Pagi itu langit masih memerah, mengantarkan matahari membelah cakrawala dari timur ke barat untuk menerangi manusia di muka bumi. Di kompleks rumah Ahmad, terngiang suara ibu-ibu yang sedang membeli sayuran mengiringi kehadirat sinar matahari yang hampir setiap harinya dilakukan. 

Selain berbelanja sayuran, juga ibu-ibu itu biasanya akan membicarakan sesuatu hal yang amat penting sampai kepada membicarakan aib orang. Wkwkwkwk maklum, biasanya cerita itu wajib ada dalam setiap perkumpulan ibu-ibu.

Sinar surya baru saja membela kawanan kabut yang menutup kompleks rumah Ahmad yang tempatnya memang berada pada perbukitan. Ahmad adalah seorang mahasiswa semester 9 yang kuliah di salah satu kampus ternama di Kota Kendari dengan mengambil jurusan ilmu pemerintahan. 

Ahmad merupakan mahasiswa cerdas dan berprestasi, beberapa kali mewakili kampusnya untuk mengikuti lomba yang diadakan oleh kampus lain. Ia juga terlibat aktif di organisasi kemahasiswa di kampusnya, itulah yang membuat Ahmad cukup kritis dalam melihat berbagai persoalan bangsa ini.

Di semester yang cukup tinggi itu, Ahmad banyak bergelut dengan dunia pemerintahan sebagaimana jurusan yang ia tekuni. 

Menjadi mahasiswa ilmu pemerintahan merupakan satu kebanggaan yang dimiliki Ahmad, karena ia memiliki cita-cita menjadi pemimpin yang akan menciptakan negeri yang indah adil dan Makmur sebagaimana negeri-negeri yang telah lalu yang banyak di ceritakan dalam kisah-kisah.

Di kompleks perumahan tersebut, Ahmad tinggal bersama kakaknya yang lebih dulu berada di tempat tersebut. 

setiap pagi Ahmad selalu melihat kumpulan ibu-ibu yang berbelanja itu. selepas sholat subuh, Ahmad selalu duduk di teras rumah menikmati kesejukan udara pagi yang masih alami dan belum terkena polusi pabrik-pabrik nikel yang ada di Daerahnya. 

Setelah menikmati udara pagi, Ahmad juga sambil menunggu untuk mendengarkan pembicaraan ibu-ibu yang suka berbelanja sayuran. Ahmad cukup banyak mendengar keluh kesah, harapan, serta keinginan perbaikan kualitas hidup masyarakat.

“hee mamanya Lita” seru seorang ibu memberikan sesuatu “ko tahu kah, katanya BBM mau naik mi lagi.!!”

“iye saya sudah dengar mi di televisi, mau naik lagi BBM” jawab seorang ibu. “mau tambah naik mi lagi ini bahan-bahan dapur. Karena pasti berpengaruh dengan bahan pokok juga”.

“awasko mas kalau ko kasih naik sayur mu tidak ada mi yang mau beli itu.” respon seorang ibu dengan mengancam penjual sayur tersebut.

Sekilas mendengar perbincangan mereka, Ahmad tahu betul bahwa isu kenaikan BMM telah menjadi kehawatiran banyak orang. Mungkin bukan hanya di kompleks rumah yang ia tinggal, bahkan sampai ke penjuru Indonesia, kekhawatiran ini berlaku.

“Padahal keadaan masyarakat di negara ini, masih merangkak untuk kembali pulih dari adanya virus covid-19 yang mengakibatkan terjadinya kelumpuhan ekonomi di semua sector”. Imbuh Ahmad dalam hatinya dengan merasa kesal.

“Apalagi harga minyak dunia sedang turun, jadi tidak ada alasan pemerintah untuk menaikan harga BBM”. Ahmad terlihat kesal dengan alasan-alasan yang di keluarkan oleh pemerintah dalam memberikan alasan untuk menaikkan BBM. 

Dilain sisi, pemerintah lebih mengutamakan pembangunan kantor-kantor, infrastruktur seperti jalan raya yang di anggap tidak memiliki urgensi yang sangat mendesak.

Sebagai mahasiswa ilmu pemerintahan, Ahmad sangat menyadari bahwa kehadiran negara dan pemerintahan daerah dalam menyejahterakan, melindungi serta menjamin kelangsungan hidup orang banyak merupakan tugas negara yang tercatat dalam kitab Undang-Undang. 

Hal itu tidak boleh di langgar oleh pemerintah dan harus dilaksanakan. Karena dalam sistem pemerintahan demokrasi, rakyat merupakan pemegang kekuasaan tertinggi yang memiliki kewenangan tersebut.

