya bergumam.

Yo bener ekonomi harus terus berputar, tapi ingat nyawa tidak bisa diputar,” lanjut suami saya. Kami pun terdiam sesaat lalu lanjut berbincang, mengganti topik pembicaraan.

***

Hari masih pagi ketika saya mengantre dengan enggan di sebuah kedai kopi. Jujur, kalau saja bukan karena bapak yang kepengen sekali makan roti bakar legendaris di kedai ini, mungkin saya lebih memilih menyelesaikan setumpuk pekerjaan rumah yang bagai never ending story.

Tak lama berselang, segerombol pria dewasa datang dengan tampilan rapi layaknya orang yang sudah mandi pagi, turun dari mobil sambil tertawa-tawa tanpa renyah dan tanpa masker. Ish, sebel

Alih-alih masker, yang dipakai justru kacamata hitam—mungkin berharap dapat sedikit membantu naiknya level kegantengan—dan sayangnya usaha itu sia-sia. 

Saya sudah menyiapkan delikan sengit sebagai sanksi sosial sekaligus peringatan “Awas, jaga jarak!” Eh tapi, belum sempat niat berbumbu emosi itu terlaksana, seorang juru parkir dengan sopan menghampiri dan menyampaikan sesuatu kepada mereka. Beberapa kata tertangkap oleh telinga saya “…tidak ada kursi.”

Seketika tawa para pria itu berubah menjadi senyum kecut bak jeruk purut. Belum bisa menerima, beberapa berusaha mendongak-dongakkan kepala memastikan fakta. Kecewa. Niat menyeruput kopi sambil rumpi-rumpi pun sirna.

Benar saja, saya pun baru ngeh, ternyata di sekitar tempat saya mengantre memang tidak ada kursi meskipun barang sebiji. Tidak tersedia sarana dan prasarana untuk acara nongki edisi pandemi di sini. “Yes!” saya bersorak tanpa suara. Gembira! Ternyata ada loh warung kopi yang berani mengambil sikap berbeda.

Sejauh yang saya amati, restoran, kafe, warung makan—apa pun yang sejenisnya—menjadi tempat yang tetap ramai dikunjungi meskipun dalam situasi pandemi. Memang aktivitas makan di luar rumah (bukan di halaman lho ya) sering kali bertujuan tidak hanya sekadar mengisi perut semata.

Makan di luar lebih kepada mencari suasana, gaya hidup, melepas penat, menghilangkan rasa bosan atau mempererat hubungan keluarga. Bisa dimengerti mengapa banyak orang lebih memilih makan di tempat daripada membeli untuk dibungkus atau pun delivery. Cuma masalahnya sekarang satu, kita sedang diserang virus yang tak kasat mata layaknya hantu.

Dine-in atau makan di tempat semestinya harus disadari sebagai aktivitas yang dihindari saat ini. Bagaimana tidak? Akan sangat sulit menjaga jarak saat dine-in. Pernahkah kita melihat sekelompok orang yang datang untuk sebuah aktivitas makan bersama di sebuah restoran lalu duduk berpencar saat mereka tiba?

Selanjutnya, saat dine-in semua orang otomatis akan melepaskan masker masing-masing lalu mereka akan mulai makan—tentunya sambil berbicara—menyemburkan droplet ke sekitarnya. Ga mungkin kan makan bareng trus diem-dieman, tenggelam dalam hidangan bak lamunan. Dan di sinilah kluster baru berpeluang dimunculkan tanpa diketahui siapa pelakunya.

Langkah kedai kopi dengan tidak menyediakan kursi tentu sangat saya apresiasi. Bayangkan, dengan meniadakan dine-in dan take away only alias hanya melayani bungkus saja di saat ini orang lagi rindu-rindunya pengen nongki-nongki otomatis akan menurunkan omsetSungguh sebuah kontribusi yang memerlukan kesadaran dan kebesaran hati.

Kedai ini sudah terkenal bahkan sejak saya belum berwujud bayi. Ramai pembeli. Secara hitung-hitungan tentu sayang sekali, apa tidak rugi membiarkan calon pembeli pergi? Ya, adakalanya hidup itu tidak melulu harus memprioritaskan masalah ekonomi. Kita bisa survive selama pandemi saja sudah menjadi hal yang patut disyukuri.

Saya sepakat bahwa kegiatan ekonomi tidak perlu berhenti. Kita tetap perlu mencari sesuap nasi di tengah pandemi ini. Hampir semua kegiatan ekonomi sudah berjalan kembali sejak digaungkannya new abnormal ups.. new normal (atau back to normal?). Sayangnya, kenormalan baru belum sepenuhnya dipahami dan disadari.

Seandainya semua para penggerak roda ekonomi mau dan mampu bersikap seperti si pemilik kedai kopi—menggerakkan roda ekonomi tanpa mengorbankan kesehatan populasi—mungkin saja gelombang pertama pandemi bisa segera kita lewati.  Bukankah menjaga kesehatan justru bernilai ekonomi tinggi?

Take away only harusnya jadi solusi. Ah, saya cuma sedang berspekulasi. Saya (berusaha) yakin semua hanya perlu waktu untuk menyadari. Eh, tapi jangan terlalu lama, keburu banyak yang mati nanti. Kuwi jenenge keri. Lamunan saya sesaat buyar, roti pesanan saya ternyata sudah jadi.