Tahukah Anda bahwa umat muslim, utamanya muslim Indonesia, tak diperintahkan untuk melakukan sholat? Jika diperiksa kembali, urutan kedua pada rukun Islam juga tak mencantumkan sholat sebagai isinya. Ini berarti, umat Islam Indonesia tak lagi diwajibkan sholat. 

Heeem, beberapa dari Anda mungkin senang dengan kenyataan ini. Anda tak perlu lagi repot berkelit jika emak atau istri bertanya, “udah sholat belum?” Anda tinggal jawab, “Kan nggak wajib. Week!”

Ya, sholat memang tak wajib, setidaknya itulah kesimpulan yang akan didapat jika yang dirujuk adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sebabnya, kata “sholat" tak ditemukan di antara tumpukan kata-kata baku yang tersusun rapi di KBBI. Kata baku yang merujuk pada rukun Islam kedua menurut KBBI adalah “Salat”. Ditulis tanpa huruf “H” dan “O”. Sederhana saja, Salat.

Ini berarti, kata-kata lain yang biasa kita jumpai seperti ‘’solat” dan “shalat” adalah juga tak baku. Karenanya, kata-kata tersebut sebaiknya tak digunakan, utamanya pada tulisan-tulisan resmi atau akademis yang mensyaratkan penggunaan kata-kata baku di dalamnya.

KBBI mengartikan “salat” dengan dua penjelasan: pertama, salat adalah doa kepada Allah; kedua, salat adalah rukun Islam kedua, berupa ibadah kepada Allah Swt., wajib dilakukan oleh setiap muslim mukalaf dengan syarat, rukun, dan bacaan tertentu; dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.

Kata turunan untuk “salat” adalah “bersalat”, “menyalatkan”, “disalatkan”. Jika “salat” berarti menjalankan ibadah kepada Allah, maka “menyalatkan” diartikan sebagai melakukan atau mengerjakan salat untuk orang lain. Contoh, “Kasihan si Mukorona, tak ada yang berani menyalatkan jenazahnya sebab warga khawatir ia mati karena korona, padahal “Korona” adalah nama panggilannya sehari-hari”.

Baiklah, mari kita tinggalkan si Mukorona dan korona –termasuk orang-orang yang menganggap korona hanyalah konspirasi belaka (semoga Tuhan mengampuni orang-orang aneh ini). Kembali ke kata “salat”.

Penulisan “salat” yang dianggap terlalu sederhana ini sempat menimbulkan kontroversi. Salah satunya adalah ‘protes’ dari Latjnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) yang meminta agar kata “salat” ditulis “sholat”. Permintaan ini disampaikan oleh LPMQ kepada Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui surat resmi Nomor: B-25/LPMQ01/TL.02.01/2019.

LPMQ sebenarnya mengajukan total 12 kata yang mereka anggap perlu diperbaiki ejaannya. Di antara kata-kata tersebut adalah: “Kakbah”, “Zat”, “Istikamah”, “Baitulmaqdis”, dan “lailaturkadar” (tanpa spasi).

Menjawab permintaan ini, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan bergeming. Mereka tak menolak semua permintaan LPMQ, tetapi mereka juga tak mengiyakan seluruhnya. Permohonan LPMQ dibalas dengan surat nomor: 1513/62/BS/2019 yang berisi penjelasan dasar penyerapan kata ke dalam bahasa Indonesia.

Untuk kata “baitulmaqdis" dan "lailatulqadar” misalnya, dijelaskan bahwa huruf “q” tetap akan ditulis sebagaimana mestinya jika digunakan untuk menjelaskan nama diri. Huruf “q” hanya akan diganti dengan huruf “k” jika digunakan untuk menjelaskan keterangan selain nama diri, seperti: “istikamah”, bukan “istiqamah”.

Permintaan untuk menulis “salat” menjadi “sholat” ditolak dengan alasan transliterasi di bahasa Indonesia telah menetapkan bahwa huruf “shot” (ص) dan “tsa” (ث) diserap menjadi “s” saja, bukan “sho”, bukan pula “ts”. 

Karenanya, penulisan yang benar untuk ibadah yang dilakukan lima kali sehari oleh umat Islam yang rajin adalah “salat”, bukan “sholat”, apalagi “solat”. Begitu pula penulisan untuk serapan kata yang mengandung huruf asli “tsa” (ث), cukup ditulis dengan huruf “s” saja, seperti “hadis”, bukan “hadist”.

Sebagai catatan tambahan, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menekankan bahwa transliterasi hanya digunakan dalam konteks keagamaan saja. Namun ketika sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia, maka ejaannya mengikuti aturan yang berlaku.

“Penyerapan digunakan di KBBI sebagai ejaan baku saat suatu kata bahasa Arab sudah diserap menjadi kata bahasa Indonesia,” demikian penjelasan aslinya.

Tak hanya “salat”, ada banyak kata serapan dari bahasa Arab yang masih sering kita jumpai terpampang dengan ejaan yang tak sesuai KBBI. Beberapa di antaranya adalah:

  • Adzan (salah) – Azan (benar)
  • Assalamualaikum – Asalamualaikum
  • Dzuhur, Duhur – Zuhur
  • Ashar – Asar
  • Maghrib, Mahrib, – Magrib
  • Isha, isya’ – isya
  • Taraweh – Tarawih
  • Ta’jil – Takjil
  • Idul fitri – Idulfitri


Tak sesuai KBBI tak berarti pasti salah; ya tak sesuai dengan aturan baku, itu saja.

Karenanya, artikel ini tak dimaksudkan untuk menyalah-nyalahkan gaya eja pada tulisan yang berbeda dengan standar KBBI. Saya hanya mengingatkan bahwa kita punya KBBI yang berfungsi sebagai panduan dalam berbahasa, sehingga alangkah lebih baik jika kita dapat terus menggunakannya sebagai rujukan.

KBBI memang bukan kitab suci yang wajib dipatuhi; jika Anda merasa kurang pas dengan kata-kata yang disarankan KBBI, Anda tentu boleh menggunakan kata lain yang lebih pas bagi Anda, hanya saja Anda harus punya alasan kuat dan konsisten. Kecuali jika Anda sedang menulis untuk dokumen resmi atau karya akademis, Anda tentu harus mengikuti ketentuan di KBBI.

Soal “salat”, sekaligus sebagai penutup, saya ingin membagikan satu lagi informasi penting, utamanya di bulan ramadan ini.

Selama puasa, umat muslim hanya diwajibkan salat sebanyak tiga kali, bukan lima kali sebagaimana biasanya. Serius ini. Tiga salat itu adalah Subuh, Zuhur, dan Asar saja. Bagaimana dengan Magrib dan Isya? Ya keduanya dilakukan setelah tak berpuasa, alias habis buka puasa.