Rakyat hari ini jadikan sebagai sapi perah, di mana rakyat di punguti pajak dari berbagai sector, namun masih saja belum bisa hidup tentram di negeri sendiri. sambal menyeduh kopinya, Ahmad Kembali bergumam di dalam hatinya.

“ini seperti yang dikatakan oleh Mansour Fakih” Ahmad sambil berteori dari seorang tokoh intelektual “seharusnya negara tidak lagi menggunakan konsep pembangunan (development) yang dimana-mana dilakukan pembangunan yang katanya untuk kesejahteraan rakyat. 

Seharusnya rakyat itu butuh di berdayakan dengan berbagai program kesejahteraan”. Kali ini Ahmad sangat serius membahas persoalan ini.

Ahmad meyakini bahwa masyarakat saat ini tidak terlalu membutuhkan, adanya pembangunan gedung yang bertingkat tinggi, jalanan yang mulus namun yang dibutuhkan 

ialah bagaimana masyarakat dapat di berdayakan dengan memberikan pelatihan soft skill, perlengkapan pertanian, pemberdayaan nelayan, status guru honorer, peningkatan hasil UMKM, akses pendidikan, pelayanan Kesehatan dan sebagainya itu perlu di dapatkan. 

Ahmad juga melihat adanya kongkalikong oligarki untuk mendapatkan keuntungan dari rakyat.

Sambil memanggil kakaknya untuk duduk bersamanya, Ahmad menjelaskan seharusnya pemerintah mampu keluar dari kungkungan oligarki dan memiliki kesadaran kolektif terhadap semua pemangku kebijakan di seluruh negeri ini.

“kak seharusnya itu pemerintah sadar semua, jangan jual ini negara kepada pemodal (oligarki), misalnya sumber daya alam (nikel. Batu bara, emas dll) diambil dan dibawah di luar negeri habis itu kita lagi yang beli hasilnya”. 

Ahmad terlihat emosi saat mengatakan kepada kakaknya apa yang harus dilakukan oleh pemerintah. Lebih lanjut ia mengatakan, justru kebijakan pemerintah di tengah krisis seperti ini dengan menaikan BBM dan mengalokasikan APBN kepada pembangunan, tidaklah tepat di saat seperti ini.

Dengan menggeser tempat duduknya Ahmad mengerutu “di tengah persoalan seperti ini, masyarakat di suruh mandiri, tanam cabai, bawang, sayur dll di suruh tanam di rumah. Bagaimana masyarakat mau mandiri sementara pengambil kebijakan tidak melakukan pemberdayaan sejak dini”. 

Masyarakat hari ini, justru di buat menjadi tergantung kepada pemerintah, selama ini yang terjadi ialah ketika mengambil sebuah kebijakan pasti di ikuti dengan adanya bantuan langsung tunai (BLT) sebagai kompensasi dari kebijakan yang berdampak kepada masyarakat banyak.

Tanpa di sadari hal itulah yang membuat masyarakat kita tidak bisa mandiri secara ekonomi. Karena yang terjadi ialah pemerintah tidak memberikan kail kepada nelayan, justru memberikan ikannya. 

Jika ikan itu habis, maka masyarakat tidak bisa lagi mencari ikan untuk di makan, akhirnya bergantung kepada pemerintah. 

Menurut Antonio Gramsci ini merupakan hegemoni yang dilakukan pemerintah untuk mengendalikan masyarakat (Ahmad Kembali berteori).

Tak terasa matahari semakin meninggi, Ahmad masih saja mengeluh dan menjelaskan Langkah yang bisa di ambil oleh pemerintah di tengah berbagai persoalan. 

Ibu-ibu yang juga tadinya berkumpul juga telah pulang ke rumah masing-masing. Ibu-ibu itu berhasil memancing kegundahan hati Ahmad yang sudah sejak lama melihat dan mendengar keadaan negerinya.

 “seandainya saya punya teko Ajaib seperti aladin, saya akan membuat masyarakat di dunia ini menjadi sejahtera, adil dan Makmur. 

Tidak ada lagi pengangguran, kriminalitas, orang sakit melarat, pendidikan akan merata, sumber daya alam akan di olah sendiri pokoknya akan saya perbaiki semua” Ahmad yang sambil menghayalkan negeri dogeng yang memiliki keindahan. 

namun sayang apa yang dihayalkan untuk kemajuan negerinya tidak seindah dengan negeri dogeng.