Saya amat suka mengamati perempuan itu. Bahkan, jika kamu mau mengatakan bahwa saya adalah seorang penguntit, saya tidak keberatan.

Kali ini saya sengaja mengikutinya. Saya tahu ada sesuatu yang membuat pikirannya penuh. Bisa jadi ada pula rasa gelisah yang mencengkeram benaknya.

Perempuan itu sudah beberapa waktu duduk termenung-menung. Saya sempat menyapanya, mengira ia linglung oleh suatu hal yang mengeruhkan pikirannya. Namun, tampaknya perempuan itu belum mau bercerita. Jadi, saya putuskan menunggu saja.

Saya cukup terkejut, meski sudah menduga sebelumnya, melihat perempuan itu mendekati saya. Ia meremas ujung kaos kuningnya. Ia berdeham. Sekali. Mungkin untuk menarik perhatian saya.

Saya mengalihkan pandangan dari buku yang saya baca. Seutuhnya siap menjadi pendengar. Perempuan itu kembali berdeham. Lalu berdeham kembali. Tiga kali. Berdeham sebanyak tiga kali.

“Saya sudah mengirimkan paket untuk kekasih saya.” Kalimat itu mengawali kalimat-kalimat yang akan disampaikannya pada saya. Saya mengangguk. Saya memberi isyarat agar ia duduk di kursi yang ada di hadapan saya.

Sebuah meja kaca memisahkan kami. Saya sangat paham bahwa meja itu teramat rapuh. Saya berharap jika perempuan itu hendak melakukan sesuatu yang berpotensi bahaya, itu bukanlah memukul meja.

“Paket itu sudah saya kemas sedemikian rupa hingga siapapun tak bisa mengetahui isinya. Saya yakin orang tidak bisa mencium baunya, maksud saya jika pun itu berbau. Sedemikian rapat saya membungkusnya, saya pun yakin tak ada yang bisa menerka isinya.”

“Kalau begitu, paket itu mungkin akan aman hingga ke tangan penerimanya.” Saya sebenarnya tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Apa peduli saya soal paket itu?

“Saya harap demikian. Apakah Anda bisa menduga apa isi paket itu?”

Saya diam. Kemudian saya menyetel ekspresi ingin tahu. “Apakah Anda mau memberitahu saya?”

Perempuan itu menatap saya. Lurus-lurus seolah ingin masuk menembus mata saya. Saya sih tidak merasa tergetar. Namun, tak urung saya berkedip. Sekali. Sialan.

“Paket itu berisi hati saya,” kata perempuan itu. Nada suaranya biasa saja. Hal itu membuat saya bingung harus terkejut atau ikut biasa saja.

“Hati? Hati dalam makna yang mana?” Saya akhirnya bertanya setelah perempuan tidak kembali berkata-kata.

“Hati. Perasaan. Pikiran. Semacam sesuatu yang terkait tentang saya dan kekasih saya. Saya sudah menatanya sedemikian rupa, meletakkan dalam kotak, membungkus, dan mengirim kepada dia. Ada yang istimewa dari paket itu. Isi paket itu tidak akan rusak hingga diguncang untuk keseribu kali.”

Saya terpana. Sungguh, tak pernah saya pikirkan ada seseorang yang berpikir dan melakukan hal semacam ini.

Mungkin karena melihat kebingungan saya, perempuan itu memutuskan memberi penjelasan. “Saya tahu sungguh tidak lazim mengirimkan perasaan saya padanya. Dia lelaki yang sungguh berbeda. Seseorang yang secara ajaib mengubah banyak hal dalam hidup saya. Dia serupa taman dengan kolam yang lengkap dengan katak melompat-lompat. Sungguh mengherankan ketika saya kemudian memutuskan membiarkan dia masuk, menyusup dalam pikiran saya setiap malam.”

Perempuan itu menghela napas. Saya melihat bahwa ada persoalan pelik di antara mereka. Jadi, saya memutuskan bertanya. “Kalau dia sedemikian dekat dan istimewa, mengapa kemudian Anda mengirimkan paket yang, mohon maaf saya harus mengatakan ini, paket yang tidak wajar itu?”

Perempuan itu menunduk. Jemarinya kembali meremas ujung kaos kuningnya. “Apakah Anda sudah tahu bahwa saya sudah lama membuat keputusan untuk tidak jatuh cinta?” Ia kembali memandangi saya. Saya balas memandang. Kami berpandangan.

Saya ingin tertawa. Namun, saya pikir tawa itu berpotensi membuatnya terluka. “Tapi, bukankah kita tidak bisa mengendalikan perasaan? Kita bahkan tidak tahu hingga tiba-tiba tersadar bahwa itu adalah jatuh cinta, cinta yang sesungguhnya, atau bahkan sialnya menjadi cinta yang bukan cinta?”

Perempuan itu mengangguk. “Itu sebabnya saya mengirimkan paket itu.”

Angin berkesiur. Saya sedikit menggigil karenanya. Sepertinya saya juga mendengar bunyi tokek yang ganjil. Atau semacam bunyi katak bernyanyi selepas hujan. Apakah saya sudah berubah menjadi taman dan kolam lengkap dengan katak yang melompat-lompat?

“Tapi untuk apa?” tanya saya. Saya dilema. Sesungguhnya saya tidak sungguh-sungguh ingin tahu. Saya khawatir pikiran saya tentang taman, kolam, dan para katak itu benar adanya.

“Supaya dia tahu bahwa saya menyerahkan apa yang saya simpan selama ini. Saya memberikan padanya. Saya tidak ingin dia merasa ragu dan bertanya-tanya. Itu sebabnya semuanya saya kemas semuanya dalam paket itu.” Perempuan itu tetap memandangi saya. Dari sorot matanya, saya tahu bahwa hatinya telah teguh tapi rapuh pada waktu yang bersamaan.

“Bukankah mengirimkan paket itu akan berbahaya untukmu?” Itu menjadi pertanyaan pamungkas yang bisa saya berikan. Segala ketidakmengertian ini mustinya selesai di sini.

“Iya. Saya bisa mendapatkan banyak hal buruk,” kata perempuan itu. Meski kalimatnya mengandung kebenaran yang mengerikan, saya tidak menemukan keraguan. Seolah ia memang sangat menyadari apa yang dipilihnya, hal yang dilakukannya.

Saya mengangguk. “Bukankah harapan itu memang harus diperjuangkan? Tak bisa hanya milik salah satu, maksud saya semestinya itu milik keduanya?”

Perempuan itu mengangguk. Ia mengalihkan pandangan ke utara. Mungkin ia mencari batas cakrawala. Saya hampir merasa percakapan berakhir. Namun, perempuan itu kemudian kembali menatap saya dan berkata, “itu sebabnya, saya kirimkan paket yang isinya baru bisa hancur jika diguncang untuk keseribu kalinya. Ya, sebuah paket yang isinya tak akan rusak hingga guncangan keseribu. Sebuah paket spesial untuk dirinya.”[]

 (JE kepada JR/ 7/4/21)