Kalian mungkin pernah mendengar atau membaca sebuah kalimat yang begitu sirat makna yang berbunyi "Fatum brutum amorfati". Yang kiranya dimaknai sebagai "Cintailah takdir meskipun itu menyakitkan". 

Sering kali kita dengar mereka mengeluhkan takdir mereka yang tak indah. Tapi kita juga perlu bertanya, seperti apa takdir yang indah kalau mereka saja sering berkata bahwa bahagia mereka tak selalu sama?

Ada dua takdir yang menyertai kita sebagai manusia. Tuhan menitipkan kepada kita untuk menerimanya, juga memberikan kita ruang dan waktu untuk mencarinya.

Takdir pertama kali yang kita terima sebagai manusia ialah pasti dipilih untuk lahir ke dunia. Ke ruang yang sebelumnya kita tak tau ada apa saja di dalam sana. Kemudian kita lahir dengan takdir baru. Takdir di mana kita tidak bisa memilih terlahir dari keluarga yang seperti apa.

Mereka yang kita kira beruntung ialah mereka yang lahir dari keluarga yang bukan sekadar apa adanya. Yang mampu dapat apa yang mereka mau dan berbuat apa saja yang mereka suka.

Itukah takdir indah yang diinginkan banyak manusia? Mungkin memang iya. Tapi pastinya mereka pun sama. Mereka juga berjejak kepada takdir lain yang tak mereka suka. Mereka juga punya angan dan ingin seperti yang lain, yang punya apa yang mereka tak ada.

Baca Juga: Bicara Takdir

Tak usah banyak gulana memikirkan takdir yang sepertinya tak seindah milik mereka. Kita hanya tidak tau saja bagaimana mereka membawa diri mereka, membangun takdir lain, takdir yang diizinkan Tuhan untuk kita cari dan temui.

Pepatah Jawa juga mengatakan "Urip iku sawang sinawang". Ketika kita hanyut menginginkan kebahagian seperti yang dimiliki banyak orang, ternyata ada yang diam-diam menginginkan apa yang hanya dimiliki oleh kita seorang.

Hidup itu berjalan. Semua orang setuju akan hal itu. Yang sekarang banyak tertawa, mungkin tak selamanya akan bahagia. Yang sekarang banyak tangisnya, mungkin bisa saja diam-diam memiliki rencana untuk mengubah segalanya.

Maka, dalam hidup, kita tidak boleh terpaku dalam sebuah kedamaian dan kesenangan. Adam dan Hawa yang hidup bahagia dan tenang di surga yang penuh dengan segala yang bisa mereka minta saja, nyatanya ditakdirkan turun ke dunia karena memilih memakan buah terlarang yang tak sebanding dengan hal lain yang bisa mereka minta.

Maka dari sana kita harus mampu pahami, menjadi seperti apa yang kita inginkan, mampu dihadirkan dari apa yang kita lakukan. Takdir untuk terlahir memang tidak mampu kita minta. Namun kehidupan setelahnya, ada di tangan kita sampai takdir lain yang pasti menanti yaitu hari dimana kita mati.

Jadi, kita harus percaya bahwa hal baik akan menyertakan takdir baik, begitupun sebaliknya. Yang menjadikan kita beruntung ternyata adalah diri kita sendiri. Diri yang mampu melangkahkan kaki kepada ruang yang lebih baik lagi dan lagi.

Hidup harus bergerak, raga harus beranjak. Sebelum kita ditakdirkan untuk mati, Tuhan perintahkan kita untuk tidak berhenti. 

Bersabar, karena dalam hari-hari menjalani hidup ini, banyak hal-hal menarik yang menyertai. Susah, senang, sedih, tertawa, sakit, sembuh, dan banyak sekali hal yang tidak pernah punya tanda peringatan datangnya kapan.

Bersyukur, karena dalam hidup ini selalu ada yang lebih baik dari kita dibandingkan dengan mereka di sana. Segala yang diberi selalu ada alasannya. Itukah yang terbaik bagi kita atau itukah balasan yang sebanding dengan yang harus kita terima.

Jadikan pula ikhlas sebagai teman untuk sabar dalam menerima segala yang hadir dan mengantar segala yang pergi.

Tak ada yang berkata semua itu mudah untuk dirasa. Namun tak sedikit pula yang menerimanya dengan bahagia dan lapang dada. Mereka mengikhlaskan raga untuk selalu lelah dan hati untuk selalu kuat.

Mereka mungkin menangis dalam setiap malamnya, dalam setiap sujud dan doanya, dan dalam memulai langkah untuk menghadapi hari yang tidak mereka cintai seutuhnya.

Apalagi mereka yang benar-benar baja dalam menerima takdirnya sebagai manusia yang tidak sesempurna manusia pada umumnya. Kita tidak tahu bagaimana ingin menolaknya mereka seandainya mereka bisa meminta untuk diciptakan seperti apa.

Mungkin mereka memaki diri, lebih baik mereka tak pernah hadir di dunia ini. Mereka juga mungkin sakit hati dengan segala sulit yang mereka jalani. Tetapi, banyak dari mereka yang justru bertumbuh lebih dalam mencari jati diri dibanding kita yang diciptakan sempurna ini.

Dan ternyata, mencintai takdir dan hidup dalam rasa penerimaan adalah sebuah keberuntungan yang tak semua manusia bisa rasakan. Tidak semua manusia bisa hidup dalam perasaan kecukupan. 

Mungkin sudah saatnya, kita menjadi manusia yang meniti takdir dengan hati lapang dada. Menerima segala yang ada dan terus beranjak pada ruang yang sekiranya mampu membuat kita bahagia.

Mewujudkan takdir seperti apa yang kita pikir butuh hati dan raga yang sanggup ditempa dalam segala suasana. Berkecamuknya segala rasa harus sanggup kita terima. Jangan berhenti sebelum selesai.